Sabtu, 01 Oktober 2022


IP-600 Jadi Kenyataan, Kok Bisa?

09 Sep 2022, 13:50 WIBEditor : Gesha

Titin (berkerudung kuning) menunjukkan hasil maggotnya di TPST MBR Katulampa | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Pertanian sebagai penghasil pangan yang belum tergantikan mengalami ancaman akibat penurunan kualitas lingkungan. Perubahan kualitas tanah, iklim dan lingkungan pendukung memerlukan solusi agar pertanian tetap mampu menyediakan pangan yang cukup bagi penduduk dunia.

Soal bertani, menjaga kesuburan tanah, menangani hama, menangani resiko, pertanian yang ramah lingkungan dan menumbuhkan keragaman pangan, bagi petani bukan barang baru. Petani memang piawai soal itu. Hasil pembelajaran selama berabad-abad, ilmu dan pengalaman yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya menghasilkan teknologi genuin yang ramah lingkungan dan langgeng. 

Pupuk hijauan, kompos, kotoran hewan, teknik budidaya, terasering, kelembagaan pembagian air, pemberantasan hama, dan pergiliran tanaman adalah temuan masa lalu yang kehebatannya tidak terbantahkan. Integrated farming yang sekarang digadang jadi solusi sebenarnya sudah umum dilakukan petani. Satu local wisdom yang tidak luntur dimakan waktu.

Lihatlah petani padi yang tidak hanya mengelola tanaman utamanya tetapi selalu mengusahakan tanaman buah-buahan, tanaman obat, ayam, bebek, kambing, kerbau atau sapi dan kolam. Semua sisa dan limbah tidak ada yang tebuang sehingga tanpa sadar zero waste dan hemat input sebenarnya sudah lama dipraktekkan oleh petani kita.

Tumpang sari, mina-padi, long-yam itu semua bukan kebetulan, tapi terkait dengan diversifikasi usaha, penganekaragaman pangan dan antisipasi terhadap resiko kegagalan. Asuransi saat itu belum berkembang, tetapi petani menemukan caranya sendiri untuk mengantisipasi kemungkinan kegagalan.

Tumpangsari tanaman kedele, jagung, kacang-kacangan selalu menjadi model yang memberikan keamanan bagi petani pada pertanaman musim kemarau. Bahkan di lahan kering tumpangsari kedele, jagung, singkong, pisang dan tanam kayu menjadi pola umum. Petani bisa memanen secara berurutan, mulai dari kedele, jagung, singkong dan pisang. Tanaman kayu yang ditebang setelah berumur satu-dua tahun akan dibiarkan menumbuhkan cabang baru, dan siklus tanaman kedele, jangung dan singkong akan diulang kembali. Pola yang sungguh mumpuni.

Pola petani juga membuat kegiatan di lahan pertanian menyebar sepanjang tahun. Tidak ada kasus menunggu panen sehingga mereka harus mencari pekerjaan ke luar desa. Keseimbangan alam tereflekasikan dalam pola usahatani yang dilakukan petani.

Maggot yang dihasilkan tentara lalat hitam atau Black Soldier Flies (BSF) adalah satu inovasi yang menambah pengalaman baru kepada petani. Pada skala kecil, yang tidak memungkinkan mereka berbisnis maggot secara komersial, paling tidak akan memecahkan masalah integrated farming dan zero waste di tingkat petani. Maggot bisa menghancurkan sampah, menjadi pupuk dan pakan, bahkan menjadi sumber protein.

Jadi prinsip pengelolaan sumberdaya alam warisan leluhur yang genuin itu mampu memecahkan banyak masalah dan bisa menjadi pola cerdas dalam membangun pertanian masa depan. Seorang pegiat kreatif menerapkan pola integrated farming ini jadi pertanian yang efisien dan sekaligus menyenangkan. "Ini contoh IP 600," katanya. IP 600 ternyata bisa jadi kenyataan.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018