Kamis, 09 Februari 2023


Minyak Sawit Merah? Pekebun Sawit Rakyat juga Bisa!

26 Des 2022, 05:13 WIBEditor : Gesha

Minyak sawit merah | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Fluktuasi harga adalah pengalaman yang terus berulang. Harga jatuh pekebun merugi, menunda panen juga tak mungkin karena TBS busuk, tak berharga. Inilah ketidakberdayaan, karena itu pengolahan oleh petani, sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya menjadi alternatif. Lalu bagaimana peluangnya?  

Pekebun rakyat sejak dulu hanya mengerjakan kegiatan produksi dan menghasilkan bahan mentah, seperti tandan buah segar (TBS), getah karet, atau biji kakao. 

Sawit mempunyai pohon industri yang luas, mulai dari makanan, industri kimia, obat, kosmetik sampai dengan bahan bakar. Minyak kelapa sawit adalah bahan yang ideal untuk sabun, selain makanan, coklat dan kue kering, mi instan, sampo, dan bahkan biodiesel.

Proses pengolahan minyak sawit yang paling sederhana adalah menjadi minyak sawit merah seperti yang dilakukan di Afrika. Saat ini crude palm oil (CPO) diolah menjadi minyak makan yang jernih, tidak berbau karena sudah dideodorized oleh industri pengolahan skala besar. Tetapi kelapa sawit bisa juga diolah dengan teknologi sederhana menjadi minyak sawit merah yang ternyata mempunyai banyak keunggulan.

Pertama minyak sawit merah dapat diolah oleh petani dengan teknologi yang sederhana. Ini memberikan opsi bagi petani jika harga turun atau untuk mengatasi resiko TBS busuk karena terlambat dipanen akibat pasar tidak mendukung.

Kedua, minyak sawit merah kaya akan nutrisi karena masih mengandung beta karoten dan vitamin serta nutrisi lain yang diperlukan tubuh. Minyak sawit merah mengandung 50% asam lemak jenuh, 40% asam lemak tak jenuh, dan 10% asam lemak tak jenuh ganda. Menurut USDA, satu sendok makan (14 gram) minyak sawit merah mengandung 126 kalori.

Minyak sawit merah adalah salah satu sumber karoten alami terkaya, seperti alfa-karoten, beta-karoten, dan likopen. Dan minyak sawit merah memberikan kesempatan kepada petani kecil untuk memperoleh margin lebih tinggi serta buffer saat pasar tidak memberikan keuntungan pada petani.

Walaupun demikian, minyak sawit merah memiliki rasa dan bau yang agak menyengat. Perlu dilakukan proses pengolahan lebih lanjut agar lebih sesuai dengan selera konsumen. Diperlukan pula promosi yang gencar, selain dicari pola pengolahan dan pemasaran yang mampu bersaing dengan minyak sawit yang sudah refined, bleached, and deodorized (RBD).

Secara umum, perkebunan sudah perlu segera memacu bioindustri untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus meningkatkan margin. Sekarang inilah era bioindustri, yaitu melakukan pengolahan sumber daya alam hayati dengan bantuan teknologi bioindustri untuk menghasilkan berbagai macam hasil pertanian yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi.

Era ekspor bahan mentah produk perkebunan telah berlangsung sangat lama. Kita hanya memasok bahan baku untuk diproses negara lain memperoleh margin yang besar. Bioindustri harus menjadi fokus pengembangan produk perkebunan ke depan.

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018