Para petani yang terhimpun dalam wadah Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Jawa Timur kian mampu menunjukkan eksistensinya sebagai produsen kedelai berkualitas tinggi. Berkolaborasi apik dengan penyuluh pertanian, anggota Gapoktan bersemangat tinggi untuk dapat terus berkontribusi dalam peningkatan produksi kedelai secara nasional.
Besarnya partisipasi Gapoktan di Jawa Timur dalam mendukung upaya pemerintah meningkatkan produksi kedelai setidaknya tergambarkan dari penyelenggaraan kegiatan panen raya bahan baku utama tahu tempe itu di Desa Jati, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek belum lama berselang (12/10).
Digagas oleh Gapoktan Sido Mekar, panen raya pertanaman kedelai Program Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) tersebut berlangsung meriah dihadiri sejumlah pejabat tingkat pusat dan daerah, Komandan Kodim 0806/Trenggalek, Kapolres Trenggalek, peneliti, penyuluh serta pemangku kepentingan lainnya yang selama ini terlibat langsung dalam kegiatan Upsus Pajale.
“Penyelenggaraan kegiatan panen raya ini sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kami kepada semua pihak yang mendukung kami hingga pertanaman kedelai kami dapat tumbuh baik dan mendatangkan hasil yang memuaskan,” kata Ketua Gapoktan Sido Mekar, Muyanto dalam sambutannya di awal acara.
Di musim tanam (MT) III atau MK II tahun ini lima kelompok tani (Poktan) yang tergabung dalam Gapoktan Sido Mekar ditetapkan sebagai pelaksana Program GP-PTT Kedelai dengan total luas areal pertanaman mencapai 190 hektar. “Alhamdulillah hasil ubinan panen kali ini diperoleh 1,8 ton kedelai kering per hektar. Meningkat cukup signifikan dibanding tahun lalu,” jelasnya.
Tak hanya memperoleh hasil panen yang tinggi, karena kualitas biji kedelai yang dihasilkan juga baik maka menurut Muyanto, harga jual di tingkat petani juga lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Besaran harga jual mencapai Rp 6.100 – Rp 6.200 per kg sementara tahun lalu hanya sekitar Rp 5.000 per kg.
Peningkatan produksi hingga dua kali lipat serta tingginya kualitas biji kedelai di panen kali ini dinilai ayah dua anak itu antara lain karena benih yang disalurkan oleh pemerintah bermutu tinggi dan berlabel. “Sebelum mengikuti program GP-PTT kami hanya menggunakan benih asalan, karenanya tak mengherankan kalau hasil produksi dan kualitas biji kedelainya tak memuaskan,” tutur pria 49 tahun itu.
Satu hal lain yang juga dipandangnya mendukung pencapaian produksi yang tinggi adalah adanya pendampingan intensif dari penyuluh pertanian yang bertugas di desanya. “Terlebih sekarang ini pendampingan juga dilakukan oleh Babinsa dan mahasiswa juga dipantau ketat oleh pihak Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten,” tambahnya.
Sejak Perencanaan
Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan (Bapeluh) Kabupaten Trenggalek, Eko Wahyu Widodo, menjawab Sinar Tani mengemukakan bahwa pendampingan terhadap petani kedelai di wilayah kerjanya dilaksanakan sejak tahap perencanaan dimulai dengan secara bersama melakukan penyusunan RDK/RDKK serta CPCL.
Dengan adanya kerjasama yang baik maka program kegiatan GP-PTT kedelai dapat berjalan lancar dan segala permasalahan yang dijumpai di lapangan bisa cepat ditangani secara bersama. “Di MK II ini hama bisa dikatakan tidak ada, hingga pertanaman kedelai petani tak mengalami kerusakan sampai panen tiba,” ujarnya.
Di Kabupaten Trenggalek sendiri, menurut penuturan Kadis Perhutbun Kabupaten Trenggalek, Joko Surono, luas pertanaman kedelai tahun ini mencapai 4.500 hektar, terdiri dari 4.000 hektar melaksanakan program GP-PTT dan 500 hektar program Kegiatan Optimasi Perluasan Areal Tanam melalui Peningkatan Indeks Pertanaman (PAT/PIP).
Selama ini yang menjadi kendala dalam pelaksanaan kegiatan usaha tani kedelai di wilayahnya di samping kelangkaan tenaga kerja juga masalah ketersediaan benih berkualitas. Dengan adanya program pengembangan tanaman kedelai oleh pemerintah maka petani bisa mendapatkan benih yang bermutu sehingga praktis tahun ini rata-rata kondisi pertanaman bagus dengan daya tumbuh mendekati 100 persen. “Dan yang menggembirakan lagi ternyata produktivitas rata-rata bisa mencapai 1,8 ton per hektar, meningkat dibanding rata-rata tahun 2014 yang sebesar 1,7 ton per hektar,” kata Joko.
Kasubdit Kedelai Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi (Akabi) Kementan, Rita Mezu, dalam paparannya mengatakan bahwa Provinsi Jawa Timur merupakan penyumbang terbesar produksi kedelai nasional dengan kontribusi mencapai 34,61 persen. Produksi kedelai di wilayah ini pada 2015 (ARAM I BPS) mencapai 345 ribu ton biji kering.
Meski kontribusinya sudah besar namun Kementerian Pertanian terus melakukan berbagai upaya untuk dapat menggenjot produksi kedelai di daerah penghasil utama aneka bahan pangan kebutuhan masyarakat tersebut. Sejauh ini Provinsi Jatim mendapat alokasi kegiatan GP-PTT kedelai seluas 54.250 hektar dan PAT-PIP seluas 53.800 hektar sehingga total kegiatan pengembangan pertanaman kedelai dengan dukungan dana dari pemerintah pusat ini mencapai 108.050 hektar.
Fasilitasi dari pemerintah dalam program pengelolaan produksi kedelai tersebut berupa sarana produksi paket lengkap disertai dengan dukungan pembinaan, pengawalan dan pemantauan oleh berbagai pihak.
Dengan menjadi peserta program pemerintah diharapkan petani dapat menerapkan teknologi budidaya spesifik lokasi yang merupakan hasil rekomendasi dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) sehingga petani menjadi lebih terampil serta mampu mengembangkan usaha tani kedelainya. Ira
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto