Jumat, 23 Februari 2024


Hama Penyakit, Kita Lupa Musuh Alami

07 Peb 2023, 00:40 WIBEditor : Gesha

Musuh alami penyakit padi

Oleh : Memed Gunawan

Kita hampir tidak memperhitungkan musuh alami ketika bicara hama penyakit tanaman. Bahkan secara sengaja atau tidak sengaja kehidupan musuh alami pertanian dirusak, akibatnya urusan hama penyakit semakin besar dan mahal.

Biaya penanganan hama penyakit tanaman padi merupakan porsi biaya produksi yang tinggi, mencapai 20 persen. Usahatani cabai, bawang merah dan sayuran memerlukan biaya penanganan hama bahkan lebih tinggi lagi.

Tidak mudah untuk menditeksi musuh alami hama, tidak semua orang bisa melakukannya. Musuh alami bisa serangga atau organisme lain yang mengakibatkan kematian, perlemahan, dan pengurangan potensi reproduksi.

Jadi bisa dalam bentuk predator, parasit atau patogen. Pada pertanian musuh alami biasanya berbentuk serangga, bahkan burung, ular atau kodok. Semuanya menjadi sasaran penangkapan manusia untuk dijual maupun dimakan.

Kementerian Pertanian (Kementan) menggunakan konsep Pengelolaan Hama Terpadu dengan mengetengahkan keamanan lingkungan, spesifik lokasi dengan sasaran produksi tinggi, organisme pengganggu tanaman terkendali, kualitas produk tinggi dan pendapatan petani tinggi. Walaupun demikian kita belum secara spesifik mengembangkan peran musuh alami.

Kita perlu mendidik petani dan masyarakat untuk mengenal hama secara totalitas, dengan penanggulangan yang rasional dan dengan memperhitungkan unsur biaya. Keseimbangan ekosistem tetap sangat penting sehingga tidak terjadi pemberantasan hama yang tidak terkendali, bahkan penangkapan burung, ular, kodok dan binatang lain berlebihan yang telah mengakibatkan perubahan ekosistem.

Di negara yang melarang pembunuhan binatang apa pun, seperti India, keseimbangan relatif terjaga. Penggunaan insektisida rata-rata per hektar di negara ini hanya 0,3 kg/hektar, Thailand 1,7 kg/hektare sementara di Cina 13,1 kg/hektare dan United States 2,5 kg/hektare. Di Indonesia penggunaan insektisida dan pestisida untuk tanaman padi dan sayuran cukup tinggi, seperti disebutkan di atas mencapai 20-25 persen biaya produksi.

Jutaan kelelawar pemakan serangga di daerah pertanian di Thailand ikut berperan dalam menekan populasi hama di negeri itu. Sayang di Indonesia populasi kalong dan kelelawar di berbagai tempat telah menghilang, demikian juga ular sawah, dan burung pemakan serangga menghilang karena ditangkapi dan dijual, sehingga akhirnya hama merajalela. Adanya inang yang tidak memutus rantai hama juga menjadi salah satu penyebab terjadinya ledakan hama.

Penggunaan bahan kimia berbahaya pada pertengahan abad lalu telah banyak menghilangkan mahluk hidup bermanfaat di dalam tanah, burung dan sungai. Penggunaan tak terkendali ketika racun digunakan untuk menangkap ikan telah menghilangkan kehidupan ikan di sungai-sungai. Kejadiannya terus berlanjut dengan adanya polusi dan limbah.

Perlu pengetahuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui dengan baik sifat hama maupun musuh alaminya. Oleh karena itu tepat sekali jika kebijakan dalam pengelolaan hama dan penyakit lebih mengetengahkan lingkungan dan memberdayakan SDM agar menerapkan cara-cara yang lebih alami.

 

 

 

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018