Jagung manis atau sweet corn (Zea mays saccharata Sturt) termasuk keluarga Graminae. Tanaman jagung manis tidak jauh berbeda dengan tanaman jagung biasa. Perbedaan yang mendasar adalah pada rasa dan kandungan gizi jagung manis yang lebih tinggi dibandingkan dengan jagung biasa.
Rasa dan kandungan gizi inilah yang membuat banyak konsumen menyukai jagung manis. Konsumen yang biasa mengkonsumsi jagung biasa mulai mengkonsumsi jagung manis, sehingga permintaan meningkat dan menyebabkan banyak petani yang menanam jagung manis. Jika dibandingkan dengan jagung biasa, sweet corn lebih peka terhadap hama dan penyakit.
Kandungan gula yang lebih tinggi pada tanaman jagung manis juga menyebabkan tanaman jagung manis lebih rentan terserang patogen dari jenis cendawan daripada tanaman jagung biasa karena cendawan lebih membutuhkan glukosa dalam penyerapan nutrisi.
Masalah utama hama dan penyakit pada jagung adalah ulat grayak, penggerek jagung, bulai, hawar daun, karat, bercak daun dan busuk tongkol. Penyakit yang diketahui paling merugikan adalah bulai. Penyakit bulai dapat mengakibatkan panen menurun hingga 90%, kegagalan panen, bahkan menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh sama sekali. Penyakit ini terutama menyerang saat musim hujan, ketika udara lembab. Cendawan patogen penyakit yaitu Peronosclerospora maydis. Tanaman yang terinfeksi pada waktu masih sangat muda biasanya tidak membentuk buah. Bila infeksi terjadi pada tanaman yang lebih tua, tanaman dapat tumbuh terus dan membentuk buah. Buah sering mempunyai tangkai yang panjang, dengan kelobot yang tidak menutup pada ujungnya, dan hanya membentuk sedikit biji. Tongkol yang hanya membentuk sedikit biji sangat merugikan petani karena tidak dapat dijual di pasar.
Pengendalian penyakit bulai dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan, pemusnahan tanaman terinfeksi, pencegahan dengan fungisida berbahan aktif metalaksil, pengaturan waktu tanam agar serempak, dan pergiliran tanaman. Pengendalian dengan fungisida dapat berdampak pada pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu dicari alternatif pengendalian lain.
Salah satu alternatif pengendalian yang dapat dipilih adalah pengendalian hayati yang ramah lingkungan. Salah satu pengendalian hayati yang sekarang sedang dikembangkan adalah pengendalian hayati dengan GUANO. Guano merupakan feses atau sisa metabolisme dari burung liar atau kelelawar yang kaya akan unsur hara seperti nitrogen, posfat dan kalium, bahkan guano kelelawar mempunyai kandungan fosfat yang terbesar. Oleh karena itu, guano kelelawar berpotensi sebagai pupuk organik, selain itu guano diduga mengandung beragam mikroorganisme seperti bakteri dan actinomicetes yang berguna untuk pengendalian penyakit tumbuhan maupun memacu pertumbuhan tanaman.
Para petani di Desa Cibatok dan sekitarnya telah membuktikan sendiri penggunaan guano sebagai pengendali penyakit bulai pada jagung manis. Bahan ini dapat dibuat sendiri, dengan cara membuat larutan 20%, artinya 20 kg guano dicampur dengan 100 ltr air dan ditambah gula merah sebanyak 5 kg, diamkan selama 15 hari. Dari hasil fermentasi tersebut gunakan 10 cc per liter air aplikasi pada umur 10, 25 dan 40 hari setelah tanam, didahului dengan perendaman benih jagung dengan mencampurkan 10 cc larutan guano dengan 1 liter air. Ir. Usnadi - Penyuluh Pertanian Swadaya Bogor
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066