Sabtu, 01 Oktober 2022


Petani Tebu Masuk Program Makmur

03 Sep 2022, 13:30 WIBEditor : Gesha

Panen Tebu Program Makmur | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Program Makmur, yang sebelumnya bernama Agro Solution yang digagas Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), sekarang mencakup komoditas tebu yang sebelumnya lebih terfokus ke komoditas padi. 

Sangat ironi, pada era tahun 1930-an, produksi gula Indonesia mencapai 2,9 juta ton per tahun dengan luas area perkebunan tebu mencapai 196 ribu hektare. Namun pada tahun 2020 dengan luas area lebih dari dua kali lipatnya, produksi gula hanya mencapai 2,5 juta ton. Sebagian petani harus menanam tebu walaupun menanam padi lebih menguntungkan dan waktunya pendek, bisa dua bahkan tiga kali dalam setahun. Konon banyak petani yang akhirnya hanya menyewakan lahan ushanya.

Dalam Program Makmur, petani mendapat bantuan permodalan, bibit, pendampingan, asuransi, kepastian harga dan off-taker. Petani tebu tidak harus melakukan ratoon sampai berkali-kali, cukup tiga kali lalu dibongkar dan ditanam bibit baru varietas unggul. Ratoon yang "berkelanjutan" ini dianggap sumber masalah yang mengakibatkan produksi dan kualitas tebu rendah. Tetapi memang biaya tenaga kerja untuk tebang, olah tanah, angkut, termasuk biaya produksi di pabrik gula cukup tinggi sehingga Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) pernah mengatakan petani tebu menderita kerugian.

Bongkar ratoon meningkatkan produktivitas dan produksi tanaman tebu secara signifikan, dan juga rendemen gula. Tentu saja upaya ini harus sejalan dengan upaya petani yang lebih mementingkan profit dibanding produktivitas (Duroh, 2018). Akhirnya yang diperhitungkan oleh petani ada biaya, nilai hasil dan keuntungan.

Jika petani tidak memperoleh keuntungan dengan membongkar ratoon karena mahalnya biaya tenaga kerja untuk membongkar dan mengolah tanah, membeli bibit dan semua yang terkait dengan penanaman baru, dalam kondisi tanpa bantuan proyek, bongkar ratoon akan mengalami kendala. Bahkan sedikit perbedaaan keuntungan dengan menanam baru masih harus dipertimbangkan petani dibandingkan dengan kesempatan yang tersedia untuk bekerja di sektor lain jika tebunya dibiarkan ratoon.

Semoga Program Makmur pada komoditas tebu ini menjadi solusi, terus berkembang sehingga gula tidak menjadi masalah pemborosan devisa mengikuti impor gandum yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Satu hal yang perlu dillihat dengan baik dalam kasus ratoon yang mencapai belasan kali ini perlu juga dilihat aspek non teknis lain yang jadi penyebabnya. Sasaran utama untuk meningkatkan produksi gula nasional apakah sejalan dengan sasaran keuntungan yang akan diperoleh petani?

Program Makmur mempunyai kesempatan untuk mellihat aspek sosial-ekonomi lebih jauh untuk memperoleh informasi yang lebih akurat tentang penyebab menurunnya produksi gula di Indonesia.

Reporter : Memed Gunawan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018