Jumat, 16 Januari 2026


Sukses dari Sewa Lahan Menjadi Tuan Tanah dari Bertani Krisan

27 Okt 2015, 10:58 WIBEditor : Kontributor

Neneng petani krisan, Ketua Kelompok Tani Glorifarm yang beralamatkan Kampung Simpang RT 05 RW 03 Desa Pakuan, Kec. Sukaresmi, Kab. Cianjur. Jawa Barat secara singkat  mengubah hidupnya lebih maju setelah menekuni bertani bunga krisan.

Berbagai upaya kerja yang telah dilakukan seorang ibu rumah tangga beranak tiga (Neneng Shopiah) hingga tahun 1997 tidak memperlihatkan kemajuan hidupnya. Namun sejak akhir tahun 1997 dengan tekad yang kukuh Ibu Neneng selalu berusaha terus tanpa mengenal lelah, dan baru mendapatkan peningkatan hidupnya setelah menjalin hubungan sinergi kerja di kelompok tani yang menggeluti bisnis pada budidaya bunga krisan.

Desa Kampung Simpang pada awalnya merupakan daerah pertanian tanaman pangan dan hortikultura (sayuran). Mengingat produk tanaman pangan (padi dan sayuran)  mudah rusak dan bila panen raya harganya sangat jatuh bahkan untuk menggantikan biaya produksi saja tidak cukup. Ibu Neneng sebagai masyarakat kampung tersebut tidak kenal lelah untuk mencari informasi tentang tanaman apa yang dianggap mempunyai prospek ke depan yang lebih baik.

Wilayah Cipanas Cianjur sejak dulu adalah merupakan wilayah potensial produk hortikultura, ditambah juga adanya perusahaan-perusahaan florikultura dan Balai Penelitian Tanaman Hias di Segung Cianjur Jawa Barat yang semakin berkembang terutama “bunga krisan” dalam pengembangan dan mempromosikan produk florikultura khususnya bunga krisan yang didampingi oleh para peneliti (Balithi) dan penyuluh-penyuluh pertanian dari Dinas Pertanian Cianjur semakin meluas hingga di Desa Kampung Simpang.

Diawali dengan menyewa lahan seluas 2.280 m2 pada tahun 1997 seharga Rp 1.000,-/ m2 dengan total uang sewa lahan sebesar Rp. 2.280.000,- selama dua tahun Ibu Neneng menggeluti bisnis budidaya krisan. Ibu Neneng sebelum menjalin hubungan sinergi kerja di kelompok tani, rajin untuk mencari informasi mengenai inovasi teknologi tentang budidaya krisan. Adapun inovasi teknologi tersebut yang didampingi oleh beberapa peneliti dan beberapa penyuluh  pertanian dari Dinas Pertanian maupun swasta mengenai inovasi teknologi budidaya krisan yang baik sesuai SOP dan GAP antar lain adalah:

1. Membuat green house (rumah kaca atau plastik); 2. Mengolah lahan; 3. Membuat bedengan; 4. Memasang saluran irigasi; 5. Memasang jaringan penyinaran; 6. Memasang net tanaman krisan; 7. Menanam benih krisan; 8. Mengendalikan gulma; 9. Menyemprot pestisida dan zat pengatur tumbuhan; 10. Menyiram tanaman; 11. Mengoperasikan dan merawat peralatan yang digunakan untuk budidaya krisan; 12. Melakukan pemotesan kuncup; 13. Melakukan perompesan daun; 14. Melakukan pemanenan bunga krisan; 15. Melakukan sortasi dan grading; 16. Melakukan pengemasan; 17. Menyimpan bunga krisan dan lainnya

Ibu Neneng memang petani yang cerdas dan ulet dari inovasi tersebut hampir semua inovasi dapat diadopsi dan dikuasai dengan cepat, sehingga hasil usahanya agribisnis bunga krisan, produknya dapat diterima oleh pasar maupun perusahaan pengekspor. Produk yang dihasilkan pada awal mula dengan usaha agribisnis seluas 2.280 m2 tersebut  menghasilkan sekitar 100 ikat bunga potong/tiga hari dan dijual dengan rata-rata Rp 7.000,- sehingga mendapatkan hasil kotornya sebanyak Rp 7.000/bulan. Seiring dengan perjalanan agribisnisnya yang baru saja mulai berjalan tiba-tiba pada awal tahun 1999 sewa lahan usaha budidaya krisan habis kontraknya, Ibu Neneng mulai gelisah dan lahan tersebut sudah tidak lagi disewakan akan tetapi mau dijual.

