Tuesday, 27 October 2020


Membuka Lahan Kebun Tanpa Bakar

08 Jan 2014, 11:00 WIBEditor : Kontributor

Membuka lahan tanpa bakar adalah amanah UU Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan Pasal 26. Dengan cara ini berarti menghindari meningkatnya jumlah emisi CO2, salah satu emisi gas rumah kaca (GRK) yang menyebabkan pemanasan global.

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia meningkat selama sepuluh tahun terakhir ini, sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia (yang disengaja atau karena lalai) juga karena kondisi yang sangat kering sebagai pengaruh terjadinya perubahan iklim global/makro yang melanda wilayah Indonesia. Kebakaran hutan menjadi ancaman tersendiri bagi negara yang bersangkutan maupun dunia secara umum. Telah dipahami bahwa hutan memegang peranan yang penting bagi keseimbangan hidup di bumi. Rusaknya hutan akan berdampak pada keberlangsungan semua makhluk hidup termasuk manusia. Oleh sebab itu, kelestarian hutan bukanlah sebuah pilihan tetapi sebuah keharusan. Angka statistik menunjukkan adanya fakta bahwa areal hutan hari demi hari semakin berkurang. Salah satu penyebabnya adalah kebakaran, baik itu yang terjadi secara alamiah maupun karena ulah manusia yang sedang membuka hutan/lahan untuk usaha pertanian ataupun perkebunan. Langkah penanggulangan kerusakan dan kebakaran hutan tentunya jangan membuka lahan/hutan untuk keperluan pertanian/perkebunan dengan cara dibakar. Bila hal ini tetap dilakukan bukan hal yang tak mungkin kelak bumi bukan lagi planet yang nyaman untuk dihuni manusia tetapi menjadi bumi yang panas membara.

 

Penyebab Kebakaran

Dalam banyak kasus, kebakaran hutan juga berawal dari kesengajaan manusia melakukan pembakaran hutan dan lahan yang akan dipergunakan untuk hutan tanaman industri (HTI), perkebunan, ladang, penggembala/pemburu yang ingin merangsang tumbuhnya rumput, pengusir lebah dari sarangnya oleh peternak lebah/pengumpul madu dan para perambah hutan. Pembakaran juga dilakukan pada lahan pertanian/perkebunan untuk membersihkan daun kering tanaman, sisa-sisa panen serta limbah tanaman pada calon lokasi lahan perkebunan/pertanian dalam kegiatan persiapan lahan. Karena kebakaran biasanya dilakukan pada musim kemarau dan kurang diawasi sehingga api mudah merambat ke kawasan hutan dan lahan sekitar yang menyebabkan kerugian baik ekologis maupun ekonomis. Selain ulah manusia, kebakaran hutan dan lahan, dapat pula terjadi pada musim hujan yang disebabkan karena kejadian alam yaitu halilintar/petir menyambar pohon yang bertajuk dalam keadaan basah (pohon pinus) sehingga menimbulkan kebakaran tajuk yang hebat pada hutan pinus.

 

Manfaat Pembukaan Lahan Tanpa Pembakaran

Hutan dan lahan merupakan sumberdaya alam yang bila dikelola dengan baik dan benar akan sangat bermanfaat bagi pembangunan nasional khususnya pelestarian lingkungan. Namun demikian pengelolaan hutan dan lahan sering diabaikan yang mengakibatkan terjadinya bencana dan gangguan seperti kebakaran hutan, banjir dan tanah longsor sehingga merusak lingkungan, menurunkan produksi dan menghambat pelestariannya.

Beberapa manfaat pembukaan lahan tanpa pembakaran adalah: 1) tidak menimbulkan polusi asap; 2) menurunkan emisi gas rumah kaca (terutama CO2) yang berdampak negatif pada perubahan iklim yang berpengaruh pada stabilitas ekosistem, aktifitas transportasi, komunikasi dan kesehatan manusia; 3) memperbaiki bahan organik tanah, kadar air dan kesuburan tanah terutama di areal yang sudah pernah ditanami sehingga menurunkan kebutuhan pupuk organik; 4) dalam jangka panjang pembukaan lahan tanpa pembakaran akan menjamin kesinambungan secara ekonomi dan ekologi; 5) untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kekeringan yang akan berdampak langsung kepada produksi tanaman, akibatnya hasil panen akan mengalami penurunan; dan 6) untuk pemulihan kualitas lingkungan yang berbasis pembangunan berkelanjutan.

