Kementerian Pertanian tahun ini membangun seribu desa mandiri benih, yakni desa yang mampu memenuhi semua kebutuhan benihnya di tingkat petani dalam wilayahnya. Caranya adalah dengan memanfaatkan segala sumberdaya yang dimilikinya secara efisien dan kearifan lokal.
Untuk menjadikan “Desa Mandiri Benih Padi” perlu ada kelompok atau petani mahir yang secara khusus dan fokus menjadi penangkar serta memproduksi benih padi bersertifikasi secara berkesinambungan. Agar dapat terwujud “Desa Mandiri Benih Padi”, ada banyak syarat yang harus dipenuhi dan tahapan yang harus dilalui, antara lain : pemilihan lahan yang tepat, persemaian, penanaman, pemupukan, pengairan, rouging serta panen dan pengolahannya. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagaimana berikut ini:
- Pemilihan Lahan. Lahan yang dipilih untuk produksi benih padi sebaiknya lahan bera atau bekas pertanaman varietas yang sama. Lahan yang digunakan harus subur dengan air irigasi yang baik. Isolasi jarak minimal antara dua varietas yang berbeda adalah 3 m. Isolasi waktu dapat dilakukan untuk memperoleh waktu pembungaan berbeda bagi pertanaman dari varietas yang mempunyai umur relatif sama. Isolasi waktu tanaman sekitar 4 minggu.
- Persemaian. Lahan persemaian bagian dari lahan penanaman. Teknik pembuatan persemaian adalah: A). Tanah diolah, dicangkul atau dibajak, kemudian dibiarkan dalam kondisi macak-macak selama minimal 2 hari, kemudian dibiarkan mengering sampai 7 hari lagi agar gabah yang ada di tanah tumbuh. Setelah itu tanah diolah untuk kedua kalinya sambil membersihkan lahan dari gulma dan tanaman liar; B). Buat bedengan dengan tinggi 5-10 cm, lebar 110 cm dan panjang disesuaikan dengan ukuran petak dan kebutuhan; C). Luas lahan untuk persemaian 4% dari luas areal pertanaman atau sekitar 400 m2 untuk setiap hektar pertanamannya; D). Pupuk untuk lahan persemaian adalah urea, TSP dan KCl dengan takaran masing-masing 15 g/m2. Sebelum disebar, benih direndam terlebih dahulu selama 24 jam, kemudian diperam selama 24 jam; E). Benih yang mulai berkecambah ditabur di persemaian dengan kerapatan 25-50 g/m2 atau 0,5- 1,0 g benih per m2 lahan; - Kebutuhan benih untuk 1 ha areal pertanaman adalah 10-20 kg.
- Penyiapan Lahan. Tanah diolah secara sempurna, pembajakan dilakukan dua kali. Bajakan pertama, digenangi selama dua hari dan dikeringkan selama 7 hari. Bajakan yang kedua, digenangi selama dua hari dan dikeringkan lagi selama 7 hari. Terakhir tanah digaru untuk pelumpuran dan perataan. Untuk menekan pertumbuhan gulma, lahan yang telah diratakan disemprot dengan herbisida pra tumbuh dan dibiarkan selama 7-10 hari.
- Penanaman. Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 15 - 21 hari, satu bibit per lubang; A). Bibit yang ditanam sebaiknya memiliki fisiologi yang sama, dicirikan oleh jumlah daun yang sama, misalnya dua atau tiga daun per batang; B). Jarak tanam 20 x 20 cm atau 25 x 25 cm bergantung pada kondisi lahan dan varietas yang ditanam; C). Bibit ditanam pada kedalaman 1-2 cm; D). Penyulaman dilakukan 7 hari setelah tanam dengan bibit dari varietas dan umur yang sama; E). Setelah tanam, air irigasi dibiarkan macak-macak (1- 3 m) selama 7-10 hari.
