Selasa, 20 Januari 2026


Sekali lagi Mekanisasi

05 Apr 2023, 02:52 WIBEditor : Gesha

KUR Taksi Alsintan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -  Mekanisasi pertanian sudah sangat mendesak menghadapi urgensi peningkatan produksi pertanian, utamanya pangan. 

Mekanisasi dibutuhkan tidak hanya karena kekurangan tenaga kerja di sektor pertanian tetapi karena proses produksi harus lebih cepat, lebih baik dan lebih efisien agar produksi dan pendapatan petani meningkat.

Saat ini, jika diukur dengan HP/Hektar, penggunaan mekanisasi di sebagian besar lokasi di Indonesia masih rendah.

Satu kemustahilan jika kita ingin meningkatkan produksi masal dalam jumlah besar hanya dengan mengandalkan teknologi tradisional. Kita perlu mekanisasi dengan spesifikasi yang sesuai dengan skala usaha, jenis komoditas dan kondisi lahan.

Di sentra produksi yang sudah berkembang, produktivitas dan IP (Intensitas Pertanaman) sudah meningkat, tapi secara nasional pengunaan mekanisasi tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Thailand, Malaysia dan Vietnam.

Jangan dibicarakan dulu pertanian cerdas atau smart farming yang dikontrol komputer seperti di negara maju, walaupun sekarang teknologi ini pada kawasan terbatas sudah mulai diterapkan di beberapa lokasi.

Lalu bagaimana peran Taksi Alsintan yang digadang-gadang sebagai solusi. Sejauh mana keberhasilannya?

Pertanian di Indonesia dicirikan oleh tenaga kerja yang relatif melimpah, sehingga pada awalnya banyak menggunakan tenaga manusia dan hewan. Semakin berkurangnya tenaga kerja pertanian membuat mekanisasi penting segera dilakukan.

Performa Taksi Alasintan dilihat dari serapan anggaran KUR memang meningkat drastis. Plafon KUR di atas 100 triliun pada tahun 2022 segera tercapai dalam waktu belum setahun, siapa yang tidak tergoda?

Sistem dan mekanismenya memang sangat dipermudah, dengan bunga rendah hanya 3-6 persen setahun, jauh lebih rendah dari bunga bank komersial.

Pinjaman bisa sampai hampir dua milyar, bisa dilakukan oleh perorangan atau badan usaha, dan pembayarannya bisa dengan berbagai opsi. Jelas menarik banyak peminat.

Tetapi indikator outcomenya tentu saja bukan serapan kredit dan banyaknya alsintan, melainkan dampaknya terhadap pertanian, misalnya kemudahan petani memperoleh jasa alsintan, produksi pertanian meningkat, aktivitas ekonomi di pedesaan berkembang dan pendapatan petani meningkat.

Lalu tentang jumlah alsintan! Memang perlu informasi akurat tentang jumlah, bukan berupa akumulasi dari jumlah yang ada pada tahun-tahun sebelumnya.

Umur produktif alsintan ada batasnya dan akibat pemeliharaan yang tidak baik dan teratur, alsintan banyak yang telah tidak berfungsi lagi.

Diharapkan, Program Taksi Alsintan juga memicu perkembangan produksi alat mesin pertanian dalam negeri. Komitmen pabrikan alsintan dalam negeri cukup tinggi, walaupun demikian tentu saja diperlukan standar kualitas dan pelayanan yang baik.

Komitmen harus pula disertai semangat untuk turut memelihara dengan memberikan pelayanan pasca jual, menyediakan informasi, manual, sukucadang dan perbengkelan.

Intinya, kita perlu sistem yang tepat dan komitmen semua pihak. Bank pemberi kredit, perusahaan pemasok alsintan dan petani pengguna alsintan dan nasabah bank harus membangun sinergi yang saling menguntungkan dan saling membesarkan. Kita tunggu sejauh mana ini akan terbangun.

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018