Sabtu, 25 Mei 2019


Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Pala

11 Okt 2013, 20:29 WIBEditor : Ahmad Soim

 

Pala (Myristica Fragan Haitt) merupakan tanaman rempah asli Indonesia yang berasal dari Banda dan Maluku. Tanaman pala menyebar ke Pulau Jawa, bersamaan dengan perjalanan Marcopolo ke Tiongkok melewati Pulau Jawa pada tahun 1271. Sampai tahun 1295 pembudidayaan tanaman pala menyebar luas sampai ke Pulau Sumatera.

Untuk mencegah terjadinya penurunan produksi dan kualitas pala, perlu dilakukan antisipasi perlakuan dalam aspek budidaya, panen dan pasca panen. Salahsatu antisipasi yang perlu mendapat perhatian serius adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) terutama gangguan hama penyakit tanaman pala, yang perkembangannya sangat tergantung pada lingkungan alam sekitar pertanaman dan anomali iklim/cuaca yang sering berubah secara drastis.

 

Mengenal Hama dan Penyakit Tanaman Pala

Pengendalian hama dan penyakit tanaman pala dapat berhasil baik apabila status dan jenis hama (utama, minor, potensial dan migran) yang menyerang tanaman dapat diidentifikasi dengan cermat, serta memahami dengan baik jenis dan faktor penyebab penyakit tanamannya (tanaman inang, patogen, lingkungan dan manusia). Hasil identifikasi hama dan penyakit ini mempunyai nilai yang sangat penting dalam pengambilan keputusan untuk pengendalian hama dan penyakit sesuai prinsip dan manajemen pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT). Untuk mengetahui jenis-jenis beserta gejala yang ditimbulkan hama dan penyakit tersebut pada tanaman pala, diuraikan sebagai berikut:

Hama Tanaman Pala di antaranya adalah penggerek batang (Batocera sp). Jenis hama ini merupakan hama utama karena serangannya dalam waktu tertentu dapat mematikan tanaman pala. Gejalanya adalah membuat lubang gerekan berdiameter 0,5-1 cm pada batang yang berisi serbuk kayu.

Anai-Anai (Rayap). Rayap pada dasarnya tergolong hama minor, akan tetapi pada kondisi budidaya yang kurang baik hama ini dapat berubah menjadi hama utama. Rayap biasanya menyerang akar tanaman dan masuk ke pangkal batang sampai akhirnya masuk ke dalam batang. Gejala serangan awal biasanya muncul bercak hitam pada permukaan batang, setelah bercak hitam tersebut dilepas/dikupas muncul sarang dan saluran anai-anai.

Kumbang (Aroceum foriculatus). Kumbang tergolong hama utama yang perlu dikendalikan dengan baik karena serangannya sangat mempengaruhi kualitas buah. Ukuran hama ini kecil dan menyerang biji pala dengan menggerek biji kemudian meletakkan telur di dalamnya. Telur menetas dalam biji dan menjadi larva yang dapat menggerek biji secara keseluruhan.

Penyakit Tanaman Pala di antaranya: kanker batang. Penyakit kanker batang penyebabnya adalah patogen yang bersumber dari mikroorganisme. Pemicu utama penyakit ini adalah faktor lingkungan tanaman yang kurang bersih dan kurang terpelihara. Gejalanya yang mudah dilihat adalah pembengkakkan batang, cabang dan ranting tanaman.

Belah Putih. Penyakit ini disebabkan oleh patogen yang berasal dari cendawan Coroneum sp. Akibat dari penyakit ini buah terbelah dan gugur sebelum tua. Gejalanya terdapat bercak kecil berwarna ungu kecoklatan pada bagian kulit buah, selanjutnya membesar dan berwarna hitam.

Rumah Laba-Laba. Penyebab dari penyakit ini bersumber dari kerentanan tanaman pala itu sendiri atau bersumber dari tanaman inangnya. Sampai saat ini belum ada informasi yang jelas penyebab penyakit ini. Daun mengering diikuti mengeringnya ranting dan cabang tanaman merupakan gejala utama penyakit ini.

