Jumat, 14 Juni 2024


Pertanian dan Ketahanan Pangan Vietnam Menyalip Kita. Kok Bisa?

30 Mei 2024, 06:38 WIBEditor : Herman

Lahan Persawahan | Sumber Foto:Dok/ Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Pada tahun 1988 serombongan peneliti dari Vietnam datang dengan segala kebersahajaannya untuk mempelajari riset dan kebijakan pertanian di Indonesia dalam meraih swa sembada beras pada tahun 1984. Vietnam adalah negeri agraris seperti Indonesia. Ternyata dalam waktu singkat pertanian Vietnam menunjukkan kemajuan luar biasa.  

Pada tahun 1986 Vietnam masih bergantung  pada impor untuk memenuhi pangan domestik. Walaupun pembangunan pertanian Vietnam baru mulai pada era Doimoi tahun 1986, pada tahun 2004, pertanian dan kehutanan sudah menyumbang 21.8?ri produk domestik bruto Vietnam (PDB),  kemudian meningkat menjadi 42% pada tahun 1989. Bahkan tahun 2018  Vietnam sudah berhasil menempati peringkat ketiga setelah India dan Thailand dalam ekspor beras.

Vietnam menjadikan kebijakan Tam Nong Policy sebagai landasan pembangunan sejak tahun 2008 dan terus diterapkan hingga sekarang. Agribank Provincial Branch berperan besar dalam pengembangan pertanian dan  perdesaan, dan mennghasilkan dampak positif terhadap ekonomi masyarakat setempat.

Pemerintah Indonesia merumuskan beberapa kebijakan baru untuk mencegah krisis pangan yaitu dengan menjaga stabilitas harga pangan, memberikan bantuan kepada petani kecil berupa subsidi benih, pupuk dan peralatan, intensifikasi, meningkatkan produksi pangan dan membangun food estate.

Upaya tersebut berfokus pada pembangunan perdesaan dan pertanian, peningkatan produktivitas dan perluasan area, meningkatkan kapasitas produksi pertanian, daya saing dan nilai tambah hasil pertanian, diversifikasi sumber daya pertanian, pengelolaan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati, dan memperkuat kapasitas mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Sedangkan kebijakan ketahanan pangan Vietnam meliputi pengurangan pajak pertanian, biaya irigasi dan kerugian pascapanen dan bunga pinjaman. Pemerintah Vietnam menjalankan kebijakan yang lebih bersifat dan berdampak jangka panjang. Ini menarik dan perlu dikaji sejauh mana kebijakan semacam itu dapat mengurangi beban anggaran pemerintah.

Pelonggaran monopoli negara atas ekspor beras mengubah Vietnam menjadi pengekspor beras terbesar ketiga di dunia selain ekspor tanaman komersial lainnya antara lain kopi, kapas, kacang tanah, karet, tebu dan teh.

Ke depan Vietnam menekankan moderenisasi pertanian berkelanjutan, usaha skala besar dengan penerapan teknologi dan sains, peningkatan efisiensi kualitas dan daya saing, menjamin ketahanan pangan untuk jangka waktu pendek maupun panjang serta menyesuaikan dengan permintaan domestik maupun ekspor dengan target keberhasilannya tahun 2030.

Perencanaan irigasi di wilayah Mekong Delta dan Red River Delta berorientasi jangka panjang untuk tahun 2050. Didukung dengan aturan pembebasan pajak pada lahan yang digunakan pertanian, seluruh lahan penelitian dan produksi, lahan pertanian milik pemerintah dan masyarakat miskin, baik petani keluarga maupun individu yang berpartisipasi dalam produksi pertanian.

Di atas semua itu, kebijakan apa pun yang dipilih, kunci kesuksesannya adalah, rencana harus dilaksanakan dengan baik dan target harus diwujudkan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Mungkin itu yang dilakukan oleh Vietnam.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018