Jumat, 14 Juni 2024


Tangani Cuaca Ekstrem, Jangan Biarkan Pemerintah Sendirian

22 Mei 2024, 16:41 WIBEditor : Herman

Ilsutrasi Lahan Sawah Kekeringan | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- El Nino maupun La Nina merupakan bencana bagi petani. Bisa mengakibatkan kekeringan, kebanjiran, bahkan longsor dan gagal panen. Selama ini penyaluran bantuan pun berupa benih, pupuk, alsintan dan bahan makanan mengalir ke daerah bencana. Dampak lanjutan bencana ini tentu pada penurunan produksi. Karena umumnya bantuan tersebut bersifat ad hock, lalu bagaimana program dan antisipasi penanganan jangka panjang?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino berakhir bulan April/Mei. Musim kemarau 2024 di sebagian besar wilayah Indonesia mundur dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebagian besar wilayah Indonesia, yaitu sebanyak 63,66% Zona Musim, akan memasuki periode musim kemarau pada bulan Mei hingga Agustus 2024.

Sedangkan di bulan Juni beberapa wilayah Indonesia tetap akan mengalami hujan. BMKG memprediksi ada daerah yang mengalami durasi musim penghujan lebih panjang. Demikian pula perubahan iklim global sekarang semakin menjadi kenyataan. Solusinya tentu bukan ad hock. Tetapi apa yang harus kita lakukan?

Kondisi alam kita juga telah berubah. Sungai kekurangan air, tanah mengeras karena kekurangan bahan organik, dan udara semakin panas. Kejadian itu sudah bisa diprediksi dan akan terjadi dalam jangka panjang sehingga memerlukan kepedulian semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah. Bagaimana kita menghambat dan menghadapinya tidak cukup hanya dengan menggantungkan diri pada bantuan pemerintah. Kita semua harus menyadari dan berbuat sesuatu.

Sosialisasi di tengah teknologi informasi yang canggih ini tidaklah mahal dibandingkan dampak kerugiannya. Bagi dunia pertanian penyuluhan tentang bencana dan perubahan iklim serta perubahan pola hidup dan mitigasi itu sejatinya terus dipacu sehingga masyarakat menyadari betul bahwa ada sesuatu yang mengancam kehidupan kita setiap saat.

Yang kita kuatirkan adalah penyuluhan mengalami degradasi yang serius setelah diserahkan kepada Pemerintah Daerah bahkan tidak dianggap prioritas. Penyluhan dianggap cost center yang membebani.

Anggaran untuk penyuluhan terus menyusut, operasional penyuluhan kurang mendapat dana yang memadai dan program pendukungnya seperti pendidikan, pelatihan dan penyediaan bahan penyuluhan tidak berjalan baik..

Yang jelas penyuluhan tentang perubahan iklim dan terjadinya iklim ekstrem belum terprogram dengan nyata.  Kerjasama antar pihak terkait dan peran masyarakat yang bersifat jangka panjang untuk membangun masyarakat yang peduli lingkungan seharusnya menjadi program utama dalam menghadapi perubahan iklim. 

Bantuan kepada petani  tentu sangat berguna tetapi tak mungkin menggantungkan sepenuhnya kepada pemerintah. Pemerihtah tidak harus bertindak sendirian tetapi masyarakat keseluruhan termasuk petani perlu mengetahui dengan baik fenomena perubahan iklim tersebut dan melakukan inovasi khas petani yang selama ini sangat berhasil dalam menangani berbagai permasalahan.

Penyuluhan yang anggrannya semakin kecil menunjukkan bahwa kegiatan penyuluhan mengalami pengurangan kegiatan signifikan. Tambahan  penyuluh dalam jumlah besar telah meningkatkan anggaran untuk gaji, sementara kegiatan mereka di lapangan kurang mendapatkan pendanaan. 

 

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018