Wednesday, 17 August 2022


Selain Organik juga Zero Waste

06 Aug 2022, 07:03 WIBEditor : Gesha

Zero waste sapi | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- PMK memang telah melanda, sehingga ada beberapa ekor menjadi korban. Petani luar biasa sibuk menjaga ternaknya masing-masing. Ternak sudah seperti anggota keluarga.  Untuk menghindarkan ternaknya dari PMK mereka melakukan apa pun asal ternaknya selamat, baik dengan pengobatan, jamu, makanan bergizi dan bahkan mengisolasi ternaknya. Pertanian lebih organik dan berubah menuju pertanian Zero Waste, kata Asrori yang asli orang Temanggung. 

Mari belajar Organik dan Zero Waste dari Kabupaten Temanggung. Hampir semua petani di kabupaten ini memelihara hewan ternak sapi atau kambing. Paling tidak satu ekor tapi ada yang sampai beberapa ekor. Tidak hanya sapi lokal tetapi juga penggemukan sapi impor, dengan bobot 300- 600 kg/ekor. 

Hebatnya banyak kegiatan itu didukung oleh dana KUR, sumber kredit yang menjadi andalan di sektor pertanian. Pengembangan peternakan di Kabupaten Temanggung yang berbasis peternakan rakyat mendapat perhatian komprehensif dari semua unsur, institusi teknis dan lembaga keuangan.

Pakan itu mahal, apalagi konsentrat. Rumput pun semakin langka, untuk menanam sendiri terkendala biaya dan lahan. Dengan caranya sendiri, petani sudah memanfaatkan berbagai bahan yang sebelumnya tidak pernah digunakan untuk pakan ternak.

Jerami padi sekarang pantang dibakar karena ternyata kaya kandungan unsur hara dan bahan organik yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah. Sekarang jerami padi jadi makanan ternak setelah diproses dulu menjadi silase dengan menggunakan bahan pengurai sehingga lebih bergizi. Jadi jerami yang biasa dibakar itu sudah menjadi komoditas ekonomi. Ada gunanya, banyak diminta dan laku dijual.

Lalu apalagi yang dijadikan pakan ternak khususnya sapi? Rumput sudah pasti, kulit dan pohon kedelai, pohon, tongkol dan daun jagung, daun-daun kering, pelepah dan bonggol pisang, bahkan pelepah daun kelapa dan hampir semua sisa-sisa tanaman. Petani menggunakan mesin pencacah dan memproses sisa tanaman kering itu menjadi silase, pakan yang kaya nutrisi.

Kotoran ternak menjadi pelengkap pupuk kimia yang tidak hanya kaya unsur hara tetapi juga untuk menggemburkan tanah. Menurut Asrori, air kencing sapi juga menjadi pupuk yang laku dijual. Petani sudah mulai mengurangi pupuk kimia.

Mengubah waste menjadi byproduct yang berguna, atau mengubah sampah menjadi barang berharga sudah dilakukan petani. Mereka belajar dari Youtube. Alangkah baiknya kalau penyuluh setempat dapat memberikan informasi yang diperlukan petani dan mendorong kegiatan-kegiatan baru yang bermanfaat.

Sampah tidak perlu terbawa ke kota, kirimkan hanya produk pertanian yang sudah bersih dan tinggalkan sisa yang tidak perlu di desa untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kota terbebas dari sampah rumahtangga, dan biaya penghancuran sampah kota yang besar itu sebagian dialihkan untuk mendukung kegiatan produktif di pedesaan. Itulah perjalanan untuk menjadi Pertanian Organik dan Zero Waste yang dicita-citakan.

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018