Dengan keuletan ibu beranak tiga tersebut kemudian menjalin hubungan sinergi kerja di kelompok tani dan kemudian bergabung dengan Kelompok Tani Glorifarm, dari sinilah Ibu Neneng dipercaya untuk bekerjasama bank, dilihat dari agribisnis budidaya bunga krisan di wilayah Cipanas Cianjur Jabar dilihat layak. Ibu Neneng mengajukan proposal ke bank untuk mendapatkan pinjaman yang digunakan sebagai pembayaran jual beli tanah tersebut. Sehingga lahan yang semula disewa akhirnya dapat dimiliki untuk budidaya krisan.

Hari demi hari permintaan pesanan bunga semakin meningkat akan tetapi lahan usaha yang dimiliki tidak sebanding dan tidak bisa memenuhi permintaan pasar. Dengan kegigihan dan kecerdasan dalam meminit usahanya, utang-utang dari bank dapat diselesaikan pembayarannya lebih awal. Karena dilihat dari kelancarannya pelunasan hutang di bank maka Ibu Neneng mendapatkan tawaran pinjaman dua kali lipat dari awal pinjaman. Pada tahun 2002 Ibu Neneng mendapatkan kesempatan lagi untuk membayari tanah di sampingnya, karena usahanya bunga krisan semakin maju dan dipandang yakin oleh pihak bank maka lahan tersebut dapat dibeli dan dimiliki oleh Ibu Neneng.

Dari hasil ketekunan ibu beranak tiga tersebut hari demi hari semakin melejit karirnya di bidang pertanian dan didampingi oleh seorang penyuluh pertanian dari Dinas Pertanian Cianjur (Ir. Nanang Saripudin, M.Si) Ibu Neneng diikutkan dalam lomba-lamba kelompok tani bunga krisan dan hasilnya dapat menjuarai tingkat kabupaten, provinsi dan bahkan nasional. Adapun berbagai penghargaan yang telah didapat yaitu dari mulai Bupati, Gubernur bahkan Bapak Presiden. Memang ibu tani beranak tiga ini perlu dijadikan teladan dalam ber-agribisnis di bidang pertanian. Walaupun sudah mendapatkan berbagai penghargaan namun tidak berhenti begitu saja bahkan terus gigih memperjuangkan usahanya dalam kondisi apapun juga.

Dengan adanya iklim ekstrim sekarang ini yang dialami musim terang berkepanjangan dan bahkan air sumur yang dimiliki pun ikut kering, namun Ibu Neneng tidak gentar untuk melanjutkan bisnisnya bunga krisan tersebut. Untuk mengatasi permasalahan kekurangan air untuk menyiram tanamannya ibu beranak tiga tersebut berusaha untuk memenuhi kebutuhan air tersebut dengan cara memasang embung-embung air ke bagian petakan-petakan lahan di green housenya. Air yang digunakan untuk mengairi ke embung-embung tersebut didapat dari saluran-saluran air kecil di wilayah tersebut. Sebelum dialirkan ke dalam embung air tersebut dilakukan penyaringan lebih lanjut agar mendapatkan air yang bersih, kemudian dipompa dan dialirkan ke embung tersebut dan baru dipakai untuk penyiraman pada tanaman krisan. Dari usaha tersebut kebutuhan air untuk memenuhi kebutuhan tanaman dapat tercukupi.

Tekad yang kuat di dalam organisasi kelompok tani Ibu Neneng memimpin kelompok taninya lebih maju lagi. untuk menjalin hubungan sinergi kerja di kelompok tani yang lebih baik telah diterapkan kerjasama yang baik antara pengurus dan anggotanya, hal ini terlihat dari keseriusan Ibu Neneng dalam mengelola usahataninya.

Sebagai pengurus kelompok tani tentulah akan sibuk ke sana-ke mari, namun Ibu Neneng tetap gigih dan bahkan masih mampu untuk memimpin di lahan agribisnisnya dengan baik. Pola yang dapat diterapkan dalam mengelola agribisnis bunga krisan tersebut antara lain adalah diterapkannya kerjasama antara anggota kelompok yaitu mengenai kesepakatan pengelolaan usahatani baik dari mengolah lahan, menyiapkan benih, menanam, memelihara, mengendalikan gulma/hama dan penyakit serta memanen dilakukan oleh petani. Mengenai hasil dan harga jual yang diterima dari anggota taninya ditentukan oleh kesepakatan dari point yang ditetapkan bersama. Petani dijamin produksinya untuk dibeli oleh pengurus kelompok taninya. Petani fokus pada produksi, bahan dan alat sudah disiapkan oleh kelompoknya.