 

Menghindari Meningkatnya Gas Rumah Kaca (GRK) Khususnya CO2

Gas rumah kaca (GRK) adalah gas yang memiliki sifat seperti rumah kaca yaitu meneruskan radiasi gelombang pendek atau cahaya matahari tetapi menyerap dan memantulkan radiasi gelombang panjang yang dipancarkan bumi yang bersifat panas sehingga meningkatkan suhu atmosfir bumi. Secara teoritis gas rumah kaca (GRK) di atmosfir bumi sangat penting, karena gas tersebut membuat iklim bumi menjadi hangat dan stabil. Tanpa GRK di atmosfir, suhu permukaan bumi diperkirakan mencapai -18 derajat Celcius. Tapi bila GRK di atmosfir bumi berlebihan, maka akan berdampak buruk, karena panas yang dipantulkan kembali ke muka bumi akan lebih banyak sehingga suhu bumi makin panas. GRK yang perlu mendapat perhatian adalah: 1) Karbon dioksida (CO2). Karbon dioksida sangat diperlukan tanaman untuk keperluan fotosintesis guna pembentukan karbohidrat. Namun dalam kondisi berlebihan, CO2 ikut berperan dalam peningkatan efek rumah kaca. Menurut perhitungan, CO2 mempunyai pengaruh paling besar terhadap pemanasan global dibandingkan dengan GRK lainnya. Sekitar 50% pemanasan global disebabkan oleh CO2 dan sisanya oleh GRK yang lain.

Emisi CO2 terbesar berasal dari penebangan dan pembakaran hutan, terutama dari negara-negara sedang berkembang di sekitar khatulistiwa. Sebagian dari CO2 akibat penggundulan hutan diikat oleh vegetasi hutan yang tumbuh kembali atau dari hutan yang masih tersisa. Selebihnya CO2 diemisikan ke atmosfir dan berkontribusi terhadap pemanasan global. Karbon dioksida adalah salah satu GRK yang konsentrasinya di atmosfir mendapat prioritas untuk diturunkan. Ketika revolusi industri baru dimulai, konsentrasi CO2 di atmosfir hanya 290 ppmv (part per million volume), dan saat ini konsentrasinya telah meningkat yang disebabkan karena tidak seimbangnya antara besarnya sumber emisi (source) dan daya rosotnya. Dengan membuka lahan tanpa bakar, berarti kita menghindari meningkatnya jumlah emisi CO2 merupakan salah satu emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.

 

Membuka Lahan Tanpa Bakar

Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 pasal 26 tentang Perkebunan, juga telah diamanatkan bahwa “setiap pelaku usaha perkebunan dilarang membuka dan/atau mengolah lahan dengan cara pembakaran yang mengakibatkan terjadinya pencemaran dan kerusakan fungsi lingkungan”. Pekerjaan dan alat yang dipergunakan serta teknis pelaksanaan dalam pembukaan lahan tergantung pada kerapatan vegetasi dan cara yang digunakan.

Untuk membuka lahan tanpa bakar pada areal hutan/semak belukar, hampir sama dengan cara pembukaan lahan tanpa bakar pada areal peremajaan kelapa sawit. Pekerjaan dan alat yang dipergunakan serta teknis pelaksanaannya tergantung pada kerapatan vegetasi dan cara yang digunakan. Ada tiga cara membuka lahan pada areal belukar yaitu cara manual, mekanis dan kombinasi antara manual-mekanis-khemis.

Cara manual, yaitu kegiatan pembukaan lahan dengan tahapan sebagai berikut: 1) Membabat rintisan yaitu memotong dan membabat vegetasi dengan menggunakan parang; 2) Menebang dan merencek (mencincang) batang kayu yang besar dengan menggunakan parang, kapak atau gergaji; 3) Membuat pancang jalur, yaitu jalur tanam yang dibuat menurut jarak antar barisan tanaman, yang dimaksudkan untuk memudahkan pembersihan jalur tanam; 4) Membersihkan jalur tanam, yaitu membersihkan hasil rencekan yang ditempatkan di antara jalur tanaman dengan jarak 1 meter di kiri-kanan pancang, sehingga didapatkan jalur yang bersih dari potongan kayu-kayuan.

Cara mekanis, cara ini dilakukan untuk areal yang memiliki topografi datar dan berombak. Cara penebangan umumnya dilakukan dengan traktor dengan tahapan sebagai berikut: 1) Membabat rintisan, yaitu membabat semak dan kayu yang mempunyai ketinggian 40 cm; 2) Menebang, yaitu menebang pohon yang besar maupun yang kecil dengan menggunakan traktor. Penebangan sebaiknya dengan diikuti penumbangan pohon berikut akarnya. Pohon ditebang ke arah luar agar tidak menghalangi jalannya traktor; 3) Merencek, dilakukan dengan memotong dan mencincang (merencek) cabang dan ranting pohon yang telah ditebang; 4) Membuat pancang jalur yang dibuat menurut arah antar barisan tanaman yang dimaksudkan untuk memudahkan pembersihan jalur tanam; 5) Membersihkan jalur tanam, dengan membuang hasil rencekan batang/pohon dan ditempatkan pada lahan di antara jalur tanaman dengan jarak 1 meter di kiri-kanan pancang.

