Thursday, 22 October 2026


Pangan Kita

21 Aug 2022, 18:59 WIBEditor : Gesha

Warga Bogor menyerbu Gelar Pangan Murah Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Konsumsi makanan itu sebatas ukuran perut. Ada batasnya. 

Di negara kaya porsi pengeluaran untuk makanan terhadap pendapatan hanya sekitar 10-20 persen. Mereka mempunyai keleluasaan menggunakan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan lainnya selain makanan. Tapi siapa nyana, kegagalan menyediakan bahan pangan jadi faktor utama yang menghancurkan keutuhan suatu negara. Kini keresahan sedang muncul di kawasan yang merasa paling aman pangan ketika kekurangan bahan mulai terasa.

Di Indonesia porsi pengeluaran untuk pangan tersebut ada pada kisaran 40-70 (tergantung kelompok pendapatan), tapi dianggap dalam posisi baik dalam menghadapi kemungkinan krisis pangan global. Untuk keberapa kalinya pertanian menunjukkan dirinya sebagai sektor yang tahan banting dan dapat diandalkan termasuk dalam mengatasi krisis ekonomi sekali pun.

Dan bicara pertanian, paling relevan adalah bicara riset dan penyuluhan. Keberhasilan di bidang pertanian adalah berkat berperannya riset dan penyuluhan. Ironinya dua kegiatan tersebut saat ini mengalami pengurangan kegiatan dan anggaran yang signifikan.

Soal pangan memang memerlukan inovasi dan kreativitas yang tinggi. Tidak hanya soal teknologi biologi, teknologi budidaya untuk meningkatkan produktivitas dan produksi, tetapi menghadirkan sumber pangan baru dan penganekaragaman konsumsi pangan. Negeri ini mempunyai banyak bahan pangan yang berkualitas baik. Bagaimana membuat agar tersedia dalam bentuk dan rasa yang sesuai bagi konsumen. Riset dan penyuluhan akan berperan besar.

Reorientasi riset dan penyuluhan tentu saja diperlukan sehingga bisa memenuhi perkembangan kebutuhan pangan seiring dengan perubahan lingkungan dan perilaku konsumen. Sumber pangan lain yang potensial seperti sorgum, singkong, ubi jalar, pisang, kentang, sagu dan berbagai jenis kacang-kacangan, dapat dikembangkan menjadi alternatif makanan baru melalui pengolahan dan kreativitas menu.

Tantangannya semakin tinggi karena sumber pangan seperti jagung, ubikayu, dan gandum adalah juga sumber pakan dan bahan baku industri lain. Sementara produksinya tidak meningkat spektakuler bahkan sebagian harus diimpor.

Kretivitas juga diperlukan untuk meningkatkan konsumsi makanan sehat karena data menunjukkan konsumsi buah-buahan dan sayuran di negeri surga sayuran dan buah-buahan ini masih rendah. Lebih mengherankan, konsumsi ikan masyarakat kita juga tergolong rendah. Terpaut jauh jika dibandingkan dengan di negara-negara tetangga. Gerakan penganekaragaman B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman) tentu sangat diapresiasi. Program dan kegiatan yang sudah dilakukan sejak lama itu menghadapi banyak tantangan. Baik teknis maupun sosial.

Jadi, mampukah kita menghadirkan alternatif sumber karbohidrat yang mampu bersaing dengan beras dalam hal harga, mudah didapat, mudah disimpan, mudah dimasak, dan rasanya enak. Lalu bagaimana mengedukasi konsumen agar mereka mulai mengonsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman supaya kualitas kesehatan mereka meningkat. Jawabannya ada di riset dan penyuluhan.

Realisasi B2SA harus didukung dengan menyediakan bahan pangan alternatif tersebut di pasar agar konsumen mempunyai pilihan.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018