Jumat, 12 Juli 2024


Usaha Pertanian Turun. Apa Artinya?

21 Des 2023, 09:21 WIBEditor : Gesha

Hardi , milenial Kota Batu yang kini membangun dunia usaha pertanian dengan komoditas jambu kristal | Sumber Foto:Dok. Hardi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Pada bulan terakhir tahun 2023 ini kita memperoleh data baru tentang pertanian kita. Hasil Sensus Pertanian 2023 telah dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Apa yang ada di benak kita ketika membaca Hasil ST2023 bahwa usaha pertanian yang didominasi oleh usaha perorangan turun 7,42 persen? Petani gurem meningkat 18,54 persen, usaha pertanian berbadan hukum (UTB) naik 35,54 persen, dan usaha pertanian lainya (UTL) naik 116,08 persen? Sementara porsi petani berumur lebih dari 55 tahun meningkat dan yang berumur kurang dari 44 tahun menurun.

Ini perubahan yang signifikan hanya dalam sepuluh tahun (2013-­2023). Lalu perhatikan UTB yang meningkat sebesar 35,54 persen itu sekitar separuhnya terjadi pada perkebunan kelapa sawit, dan UTL Urban Farming yang meningkat sebesar 116,08 persen.

Masih perlu dibahas dengan sangat teliti apa yang akan terjadi ke depan dengan hasil ST2023 ini. Tetapi kita mencermati bahwa petani gurem yang semakin banyak, assetnya semakin kecil adalah masalah tersendiri. Artinya tanpa dukungan kebijakan untuk akses pada permodalan dan teknologi yang memadai kehidupan petani ini tidaklah mudah untuk beranjak naik sesuai dengan harapan kita semua.

Padahal diketahui produktivitas pertanian lebih rendah dibandingkan sektor lain, terutama sektor pengolahan yaitu sebesar 1/6 dari sektor pengolahan.

UPB, yang diperkirakan mengusahakan lahan cukup luas diyakini akan menerapkan manajemen usaha lebih baik. Persentasenya meningkat walaupun masih di sekitar lerkebunan sawit.

UPL Urban Farming umumnya disertai fengan upaya pemanfaatan lahan yang lebih efisien, pemanfaatan teknologi yang lebih baik, penigkatan kualitas produk dan pertanian berwawasan lingkungan.

ST2023 menyebutkan.hanya 46,86 persen petani menggunakan teknologi moderen untuk budidaya pertanian. Yang menjadi kekuatiran dalam pengembangan pertanian jangka panjang adalah pelaku usahatani itu sendiri. Ada gejala bahwa angkatan kerja muda usia secara gradual meninggalkan pertanian.

Teori pushed and pulled factor yang pernah banyak dibahas pada tahun 1970­an muncul kembali dalam ingatan kita. Petani bisa terlempar dari pertanian karena penghasilan dari pertanian dianggap tidak menarik, atau sebaliknya tersedot oleh sektor non pertanian karena sektor non pertanian dianggap memberikan imbalan yang lebih menjanjikan. Misalnya gaji tetap dan berbagai jaminan kesehatan, pensiun dan kemanan kerja.

Kita belum melihat gerakan yang signifikan kelompok muda usia tertarik di pertanian, kecuali sebagian kecil dari mereka yang mengandalkan bekal pengetahuan dan modal besar. Mereka pun umumnya bergerak di bidang pemasaran dan pengolahan, bukan pada budidaya.

Pemasaran dengan platform bisnis digital, atau jika pada budidaya umumnya menggunakan teknik budidaya moderen untuk mengisi pasar khusus.

Kondisi dan kualitas SDM pertanian memang selalu menjadi kambing hitam. Mereka tidak siap untuk memasuki sektor formal industri dan jasa. Atau model perkembangan sektor non pertanian itu sendiri yang tidak bisa menarik tenaga kerja sektor pertanian, sehingga pulled faktor tidak berjalan?

Reporter : Memed
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018