Kaderisasi menjadi kata penting bagi Mukarom Salasa, penyuluh pertanian swadaya teladan 2015. Bagi lulusan Jurusan Fisika Universitas Brawijaya Malang tahun 2009 ini mengenalkan dunia pertanian sejak dini menjadi salah satu perhatiannya.
Mukarom mengatakan, dalam pembinaan dirinya tidak hanya memberikan pembinaaan dan penyuluhan kepada petani dan peternak, tapi memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada siswa sekolah sejak usia dini dengan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan. “Saya memberikan penyuluhan kepada siswa SD, SMP dan SMK,” katanya.
Tujuan Mukarom tidak lain adalah agar kaderisasi petani dan peternak berjalan. Kaderisasi petani dan peternak modern saat ini sangat penting. Pasalnya, saat ini para pemuda mulai tidak mau bertani dan beternak karena dari hasil pertanian yang kurang menjanjikan.
Dia menceritakan, setelah lulus kuliah dari Jurusan Fisika Universitas Brawijaya Malang tahun 2009, dirinya sudah bermimpi dan berniat memajukan desa yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai peternak dan petani. Hal yang membuat dia prihatin yaitu pendapatan masyarakat hanya mengandalkan hasil panenan atau penjualan kambing atau sapi.
“Untuk hasil harian mereka ada yang menjadi buruh mencangkul. Banyak warung makan di desa saya yang gulung tikar karena sepi pembeli. Bahkan warung makan yang baru beberapa minggu saja buka bisa tutup karena hal tersebut,” tuturnya. Karena itu masyarakat lebih menghemat pengeluaran karena tidak mempunyai hasil harian.
Padahal jika melihat sumberdaya alam di Desa Kemirigede, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar Jawa Timur dengan topografi wilayah yang berbukit dan tanahnya subur potensinya sangat besar. Potensi tanaman perkebunan seperti cengkeh, sawah, lahan palawija, lahan hijauan makanan ternak, hortikultura dan ternak kambing bisa menjadi sumber mata pencaharian masyarakat yang sebagian besar adalah petani.
Mukarom mengatakan, kebanyakan masyarakat Desa Kemirigede, Kec. Kesamben Blitar, masih bertani dan berternak secara tradisional. Masyarakat hanya bisa memproduksi belum mengolah dan memasarkan. Akibatnya, warga banyak yang merugi, karena biaya produksi lebih tinggi ketimbang hasil panenan.
Peningkatan Kegiatan Penyuluhan
Mukarom menjelaskan, seiring dengan kemajuan teknologi dan berkembangnya informasi, dunia pertanian dan peternakan harus dikombinasikan dengan teknologi informasi tersebut. Melalui website www.lembahgogoniti.com di samping dapat memberikan informasi penyuluhan secara luas dan biaya murah, ternyata ada efek positifnya. “Kita bisa memasarkan hasil-hasil dari pertanian dan peternakan sampai ke seluruh wilayah nusantara,” katanya.
Karena itu katanya, di era globalisasi seperti ini agar tidak kalah bersaing dengan pasar asing, Mukarom lalu mulai mencoba menggabungkan dunia pertanian dan peternakan dengan teknologi informasi dan pengembangan aplikasi pertanian dan peternakan untuk memudahkan penentuan kelahiran ternak, penentuan bobot ternak. “Saat ini saya sedang mengembangkan software recording peternakan,” ujarnya.
Untuk pengembangan usaha, Mukarom mulai mengembangkan usaha integrated farming, salah satunya peternakan, pengembangan tanaman buah, pengembangan tanaman hortikultura, pelatihan pertanian terpadu kepada instansi dan swasta
“Kami juga menjalin kemitraan dengan masyarakat desa, untuk pengadaan bibit ternak, pakan ternak, suplayer pupuk organik, menjalin kemitraan dengan pembenihan jagung,” tuturnya. Untuk pengembangan kegiatan-kegiatan baru, Mukarom mulai mencoba pengolahan limbah ternak, penyuluhan, pelatihan pertanian secara offline dan online, pengembangan tanaman sayuran organik. Yul
Penghargaan
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066