Penanaman padi terus-menerus akan menyebabkan hama penyakit ada sepanjang tahun. Ada cara mudah mengatasi hal tersebut yakni dengan menanam komoditi palawija, terutama kedelai.
Demikian tips dari Mujaini (52) Kepala Desa Bukit Dua, Kabupaten Seluma, Bengkulu yang juga petani palawija. Menurutnya, bertanam kedelai sebenarnya memberikan manfaat yang cukup besar dan berkelanjutan. Apalagi dengan pergantian jenis tanaman, rantai hama penyakit yang selama ini menyerang tanaman padi dapat terputus.
“Dengan adanya tanaman kedelai maupun jagung bisa memutus mata rantai hama dan penyakit serta menyuburkan tanah. Kami mencoba hal ini pertama dan ternyata hasilnya memuaskan,” ujarnya kepada Sinar Tani.
Mujaini mengatakan, selama ini petani di Seluma seringkali mendapati tanaman padi mereka terkena serangan hama dan penyakit, sehingga hasilnya kurang memuaskan. ”Saya sendiri punya lahan sawah yang sering terserang hama dan penyakit. Kadang hasilnya kurang memuaskan sehingga terpaksa hasil panennya kami konsumsi sendiri di rumah,” ujarnya.
Selama ini menurutnya, petani padi di Kabupaten Seluma menanami lahannya dengan padi sepanjang tahun dengan rata-rata panen tiga kali. Padahal menanam satu komoditas secara terus-menerus akan mengakibatkan hama dan penyakit tanaman padi bisa terus berkembang. Bahkan bisa mengakibatkan ledakan hama penyakit.
Kerugian lainnya adalah tanah yang ditanami padi terus menerus dapat berkurang kesuburannya. “Saya berpikir kenapa tidak menanam tanaman lain yang juga memiliki nilai jual tinggi dan memiliki pasar yang terbuka luas, di samping dapat memutus rantai hama dan penyakit yaitu kedelai,” ujarnya.
Program Pajale merupakan awal dari gerakan menanam kedelai di Kabupaten Seluma. Mujaini mengaku dirinya dan pemerintah kabupaten setempat merasa was-was saat akan mensosialisasikan gerakan menanam kedelai ini kepada petani. Tapi ternyata hasilnya menggembirakan karena sebagian besar petani mau menerima ide tersebut. “Pemerintah berperan aktif dan banyak membantu kami dalam melakukan kegiatan tanam kedelai ini,” ujar Mujaini.
Kepala Distanakbun Seluma, Rosman Efendi mengatakan, ada keuntungan bagi petani sawah yang areal sawahnya diselingi tananam kacang kedelai. Di antaranya, mampu memutus rantai penyakit tanah dan bisa menyuburkan tanah.
“Kalau dalam satu tahun tiga atau empat kali tanam padi, ke depan satu kalinya ditanami kedelai. Tanah jadi subur, dan mata rantai penyakit tanah bisa hilang,” jelas Rosman.
Bantuan untuk Petani
Untuk mendukung penanaman kedelai, Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan (Distanakbun) Seluma memberikan dana bantuan senilai Rp. 41,4 juta untuk membantu penanaman kedelai di 23 ha. Rinciannya 10 ha di Kecamatan Seluma Utara, 10 ha di Seluma dan tiga hektar di Seluma Barat.
“Dana untuk program tersebut sudah cair seratus persen. Total dana untuk 23 hektar lahan tersebut Rp 41,4 juta. Dengan perhitungan per satu hektar dibantu pemerintah Rp 1,8 juta langsung ke rekening Poktan,” ujar Dia menyatakan, lahan yang belum tertanam tersebut wajib ditanami. Terlebih lagi dana program sudah dicairkan. Baginya tak masalah panen di 23 hektar lahan tersebut dilakukan tahun 2016. Sepanjang penanaman dilakukan sebelum habis tahun 2015. “Tidak boleh ada yang tidak tanam. Semuanya harus ditanam tahun 2015 ini,” ujarnya.
Rosman mengungkapkan, hasil produksi kedelai dari 344 ha yang sudah panen di 13 kecamatan cukup tinggi. Rinciannya Seluma Barat 56,61 ton dari 111 ha, Seluma Utara 43,50 ton dari 50 ha, Talo Kecil 23,40 ton dari 58,5 ha dan Semidang Alas Maras (SAM) dari lahan 25 ha menghasilkan 16 ton kedelai.
Berikutnya Ilir Talo menghasilkan 13,78 ton dari 19 ha, Semidang Alas 12,60 ton dari 30 ha, Seluma Timur 9,7 ton dari 20 ha dan Seluma 5,55 ton dari 5 ha lahan. Kemudian Ulu Talo menghasilkan 5,20 ton dari 8 ha, Talo hanya 3 ton dari 10 ha, Air Periukan 1,46 ton dari 4 ha lahan, Sukaraja 1,03 ton dari 1 ha lahan dan Lubuk Sandi 0,50 ton dari 2 ha lahan.
“Kita masih menunggu panen di lahan 633 hektar lagi. Mudah-mudahan hasilnya memuaskan. Kalau bagus, satu hektar bisa mencapai 2 ton. Nah sekarang ini sudah ada yang rata-rata per hektar, 1,2 ton seperti di Air Petai,” ujarnya. Echa/Yul
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto