Kamis, 22 Januari 2026


Menanam Padi di Pekarangan, Mengapa Tidak?

04 Nov 2015, 17:53 WIBEditor : Kontributor

Semangat swasembada pangan tidak hanya ada di pemerintah. Petani juga tak mau ketinggalan untuk mewujudkan target tersebut.

Salah satunya Tardi, salah seorang anggota Kelompok tani Tani Maju Desa Sukadana, Kecamatan Tukdana, Indramayu, telah mengembangkan tanaman padi legowo dua di lahan pekarangannya.  Pengembangan tanaman padi di pekarangan sebenarnya bukan merupakan hal baru, di Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya, karena sudah banyak diterapkan petani.

Di Kabupaten Indramayu tanaman padi di pekarangan telah banyak diperkenalkan kepada petani, namun perkembangannya masih terbatas.  Di Kecamatan Tukdana, menurut Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Tukdana,  Yoyo Hudaya, anggota kelompok tani yang berusaha seperti Tardi sebenarnya ada sebanyak lima petani yang tersebar di lima desa. 

“Namun yang terus-menerus mengembangkan pak Tardi. Jauh sebelumnya dia juga telah memanfaatkan lahan pekarangan dengan tanaman hias dan kangkung darat. Karena pendapatan kurang memuaskan, sejak musim tanam 2013/2014 pak Tardi mencoba beralih menanam padi di lahan pekarangan,” tutur Yoyo.

Tardi hanya memiliki lahan seluas 5 bata atau 70 meter persegi. Dia menyulap lahannya dengan menanam padi dalam polibag. Dari luas tersebut lahan pekarangannya mampu menampung 540 polibag tanaman padi. Sebagai wadahnya yaitu polibag dengan diameter 28 cm diisi dengan kompos. 

Sarana produksi yang disiapkan adalah kompos sebanyak dua trailer traktor untuk media tanaman sebanyak 540 polibag padi, 20 karung sekam dengan volume masing-masing 25 kg dan kompos enam karung @ 50 kg.  “Pemeliharaan tanaman padi di pekarangannya ternyata  lebih mudah dibandingkan di areal persawahan,” ujar Tardi.  

Berdasarkan pengamatan Tardi, umur tanaman padi dalam polybag mencapai 102 hari setelah tanam benih. Dari hasil sampel panenan jumlah rata-rata anakan 37  dengan berat 89,9   gram.  Dengan demikian dari luasan 70 m persegi dengan jumlah polybag yang ada sebanyak 540 buah, maka produksi padi yang dihasilkan mencapai 48,55 kg.

Dalam mengelola usahatani padi, Tardi tidak hanya mengejar produksi yang tinggi. Tapi bagaimana memperoleh pendapatan yang layak diterima petani.  Tanaman padi di pekarangan memerlukan biaya Rp 246.440. Sedangkan penerimaannya sebesar Rp 388.400  dengan demikian ada  keuntungan sebesar Rp. 141.960.  Bila dihitung B/C Rationya sebesar 1,58.

Edi Harnadi (Penyuluh Pertanian Madya Kab. Indramayu)/Yul

 

Analisa usahatani padi di pekarangan

No

Uraian

Volume

Satuan

Harga Satuan (Rp)

Jumlah Biaya (Rp)

Penerimaan (Rp)

A

Pengeluaran

 

 

 

 

 

1

Polybag

11

pak

11.000,-

121.000,-

 

2

Kompos

6

karung

16.000,-

96.000,-

 

3

Benih

0,040

kg

11.000,-

440,-

 

4

Pupuk Urea

2,5

kg

2.000,-

5.000,-

 

5

Pupuk Ponska

2

kg

3.000,-

6.000,-

 

6

Pupuk NPK

2

kg

9.000,-

18.00,-

 

7

Pestisida

-

-

-

-

 

 

Jumlah Biaya

 

 

 

246.440,-

 

B

Penerimaan

48,55

kg

8.000,-

 

388.400,-

C

Keuntungan

 

 

 

 

141.960,-

 

 

 

 

 

 

 

 

B/C ratio

 

 

 

 

1,58

Teknik Menanam Padi di Polybag

  1. Pertama-tama yang harus disiapkan adalah pembuatan media tanam yaitu mencampur tanah dua trailer traktor, 20 karung sekam @ 25 kg dan kompos 6 karung @ 50 kg.  Setelah tercampur merata tanah 2 trailer traktor, 20 karung sekam @ 25 kg dan kompos 6 karung @ 50 kg.
  2. Media tanah tersebut dimasukkan ke dalam polybag. Bersamaan dengan mencampur tanah benih padi dipersiapkan dengan direndam selama 2 hari, 2 malam dan ditiriskan selama 2 hari sampai benih tersebut ke luar bakal akarnya.  Banyaknya benih yang dibutuhkan yaitu 40 gram.
  3. Setelah ke luar bakal akar benih padi ditanam ke polybag dengan jumlah 1 biji per polybag. Adapun varietas padi yang ditanam adalah varietas cereh (beras merah). 
  4. Penyiangan dilakukan dengan manual setiap 3 hari sekali tergantung banyaknya gulma yang tumbuh.
  5. Pemupukan dilakukan pada saat 20 hari setelah tanam dengan urea sebanyak 2,5 kg dan ponska sebanyak 2 kg untuk 540 polybag. Setelah itu diberikan pupuk NPK pada saat 70 hari setelah tanam, pada saat pengisian bulir. 
  6. Pengairan dibutuhkan pada saat curah hujan kecil, dengan cara menyiram menggunakan semprotan. Jika curah hujan tinggi tanaman praktis tidak disiram.
  7. Pengendalian hama dilakukan dengan melihat perkembangan hama yang ada pada tanaman.  Pengendalian hama dengan pengamatan secara dini. Jika ditemukan hama langsung dibunuh agar mengurangi pengeluaran biaya. Hama yang menyerang, antara lain teklik atau busuk leher dan walang sangit. Edi Harnadi/Yul

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018