Kamis, 09 Februari 2023


Kokod Monongeun

17 Jan 2023, 12:29 WIBEditor : Gesha

Petani dan campur tangan | Sumber Foto:Istimewa

Oleh : Memed Gunawan

Pemimpin Umum SINAR TANI 

Kokod Monongeun, istilah yang digunakan oleh Prof. Mohamad Surya (dan berikutnya oleh Idris Apandi) dalam tulisannya, adalah sebuah idiom dalam Bahasa Sunda, yang artinya sebuah pekerjaan atau hal yang tidak pernah matang atau selesai karena terlalu banyak tangan (kokod) yang mengurusinya.

Dengan menggunakan istilah yang sama, banyak contoh tentang kematian sebuah gagasan atau kegiatan karena ditangani terlalu banyak tangan. Dalam tulisan ini sengaja identitas pelakunya disembunyikan sehingga sah-sah saja kalau dianggap sebagai fiksi belaka.

Pada sekitar tahun 1980-an sebuah desa di kaki Gunung Ciremai terpilih sebagai desa terbersih sekecamatan. Tentu saja pak lurah merasa sangat bangga menerima pialanya.

Berikutnya, setelah beberapa kali kunjungan oleh tim dari kabupaten, terpilihlah desa itu sebagai yang terbersih sekabupaten. Dengan cara yang sama, melalui kunjungan dan penilaian yang lebih banyak, terpilih pula sebagai desa terbersih sepropinsi. Dengan kepopulrerannya, kunjungan demi kunjungan mengalir sehingga akhirnya pak Lurah tak sanggup lagi menerima tamu. Menyerah. Paradoks, kapok menjadi juara.

Kasus serupa tapi tak sama. Koperasi pertanian di daerah beriklim sejuk berhasil menghimpun petani untuk mengelola produksi sayuran sesuai dengan permintaan supermarket. Walaupun menggunakan sistem konsinyasi dan pembayarannya dua bulan sekali. Produksi berbagai sayuran diatur dan dijadwal, petani mendapatkan harga yang lebih baik dan tentu saja lebih menguntungkan. Mereka berhasil.

Tidak jelas apa alasannya, usaha yang tadinya berjalan atas prakarsa masyarakat itu tiba-tiba mendapat bantuan dari berbagai kementerian, berupa pelatihan di Jepang dan Thailand, peralatan, alsintan, benih, bangunan gudang, dan tambahan modal. Tetapi koperasi bukannya semakin maju tetapi semakin menurun kegiatannya. Paradoks.

Koperasi menikmati bantuan yang mudah dan menyenangkan tetapi tidak membesarkan kegiatan dan usahanya. Penghasilan utama bukan lagi dari usaha koperasi tetapi dari bantuan. Bantuan menjadi racun, seperti tanaman yang diberikan pupuk terlalu banyak sehingga akarnya menjadi kering dan akhirnya pohonnya mati.

Bisa jadi bantuannya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan, tidak memecahkan masalah yang esensial, jenis bantuan dari masing-masing sumber tidak sinkron, atau kemampuan manajemen tidak sesuai. Tetapi yang lebih penting dan menjadi penyebab utama jangan-jangan adalah karena masalah psikologis penerima bantuan sendiri.

Yang mereka perlukan sebenarnya pengetahuan dan kemampuan SDM, manajemen dan akses pasar agar mereka bisa mengembangkan usahanya secara mandiri. Ini sebenarnya yang dikuatirkan dengan memberi petani berbagai macam input gratis. Bantuan itu menjadi racun yang mematikan kreativitas dan tenaga juang dan semangat, serta menumbuhkan ketergantungan yang sangat membahayakan perkembangan usaha.

Oleh karena itu sangat diapresiasi Bantuan Inkubasi Bisnis Pesantren berupa implementasi dari program Kemandirian Pesantren yang digulirkan Kementerian Agama di bawah kepemimpinan Menteri Yaqut Cholil Qoumas sejak tahun 2020. Program tersebut telah terdesain dalam sebuah konsep besar yang dinamakan Peta Jalan Kemandirian Pesantren

Mereka menanggap bantuan kemiskinan membuat orang malas dan hanya menimbulkan ketergantungan. James Adam menilai bahwa program pemberian bantuan langsung tunai (BLT) dapat membuat warga yang menjadi penerima dapat mengalami ketergantungan kepada pemerintah.

Benar kata si Ince, seorang caregiver dengan pengetahuan sederhana dari NTT, tanaman muda itu jangan terlalu dimanja dengan air dan pupuk, biarkan dia sedikit sengsara sehingga akarnya memanjang mencari makanan dan akhirnya menjadi tanaman yang kuat.

Seperti juga pohon pisang. Anak-anaknya yang banyak di sekeliling induknya harus disebar, dipindahkan agar hidup sendiri, agar tumbuh besar, kuat dan memberikan buah yang banyak.

Seekor anak kucing pun kalau banyak dijamah tangan akan sakit dan bahkan mati. Bahkan seekor bayi kucing yang baru lahir, kalau dipegang oleh manusia akan ditinggalkan tidak diurus lagi oleh induknya sampai mati. Alam sebenarnya telah mengajari kita.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018