Pertanian yang ramah lingkungan kini menjadi sebuah tuntutan dalam budidaya tanaman. Apalagi kini lahan pertanian banyak yang rusak karena terlalu sering menggunakan pupuk dan pestisida kimia.
Tergugah mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan, penyuluh pertanian bernama Ella Nurmawati yang lahir 23 November 1981, memperkenalkan konsep budidaya pertanian dengan Konsep 3H (Hemat Air, Hemat Pupuk dan Hemat Lahan).
Teknologi ini sebagai alternatif dan solusi masyarakat untuk mewujudkan bertani yang dapat diproduksi di lahan pekarangan dan lingkungan rumah tempat tinggal. Bahkan tidak mengganggu tanaman yang sudah ada, sehingga dapat dipadukan sebagai sarana edukasi lahan dan rekreasi serta ramah lingkungan.
Ella yang bertugas di Desa Balokang dan merangkap Kordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Banjar menilai, Desa Balokang mempunyai potensi untuk mengembangkan pembuatan pupuk organik dan POC maupun MOL. Sayangnya, potensi besar tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Misalnya bahan baku pupuk organik seperti kotoran ternak maupun urinenya, limbah tahu maupun limbah kopra yang cukup banyak.
Desa Balokang adalah salah satu dari tujuh Wilayah Kerja Penyuluhan Pertanian (WKPP) yang ada di Wilayah Kerja Balai Penyuluhan Pertanian (WKBPP) Banjar, Kecamatan Banjar, Kota Banjar. Luas keseluruhan WKPP Desa Balokang yaitu 453.103,17 ha dengan luas sawah 110.075 ha.
Dengan potensi yang ada tersebut, Ella lalu mengembankan pupuk bokashi jerami, POC limbah tahu, MOL, pestisida nabati, teknologi bottom up KRPL. Teknologi bottom up KRPL ini memanfaatkan limbah sampah seperti ember plastik, popok bayi dan sedotan plastik. “Wadah ember yang diisi air dalam bambu ini dapat bertahan lama dalam kondisi cuaca kemarau. Jika musim penghujan tanaman dijamin tidak ada yang tergenang banjir karena berada di dalam wadah ember,” katanya.
Salah satu kelompok binaan Ella yaitu Kelompok Tani Mekar Mukti bisa memasarkan beras dan pupuk organik di wilayah sekitar Kota Banjar. Dalam pembinaannya kelompok wanita tani diarahkan mempunyai usaha produktif skala rumah tangga yang memanfaatkan atau mengolah hasil-hasil pertanian agar dapat menambah penghasilan keluarga.
Setiap KWT memiliki usaha pembuatan olahan makanan dari bahan pangan lokal seperti sale dan keripik pisang, keripik singkong, opak, keripik tahu, rangginang, seroja, kue telur gabus dan dodol peuyeum. Bahkan KWT Kenanga sudah bisa memasarkan ke luar daerah Banjar.
Membangun Kelompok Tani
Ella menceritakan, pada awalnya kelompok tani di Desa Balokang perkembangannya kurang baik, dari segi administrasi dan sumberdaya manusia. Kelembagaan petani juga jumlahnya masih sedikit. Dia lalu berupaya membangun kelompok tani yang tangguh.
Saat ini alumnus IPB tahun 2004 ini mendampingi 15 kelompok tani yang berlokasi di Desa Balokang. Delapan kelompok merupakan kelompok tani baru dan tujuh kelompok tani lainnya sudah ada sebelumnya.
Selama Ella membina dan mendampingi kelompok tani di Desa Balokang ada beberapa peningkatan khususnya untuk tanaman padi, jagung dan kedelai. Produktivitas padi, jagung dan kedelai naik sebesar 30%, peningkatan sistem tanam jajar legowo 2 : 1 sebesar 30% dan peningkatan penggunaan pupuk organik, MOL dan pestisida nabati sebesar 50%.
Salah satu kegiatan yang sedang dilaksanakan adalah pemanfaatan lahan tidur untuk tanaman jagung dan menambah areal tanam di lahan tidur seluar 15 ha yang tersebar di Desa Balokang.
Ella juga aktif mengembangkan kemitraan para kelompok tani baik yang dewasa, taruna tani maupun kelompok wanita tani. Untuk mengembangkan SDM kelompok, para pengurus kelompok tani dan anggotanya juga ikut dalam kegiatan pelatihan maupun studi banding.
Dengan usaha kerasnya tersebut, Ella yang diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 2007 mendapat penghargaan sebagai Penyuluh Pertanian Teladan tahun 2015. Yul
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto