Thursday, 03 December 2020


Peternak Menderita Kredit Macet Pembibitan Sapi

17 Apr 2013, 05:51 WIBEditor : administrator
Jakarta - Ahmad Ali, peternak sapi dari kelompok peternak Palagan Rojokoyo, Desa Mbluri, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mengatakan menderita kerugian dari usaha pembibitan sapi brahman cross(BX). Bisnis ini merupakan program pemerintah.

Usaha ini diperolehnya setelah didatangi oleh pegawai Dinas Peternakan Jawa Timur yang merayu agar pria 61 tahun itu mengambil Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS) di Bank Jatim pada Desember 2010. Melalui KUPS, peternak dikenakan bunga rendah 5 persen. Bunga rendah karena pemerintah membantu menyubsidi bunga sebesar 6,5 persen.

Ali menerima tawaran itu. Sejurus kemudian Ali menerima kredit sebesar Rp 1,8 miliar. Namun, Ali disodorkan syarat sapi bibit yang dibelinya harus jenis sapi BX dan dibeli di importir tertentu. "Yang memerintah membeli sapi BX adalah pemerintah," katanya kepada Tempo Rabu pekan lalu, 10 April 2013.

Belakangan 100 ekor sapi BX yang dibeli Ali senilai Rp 12 juta per ekor itu beranak pedet dengan bobot tidak normal. Bahkan, indukannya gagal bunting lagi. Ujung-ujungnya Ali merugi karena setelah ditawarkan induk sapi dan pedetnya hanya laku sekitar Rp 5-6 juta per ekor. Padahal, Ali harus mengembalikan pinjaman bank beserta bunganya.

Apa yang dialami Ali juga terjadi pada Haryono, ketua kelompok ternak Bina Ternak di Desa Campursari, Magetan, Jawa Timur. Sapi BX yang dibibitkan gagal beranak pedet normal dan induknya tidak bisa bunting yang kedua kali. Setiohadi, peternak di Pacitan, juga mengalami kredit macet setelah sapi BX yang diternakkan gagal bunting meski diberikan kawin suntik berkali-kali.

Mantan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Prabowo Respatiyo Caturroso mengatakan banyak peternak merugi dan mengalami kredit macet. Menurut dia, kesalahan pemerintah adalah mewajibkan sapi BX sebagai bibit. "Sapi BX itu bukan bibit. Yang lebih tepat untuk bibit adalah sapi lokal seperti sapi bali," katanya. Akibat salah kebijakan ini, banyak peternak kecil merugi. "Bagaimana dengan nasib Ali-Ali yang lain itu masih banyak," kata Prabowo yang saat ini menjadi Staf Ahli Menteri Bidang Investasi Pertanian.

Dayan Antoni, Koordinator Dewan Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo), mengatakan sapi BX bisa dijadikan bibit. Syaratnya, sapi harus dilepas di lahan luas dan tidak boleh diikat. Dengan karakter seperti ini, sapi BX tidak cocok dengan karakter peternak lokal yang kerap mengandangkan dan mengikat sapi. Pemerintah dianggap gagal karena tidak memberikan pelatihan terlebih dulu kepada peternak lokal. "Kebijakannya dibuat instan," katanya.

Syukur Iwantoro, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, membantah institusinya mewajibkan peternak membeli sapi jenis tertentu. "Pembibitan boleh sapi impor, peranakan impor, atau lokal," katanya. Selengkapnya, baca majalah Tempo edisi Senin 15 April 2013.

AKBAR TRI KURNIAWAN | UKKY PRIMARTANTY
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018