Usaha agribisnis yang dikelola Ibu Neneng seluas empat hektar, karena dengan kesibukannya Ibu Neneng dalam berusaha tani menyerahkan usaha ke keluarganya atau anak didik petani penggarap. Dalam kerjasama yang diterapkan Ibu Neneng agar saling menguntungkan dari kedua belah pihak di lahan usaha hanya diterapkan dengan cara:

  • Memfasilitasi semua kebutuhan dalam berusahatani krisan (lahan, green house, alat, bahan dan lainnya).
  • Mengajari teknologi yang digunakan dari hulu hingga hilir.
  • Membayar tenaga kerjanya sesuai dengan kesepakatan bersama, yaitu sebagai contoh petani yang mengelola di lahan usaha tani Ibu Neneng bila telah panen dibeli sebagai upah tenaga dengan harga bersih Rp 4.000/ikatnya.
  • Melakukan pola tanam berdasarkan petakan yang bertujuan untuk mengatur produksi dan permintaan pasar.
  • Menentukan varietas yang akan ditanam.
  • Memberikan pupuk dan obat sesuai dengan jumlah.
  • Menentukan jenis tipe bunga yang dipelihara sesuai dengan permintaan pasar apakah dibudidayakan secara tipe spray atau standar.

Dari rentetan kerjasama yang diterapkan oleh Ibu Neneng dalam mengelola usahatani tersebut dapat memberikan hasil yang dapat menopang beban yang dipikul dalam mendukung usahanya antara lain:

  1. Dapat mendapatkan hasil yang bermutu tinggi.
  2. Dapat membayar angsuran di bank.
  3. Dapat menggaji karyawan/petani penggarapnya.
  4. Dapat menyiapkan alat dan bahan pada tanam berikutnya.
  5. Dapat mensejahterakan keluarganya maupun mitra tani lainnya.

Dengan dilakukannya manajemen yang baik dan saling menguntungkan sehingga beban yang diangkat oleh Ibu Neneng dapat terpenuhi sesuai yang diprogramkan.

Informasi dari Ibu Neneng dalam berusaha tani seluas empat hektar dengan beban biaya yang tertanggung hingga kini bulan Oktober tahun 2015  setiap bulannya harus dapat membayar angsuran bank sebanyak Rp 12.000.000,- dan ditambah biaya operasional produksi yang akan dibayarkan sesuai dengan produksi yang dihasilkan oleh petani penggarap. Asumsi penggunaan biaya produksi sebesar Rp 4.000,- per ikat dan asumsi pemeliharaan rumah kaca dan lainnya diperkirakan sebesar Rp. 3.000.000,- per bulannya.

Kisaran hasil yang diperoleh secara kotor dalam budidaya krisan hingga bulan Oktober 2015 rata–rata produksi per bulan bunga krisan sebanyak 4.000 (empat ribu) ikat dan bila harga jual satu ikat mencapai Rp 8.000,- maka produk yang dihasilkan oleh usahatani Ibu Neneng sebanyak Rp 32.000.000,- dikurangi biaya-biaya (angsuran bank sebanyak Rp 12.000.000,- + biaya produksi Rp 16.000.000,- + Biaya pemeliharaan Rp 3.000.000,- = Rp 31.000.000) sehingga pendapatan bersih sekitar Rp 9.000.000,- per bulan.

Usaha agribisnis Ibu Neneng yang tadinya diawali dengan sewa lahan sekarang sudah terlihat jelas bahwa Ibu Neneng telah menjadi tuan tanah, hal ini dibuktikan dengan luasan lahan empat hektar yang dikelola dan hasil usahanya setiap bulan bisa menghasilkan produk yang bisa membiayai semua kegiatan dari hulu hingga hilir dan dapat mendapatkan hasil bersih Rp 9.000.000,- per bulan.

Dari hasil agribisnis bunga krisan oleh Ibu Neneng selain mensejahterakan keluarganya, mengangkat derajatnya dan mendapatkan berbagai penghargaan juga dapat membuat Ibu Neneng menjadi tuan tanah.

Di tulis oleh : Dalmadi

Sumber      : Teknologi SKKNI Krisan 2007 dan Laporan Hasil liputan TIM Krisan (Aryawaita, Saiful Hitizal dan H. Nanang 2015)

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018