Tuesday, 27 October 2020


Pengembangan dan Pengelolaan Pakan Ternak

24 Dec 2013, 14:38 WIBEditor : Kontributor

Tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya pangan protein hewani terus mengalami peningkatan. Akibatnya permintaan daging sapi ikut meningkat. Diperlukan upaya dan teknologi khusus untuk penanganan pengelolaan hijauan makanan ternak agar terjadi peningkatan produksi daging sapi.

Hijauan makanan ternak merupakan sumber pakan utama bagi ternak ruminansia. Istilah hijauan makanan ternak (HMT) meliputi rumput, leguminosa, herba, semak. Kebutuhan bahan kering pakan hijauan makanan ternak sekitar 3% dari bobot badan ternak setiap harinya setara dengan hijauan segar seberat 15% bobot badan ternak. Hasil inventarisasi hijauan makanan ternak yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan jenis hijauan makanan dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian: 1) jenis rumput, 2) jenis leguminosa, 3) jenis hijauan lain dan 4) jenis limbah pertanian.

 

  1. Jenis Rumput

Rumput merupakan makanan utama bagi ternak ruminansia. Umumnya petani di perdesaan dalam memberikan pakan pada ternak ruminansia dilakukan secara tradisional. Jenis rumput yang biasa diberikan berupa rumput lapangan terdiri dari rumput pahitan, rumput kawatan, rumput lamuran, babadotan dan jajahean. Kandungan protein rumput lapangan sangat rendah 6-8%. Umumnya petani ternak di perdesaan memberikan rumput lapangan dengan jumlah yang sangat terbatas. Guna menghasilkan pencapaian bobot badan ternak yang optimal dianjurkan untuk memberikan hijauan makanan ternak berasal dari jenis rumput unggul. Beberapa jenis rumput unggul dapat menjadi alternatif pilihan yaitu rumput potongan dan rumput gembala. Rumput potongan terdiri dari rumput raja (Pennisetum purporepoides), rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput Australia (Paspalum dilatatum), rumput hamil (Panicum maximum) dan rumput setaria (Setaria splendida). Ciri khas dari rumput potongan terindikasi dari tanaman rumput tumbuh tinggi secara vertikal, banyak anakan dan mempunyai nilai gizi pakan yang cukup baik dengan kandungan protein kasar sekitar 8–10%. Rumput gembala terdiri dari rumput kolonjono (Panicum muticum), rumput BD (Brachiara decumbens) dan rumput BR (Brachiara ruziziensis). Jenis rumput gembala dapat dicirikan dari tanaman tumbuh pendek dan menjalar, tahan renggut dan injakan ternak serta tahan terhadap kekeringan.

 

  1. Jenis Leguminosa

Daun-daun tanaman leguminosa dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pilihan hijauan makanan ternak. Beberapa jenis leguminosa yang dapat dimanfaatkan sebagai hijauan makanan ternak di antaranya gamal (Gliricidia sepium), lamtoro (Leucena leucephala) kaliandra (Calliandra calothysus) dan turi (Sesbania glandiflora). Leguminosa merupakan jenis hijauan makanan ternak yang mengandung kadar protein paling tinggi mencapai 22%. Pemberian leguminosa pada ternak ruminansia dapat dilakukan secara tunggal atau dicampur dengan rumput atau hijauan lainnya. Selain dimanfaatkan sebagai hijauan makanan ternak leguminosa juga dapat digunakan untuk tanaman pagar, tanaman pelindung, kayu bakar, pupuk daun dan pencegah erosi.

 

  1. Hijauan lain yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak

Makin berkurangnya lahan pertanian dan sulitnya mendapatkan hijauan pakan ternak khususnya rumput dan leguminosa pada musim kemarau perlu dilakukan antisipasi dengan mengajak petani untuk mau melakukan diversifikasi hijauan pakan ternak pada ternak ruminansia. Hasil survey yang dilakukan oleh Balai Penelitian Ternak Bogor, 2004 menjelaskan beberapa petani di perdesaan di Pulau Jawa dan Sumatera Selatan sudah biasa melakukan diversifikasi pakan hijauan ternak dengan menggunakan hijauan pakan ternak sebagai pengganti rumput dan leguminosa.

Di sekitar lingkungan kehidupan petani ternak di perdesaan banyak ditemukan tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai hijauan makanan ternak pengganti rumput dan leguminosa. Beberapa jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai hijauan makanan ternak di antaranya daun nangka (Artocarpus integra), daun dan limbah pisang (Musa sapientum), daun bambu (Bambusa vulgaris), daun umbi ketela pohon (Manihot utilisima), daun waru (Hibiscus tiliaccus), daun umbi ubi jalar (Ipomea batatas poir), daun bunga sepatu (Hibiscus rosa sinensis), daun mangga (Mangifera indica), daun jambu air (Eugenia aquea), daun pepaya (Carica papaya) dan daun asem (Tamarindus indica). Nilai gizi hijauan makanan ternak sangat bervariasi antara 3%-6%.

 

  1. Limbah Pertanian

Ketersediaan hijauan makanan ternak di musim kemarau seringkali mengalami kendala kesulitan untuk mendapatkan rumput dan leguminosa sebagai makanan utama ternak ruminansia. Di sekitar kehidupan petani ternak di perdesaan banyak ditemukan limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti rumput dan leguminosa. Limbah pertanian merupakan hasil ikutan dari pertanian yang telah dipanen. Di beberapa daerah limbah pertanian sudah umum dimanfaatkan petani ternak sebagai hijauan makanan ternak yang berguna untuk kelangsungan kehidupan ternak. Beragam jenis limbah pertanian dapat dimanfaatkan untuk hijauan makanan ternak yaitu jerami padi (Oryza sativa), jerami jagung (Zea mays), jerami kacang tanah (Arachis hypogae), jerami kedelai (Glycine max) dan pucuk tebu (Saccharum officanarum). Pada saat musim panen limbah pertanian sangat mudah untuk didapatkan harga hijauan pakan pada saat musim panen murah bahkan cenderung tidak ada pengeluaran biaya pembelian hijauan pakan ternak. Artinya pada saat masa panen petani ternak mempunyai kesempatan untuk memperkuat penyediaan hijauan pakan ternak yang dapat disajikan dalam bentuk silage dan pakan amoniasi.

Kandungan gizi pakan limbah pertanian rendah sebagaimana dijelaskan Bambang Kushartono dan Nani Iriani yang mengadopsi penjelasan dari Lubis (1963) rendahnya nilai gizi pakan limbah pertanian sangat erat hubungannya dengan umur tanaman. Kadar protein gizi pakan limbah pertanian paling tinggi akan didapatkan pada saat tanaman belum menghasilkan bunga, lambat laun akan mengalami penurunan dan nilai terendah kandungan protein limbah pertanian pada saat tanaman menghasilkan buah.

 

Pembuatan Amoniasi Jerami

Rendahnya nilai gizi pakan limbah pertanian tentunya perlu didukung dengan penerapan teknologi hijauan pakan ternak. Salah satunya dengan teknologi amoniasi jerami. Jerami padi tersedia melimpah pada waktu musim panen dan sayangnya belum semua petani ternak mau memanfaatkan jerami padi sebagai pakan hijauan ternak dengan menerapkan teknologi amoniasi. Teknologi amoniasi jerami padi merupakan teknik penyimpanan jerami padi dengan menambahkan amonia yang ada pada urea. Amonia yang dikandung urea berfungsi untuk melarutkan mineral dan memuaikan serat kasar yang ada pada jerami padi guna meningkatkan kualitas kandungan gizi pakan jerami padi. Teknologi amoniasi jerami padi sangat mudah untuk dilakukan oleh petani dengan cara praktis dan biaya yang digunakan rendah. Selain teknologinya yang mudah dengan amoniasi jerami padi dapat meningkatkan kandungan protein yang ada pada jerami padi. Selain meningkatkan kandungan protein proses amoniasi pada jerami padi adalah menghambat pertumbuhan jamur yang ada di jerami padi, keuntungan lain dari proses amoniasi jerami padi adalah dapat memusnahkan telur telur cacing yang ada di jerami padi.

Didukung tersedianya jerami padi yang melimpah pada waktu panen mudah dan praktisnya penerapan teknologi amoniasi jerami padi memudahkan bagi petani ternak membuat amoniasi jerami padi. Pembuatan jerami padi dapat dilakukan dengan dua cara menggunakan bahan baku jerami padi kering atau bahan baku jerami padi segar.

Pembuatan amoniasi jerami padi kering secara sederhana dapat dilakukan oleh petani ternak di perdesaan sebagaimana dianjurkan Bambang Kushartono teknisi Litkayasa Pratama pada Balai Penelitian Ternak Bogor dengan acuan berikut :

  1. Timbang bahan baku jerami padi yang akan diolah dengan teknologi amoniasi jerami.
  2. Selanjutnya timbang pula urea dengan ukuran 4% atau 4 kg urea per 100 kg bahan kering jerami padi.
  3. Larutan urea dalam air dengan perbandingan 1 : 1.
  4. Kemudian lakukan penyiraman larutan urea ke seluruh bagian tumpukan jerami padi secara merata.
  5. Tahapan langkah berikutnya jerami padi dimasukkan pada tempat yang kedap udara, berupa kantong plastik, drum bekas, atau tower silo.
  6. Tahapan proses terakhir dari pembuatan amoniasi jerami padi kering adalah menutup rapat-rapat jerami padi kering yang sudah diberikan larutan urea dengan plastik, agar tidak terjadi kebocoran dan adanya genangan air.

Masa simpan proses amoniasi jerami selama satu bulan. Artinya setelah jerami padi disimpan dalam satu bulan baru dapat dibuka, kemudian diangin-anginkan sebelum diberikan pada ternak.

Selain melakukan pembuatan amoniasi jerami padi kering Bambang Kushartono juga menganjurkan pembuatan jerami padi basah yang dilakukan dengan tahapan berikut :

  1. Lakukan penimbangan bahan jerami segar.
  2.  Kemudian lakukan penimbangan urea dengan ukuran 1% atau 1 kg urea untuk 100 kg jerami padi basah.
  3. Tahapan berikutnya taburkan urea langsung pada jerami segar secara merata. Setelah semua jerami padi basah diberikan taburan urea ditutup dengan plastik atau lumpur sampai kedap udara. Setelah itu ditutup kembali dengan jerami.
  4. Setelah ditutup tahapan selanjutnya adalah menyimpannya selama satu bulan. Setelah satu bulan jerami padi dapat dibuka, kemudian diangin-anginkan sebelum diberikan pada ternak.

 

Amoniasi Jerami Padi Stok Pakan Ternak Sapi, Kambing dan Domba

Proses amoniasi jerami padi kering dan basah dianggap sempurna bila penampilan tekstur jerami padi relatif lunak dan mudah diputus, dengan warna kuning tua atau coklat, serta bau khas amonia yang menyengat. Untuk mengurangi bau amonia, jerami padi diangin-anginkan sebelum diberikan pada ternak.

Nani Priwanti Soeharto -  Penyuluh Pertanian PPMKP Ciawi

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018