- Pemupukan. Takaran pupuk tergantung kondisi lahan. Untuk pupuk SP36 dan KCl takarannya disesuaikan dengan ketersediaan hara P dan K dalam tanah. Untuk pupuk urea, takaran dan waktu pemberiannya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dengan menggunakan bagan warna daun (BWD). Teknik pemupukan urea dengan menggunakan BWD adalah : • Pupuk dasar 50-75 kg urea/ha diberikan sebelum 14 hari setelah tanam (hst); • Mulai 25-28 hst sampai 50 hst lakukan pengukuran tingkat kehijauan warna daun tanaman padi dengan alat BWD dengan selang waktu 7-10 hari sekali. Bila tingkat kehijauan daun tanaman di bawah skala 4 pada BWD, maka berikan urea dengan takaran 50-75 kg/ha untuk daerah musim hasil rendah; 75-100 kg/ha untuk daerah musim hasil tinggi; 100 kg/ha untuk padi tipe baru (PTB). • Apabila pada fase antara keluar malai sampai 10% berbunga tingkat kehijauan daun PTB berada pada skala 4 atau kurang, berikan 50 kg/ha; - Pupuk P diberikan bersamaan dengan pemberian pupuk dasar urea; - Pupuk K, bila takarannya rendah (100 kg KCl/ha), maka 50% diaplikasikan sebagai pupuk dasar dan sisanya diberikan pada saat primordia berbunga; - Atau dapat dilakukan dengan pemupukan anjuran umum, yaitu 120-240 kg urea, 100-120 kg SP36 dan 100-150 kg KCl/ha dengan waktu pemberian sebagai berikut: • Pupuk dasar (pada saat tanam), 33% urea (40- 80 kg/ha), 100% SP36 (100-120 kg/ha); • Pupuk susulan I, 33% urea (40-80 kg/ha), 50% KCl (50-75 kg/ha); • Pupuk susulan II, 33% urea (40-80 kg/ha), 50% KCl (50-75 kg/ha).
- Pengairan. Selesai tanam, ketinggian air sekitar 3 cm selama tiga hari; - Setelah periode tersebut, air pada petak pertanaman dibuang sampai kondisi macak-macak dan dipertahankan sampai selama 10 hari; - Dari fase pembentukan anakan sampai fase primordia bunga lahan digenangi dengan ketinggian air 3 cm; - Menjelang pemupukan susulan ke I dilakukan lagi drainase dan sekaligus penyiangan; - Pada fase primordia bunga hingga fase bunting, lahan harus digenangi dengan ketinggian air 5 cm, untuk menekan pertumbuhan anakan yang baru; - Selama masa bunting sampai fase berbunga, pertanaman secara periodik diairi dan dikeringkan secara bergantian (selang-seling). Petakan sawah diari setinggi 5 cm, kemudian dibiarkan sampai kondisi sawah mengering selam dua hari, kemudian diairi kembali setinggi 5 cm dan seterusnya; - Pada fase pengisian gabah, ketinggian air dipertahankan sekitar 3 cm; - Setelah fase pengisian gabah, sawah secara periodik diairi dan dikeringkan secara bergantian; - Seminggu menjelang panen, sawah mulai dikeringkan agar proses pematangan gabah lebih cepat dan lahan tidak becek sehingga memudahkan saat panen.
- Penyiangan. Penyiangan dilakukan minimal 2-3 kali tergantung keadaan gulma. Penyiangan dapat menggunakan landak atau gasrok. Penyiangan dilakukan pada saat pemupukan susulan pertama atau kedua. Hal ini dimaksudkan agar pupuk yang diberikan hanya diserap oleh tanaman padi, dan tidak terjadi persaingan penyerapan pupuk dengan gulma karena gulma sudah dibersihkan.
- Pengendalian Hama dan Penyakit. Pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara terpadu. Wereng coklat dan tungro merupakan hama dan penyakit utama pada saat ini. Untuk itu beberapa hal yang harus diperhatikan dalam produksi benih yaitu: - Hindari penanaman di daerah endemis hama dan penyakit; - Apabila penanaman benih dilakukan di daerah endemis hama penyakit, terapkan teknologi PHT dengan pemantauan keberadaan tungro dan populasi wereng secara intensif; - Insektisida yang manjur untuk mengendalikan hama wereng coklat dan wereng punggung putih yaitu fipronil dan imidakloprid; - Pemantauan penyakit tungro dilakukan melalui pengamatan terhadap hama wereng hijau sejak di persemaian. Pada saat tanaman berumur seminggu setelah tabur, semprot dengan tiametoksan dengan dosis 2,5 g ba/ha atau dengan imidakloprid dengan dosis 0,5 g ba/ha untuk menghambat penularan.
- Rouging atau Seleksi/Pemurnian. Salah satu syarat benih bermutu adalah memiliki tingkat kemurnian genetik yang tinggi. Oleh karena itu rouging perlu dilakukan dengan benar mulai dari fase vegetatif sampai akhir pertanaman. Rouging adalah kegiatan membuang rumpun-rumpun tanaman yang ciri-ciri morfologisnya menyimpang. Pelaksanaan rouging dapat dilakukan mulai stadia vegetatif sampai stadia generatif. Pada saat Stadia vegetatif awal (umur 35-45 hst): a) Buang tanaman yang tumbuh di luar jalur/barisan; b) Buang tanaman yang tipe pertunasan awalnya menyimpang; c) Buang/cabut tanaman yang mempunyai bentuk dan ukuran daun berbeda dengan sebagian besar rumpun-rumpun yang lain; c) Buang tanaman yang warna kaki atau daun pelepahnya berbeda dengan rumpun tanaman yang lain; d) Buang tanaman yang tingginya secara mencolok berbeda dengan rumpun tanaman lainnya. Pada saat Stadia vegetatif akhir (umur 50-60 hst): a) Buang tanaman yang tumbuh di luar jalur/barisan; b) Buang tanaman yang tipe pertunasan awalnya menyimpang; c) Buang/cabut tanaman yang mempunyai bentuk dan ukuran daun berbeda; d) Buang tanaman yang warna kaki atau helai daun dan pelepahnya berbeda; e) Buang tanaman yang tingginya secara mencolok berbeda. Selanjutnya Stadia generatif awal/fase berbunga (umur 85-90 hst) : a) Buang tanaman/rumpun yang tipe tumbuhnya menyimpang atau berbeda dengan rumpun yang lain; b) Buang tanaman yang bentuk dan ukuran daun benderanya berbeda; c) Buang tanaman yang berbunga terlalu cepat atau terlalu lambat; d) Buang tanaman yang mempunyai eksisi malai berbeda; e) Buang tanaman yang memiliki bentuk dan ukuran gabah berbeda. Terakhir, Stadia generatif akhir (umur 100-115 hst) : a) Buang tanaman/rumpun yang tipe tumbuhnya menyimpang; b) Buang tanaman yang bentuk dan ukuran daun benderanya berbeda; c) Buang tanaman yang berbunga terlalu cepat matang; d) Buang tanaman yang memiliki bentuk dan ukuran gabah, warna gabah dan bentuk ujung gabah berbeda.
- Panen dan Pengolahan Hasil. Saat panen yang tepat adalah pada waktu gabah telah masak fisiologis, atau apabila 90-95% malai telah menguning; Pengeringan benih harus mencapai kadar air 10-12,5%; Pada saat panen, dua baris tanaman yang paling pinggir dipanen terpisah, dan gabah dari dua baris tanaman pinggir tidak digunakan sebagai benih; Lakukan pengukuran kadar air gabah pada saat tanaman dipanen dengan menggunakan moisture meter; Benih yang telah dikeringkan dimasukkan ke dalam kantong/karung dan diberi label yang memuat nama varietas, kelas benih, bobot benih, kadar air benih dan daya tumbuh benih.
- Pengemasan. Pengemasan benih selain bertujuan untuk mempermudahkan pendistribusian maupun transportasi, juga untuk melindungi benih selama penyimpanan serta menghindari serangan insek. Oleh karena itu, efektif tidaknya kemasan sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam mempertahankan kadar air dan viabilitas benih.
- Penyimpanan. Penyimpanan yang baik adalah yang mampu mempertahankan mutu benih seperti saat sebelum disimpan. Daya simpan dipengaruhi oleh sifat genetik benih, mutu benih awal simpan dan kondisi ruang penyimpan. Oleh karena itu, hanya benih yang bermutu tinggi yang layak untuk disimpan. Sedangkan kondisi ruang yang berpengaruh terhadap daya simpan benih adalah suhu dan kelembaban ruang simpan.
Dengan terpenuhinya semua persyaratan di atas akan menjamin kualitas dan ketersediaan pasokan benih bermutu. Sehingga, para petani di samping tidak lagi kesulitan dalam memperoleh benih sesuai kebutuhannya juga akan mendapatkan hasil panen sebagaimana yang diharapkan dan pada akhirnya kesejahteraan keluarga mereka menjadi lebih baik lagi. (Inang Sariati)
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066