Busuk Buah. Penyebab penyakit busuk buah adalah patogen yang bersumber dari jamur/fungi. Penyakit ini dikategorikan dua macam penyakit yaitu:

1). Busuk Buah Kering. Penyakit ini umumnya ditemukan pada tanaman yang berumur 4 bulan ke atas. Penyebabnya adalah jamur Stignina myristicae dengan gejala berupa bercak coklat berbentuk bulat dan cekung dengan ukuran bervariasi mulai dari kecil sampai 3 cm. Pada kulit buah biasanya gugusan jamur yang berwarna hijau kehitaman yang selanjuntnya berubah menjadi bercak-bercak kering dan keras.

2). Busuk buah basah. Penyebab penyakit busuk buah adalah jamur Collectorichum gloesporiodes yang menyerang dan menginfeksi buah yang luka. Gejalanya adalah buah pala yang terserang tampak busuk, berwarna coklat, lunak dan basah. Gejala ini muncul di sekitar tangkai buah yang melekat pada buah, sehingga buah mudah gugur.

Gugur Buah Muda. Penyebab penyakit ini belum diketahui dengan jelas, apakah bersumber dari tanaman inang, patogen atau lingkungan. Gejala utamanya adalah gugurnya beberapa buah muda yang berlanjut dengan semakin banyaknya buah muda yang gugur.

 

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Pala

Setelah memperoleh hasil identifikasi dan mengetahui dengan jelas jenis hama dan penyakit yang menyerang tanamann pala, maka proses lebih lanjut adalah menyusun strategi dan langkah-langkah pengendalian hama dan penyakit tanaman pala dengan menerapkan kaidah-kaidah pengendalian hama dan penyakit terpadu (konsep PHT). Perlu diketahui bahwa penerapan konsep PHT pertimbangannya tidak semata-mata tergantung pada teknik pengendalian hama dan penyakit serta pengelolaan ekosistem tertentu, tetapi PHT juga sangat mempertimbangkan keberdayaan dan kemandirian petani pala dalam mengambil keputusan. Dengan demikian, pelaksanaan PHT di suatu daerah bisa jadi berbeda dengan daerah lain karena perbedaan kondisi sosial-ekonomi petani pala dan ekosistem setempat.

Sehubungan dengan itu, langkah-langkah pokok yang perlu diperhatikan dan dilakukan dalam pengendalian hama dan penyakit terpadu tanaman pala sebagai berikut : 1) Mengenal dan memahami status dan penyebab hama serta penyakit yang menyerang tanaman pala yang meliputi antara lain: perilaku hama, populasi, gejala, tingkat kerusakan yang diakibatkan hama dan penyakit tersebut; 2) Memahami ekosistem yang mempengaruhi perkembangan hama dan penyakit tanaman pala dengan menginvertarisir penyebab, sumber, sebaran dan musuh-musuh alamiah; 3) Penetapan ambang ekonomi serangan hama dan penyakit tanaman pala sebagai bahan pengambilan keputusan kapan seharusnya dilakukan pengendalian mekanis, fisik atau penggunaan pestisida sebagai alternatif terakhir.

Berikutnya, 4) Pengamatan dan pemantauan secara rutin dan terorganisasi untuk mengetahui kepadatan populasi dan tingkat serangan hama dan penyakit tanaman pala pada waktu dan tempat untuk pengambilan sampel yang tepat dan benar; 5) Peramalan hama dan penyakit untuk mengetahui gejolak populasi dan penyebaran hama penyakit tanaman pala terutama dalam hubungannya dalam ekosistem setempat; 6) Pengembangan strategi pengelolaan hama dan penyakit tanaman pala dalam upaya mempertahankan gejolak populasi dan tingkat kerusakan tetap berada di bawa ambang ekonomi; 7) Mengoptimalkan pengendalian secara biologi dengan memanfaatkan agen hayati asli setempat untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman pala; 8) Mengoptimalkan lingkungan melalui penerapan kultur teknis atau budidaya tanaman pala yang baik; 9) Penggunaan pestisida secara selektif sebagai alternatif pengendalian terakhir untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman pala.

Sebagai gambaran umum pengendalian hama dan penyakit tanaman pala secara konvensional yang banyak dilakukan selama ini oleh petani pala di berbagai daerah, dapat dilihat pada tabel berikut :

Untuk informasi yang lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (berlangganan Tabloid SINAR TANI.  SMS ke : 081317575066).

Editor : Ahmad Soim

BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018