Cara kombinasi antara manual-mekanis-khemis, cara ini dapat dikombinasikan dengan cara khemis melalui pemanfaatan herbisida pada saat pembukaan lahan perkebunan maupun saat penanaman melalui penyemprotan semak belukar dengan menggunakan paraquat, triasukfuron, gilifosfat maupun jenis bahan kimia lainnya. Dengan memperhatikan aspek kesehatan serta lingkungan dan dalam penggunaannya dilaksanakan dengan bijaksana sesuai dengan petunjuk yang diberikan.

 

Pemanfaatan Limbah Pembukaan Lahan

Limbah hasil penebangan/rencekan semak belukar dapat dimanfaatkan sebagai kompos, dengan cara pembuatannya sebagai berikut:

1.   Bahan-bahan dan komposisi terdiri dari: a) limbah hasil tebangan berupa serasah yang terdiri dari paku-pakuan dan gulma sebanyak 80%; b) pupuk kandang (10%); c) dedak/bekatul (10%); d) EM 4 (100 ml); e) Molase/gula 25 gram.

2.   Cara pembuatan sebagai berikut: a) Limbah hasil tebangan dicampur dengan pupuk kandang dan dedak; b) EM4, molase/gula dan air, kemudian dilarutkan; c) campuran 1 diaduk dengan campuran 2 kemudian ditutup pakai plastik; d) setelah tiga hari diaduk supaya prosesnya sempurna, kemudian ditutup kembali; dan e) setelah warnanya merata kecoklatan dan gembur, kemudian diangin-anginkan. Setelah dingin/suhunya normal, maka kompos siap dipakai atau dikemas dalam kantong plastik untuk dipergunakan, disimpan atau dijual.

 

Apa yang harus diupayakan penyuluh dan kelembagaan penyuluhan?

Agar informasi tentang manfaat buka lahan tanpa bakar ini sampai ke masyarakat khususnya para petani/pekebun, tentunya perlu dilakukan upaya yang intensif melalui kegiatan penyuluhan. Sehubungan dengan hal tersebut diharapkan peran dan tugas tenaga penyuluh pertanian ditingkatkan terutama dalam menyediakan informasi baik melalui media cetak maupun elektronik tentang: 1) cara dan manfaat buka lahan tanpa bakar: 2) mensosialisasikan Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan dan Undang-Undang No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan; 3) cara dan pemanfaatan limbah pengolahan lahan/hutan tanpa bakar; 4) mengupayakan kemudahan akses ke sumber informasi, teknologi dan sumberdaya lainnya yang terkait dengan kebakaran hutan dan pencegahannya; 5) membantu menganalisis dan memecahkan masalah serta merespon peluang dan tantangan dalam melaksanakan buka lahan/hutan tanpa bakar dan dampak kebakaran hutan; 6) menumbuhkan kesadaran terhadap kelestarian lingkungan; dan 7) melembagakan nilai-nilai budaya pembangunan pertanian yang berkelanjutan.

Guna mendukung tugas penyuluh dalam mendampingi petani/pekebun untuk memperoleh informasi yang akurat, kelembagaan penyuluhan agar berkoordinasi dengan pihak terkait dalam memberikan pembekalan dan fasilitasi kepada para penyuluh pertanian setempat dengan melakukan kegiatan sebagai berikut: 1) mencari informasi tentang manfaat buka lahan tanpa bakar; 2) melakukan pemetaan dan inventarisasi daerah rawan kebakaran baik yang disebabkan oleh ulah/kelalaian manusia maupun iklim/cuaca; 3) melakukan pemetaan terhadap faktor agronomis di wilayah kerjanya; 4) melakukan pemetaan dan inventarisasi terhadap wilayah rawan kebakaran hutan/lahan di wilayah kerjanya; dan 5) melakukan pembinaan/bimbingan teknis dan penyuluhan mengenai bagaimana mencegah dan kebakaran hutan/lahan agar tidak merusak bio-fisik, lingkungan serta merugikan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya dan pembangunan nasional umumnya.

Ir. Sri Puji Rahayu, Penyuluh Pertanian Madya/dari berbagai sumber

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018