Friday, 27 November 2020


Pengaturan Pola Produksi Bawang Merah

25 Feb 2014, 15:09 WIBEditor : Julianto

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan nasional yang  sangat fluktuatif  harga maupun produksinya.  Hal ini terjadi karena pasokan produksi yang tidak seimbang antara panenan pada musimnya, panenan di luar musim, serta penerapan teknologi budidayanya yang kurang optimal.

Bawang merah adalah merupakan sayuran penting di Indonesia, selain untuk bumbu masak, bawang merah juga dapat digunakan  sebagai obat-obatan.  Dengan banyaknya penggunaan bawang merah menjadikan pasar bawang merah sangat terbuka luas, baik pasar dalam negeri maupun luar negeri. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan untuk ekspor diperlukan produk yang mempunyai kualitas baik dan aman dikonsumsi. 

Masalah yang dihadapi dalam  usahatani bawang merah antara lain: 1) Ketersediaan benih bermutu belum mencukupi  secara (waktu, jumlah dan mutu); 2) Belum tersedia varietas unggul yang tahan terhadap penyakit utama; 3) Penerapan teknik budidaya yang baik dan benar belum dilakukan secara optimal; 4) Perbedaan produksi di musim kemarau dan musim hujan; 5) Kelembagaan petani belum dapat menjadi pendukung usahatani; 6) Skala usaha relatif  masih kecil akibat sempitnya kepemilikan lahan dan lemahnya permodalan; 7) Produktivitas cenderung mengalami penurunan di beberapa sentra produksi; 8) Harga cenderung berfluktuasi dan masih dikuasai tengkulak; 9) Serangan OPT semakin bertambah.

Pengaturan produksi dan distribusi serta pemasaran bawang merah dalam negeri menjadi sangat penting. Tujuan utama pengaturan produksi dan distribusinya tersebut adalah agar panen bawang merah dapat diatur sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi kelebihan maupun kekurangan penawaran bawang merah. Dengan demikian harga bawang merah di pasar eceran relatif lebih stabil dan tidak sampai jatuh sangat rendah. Salah satu upaya untuk menghindarkan fluktuasi harga bawang merah yang sangat besar tersebut dengan cara pengaturan masa produksi dan masa panen, melalui penerapan pola tanam bawang merah yang tepat.

Karakteristik budidaya bawang merah yang produktif, efisien adalah di lahan subur dan musim kemarau, beirigasi. Sebaliknya pada musim hujan usahatani bawang merah pada lahan tersebut selain tidak cocok/efisien, banyak penyakit, hasil dan kualitasnya rendah.

Besarnya jumlah permintaan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain : a). Harga bawang yang berlaku di pasar eceran, b). Pendapatan rumah tangga, c). Harga barang komplemen yang lain, d). Harga barang turunan dari produk bawang merah, e). Hari-hari besar di mana permintaan terhadap bawang merah segar cenderung meningkat.

 

Permintaan Luar Negeri :

Negara tujuan ekspor terbatas di Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Sedangkan impor bawang merah terutama dari Cina, Philipina dan Vietnam.

  • Aspek Penawaran

          Besarnya jumlah penawaran bawang merah sangat dipengaruhi oleh faktor sebagai berikut :

  1. Ketersediaan lokasi atau luas panen, b). Klim, c). Teknologi budidaya, d) Harga faktor produksi.
  • Aspek Kemitraan

Kemitraan antara petani/kelompok tani/koperasi dengan perusahaan mitra, dapat dibuat menurut dua pola yaitu : a.      Petani yang tergabung dalam kelompok tani mengadakan perjanjian kerjasama langsung kepada perusahaan perkebunan/pengolahan eksportir.

b. Petani yang tergabung dalam kelompok tani, melalui koperasinya mengadakan perjanjian yang dibuat antara koperasi (mewakili anggotanya) dengan perusahaan perkebunan/pengolahan/eksportir.                                             

Dengan bentuk kerjasama seperti ini, pemberian kredit yang berupa KKPA kepada petani plasma dilakukan dengan kedudukan koperasi sebagai Channeling Agent dan pengelolaannya langsung ditangani oleh kelompok tani. Sedangkan masalah pembinaan harus bisa diberikan oleh perusahaan mitra.

Demikian pula di waktu panen, hasil panen petani semuanya akan diserap dengan tingkat harga yang sudah diperhitungkan sebelumnya sedemikian rupa, maka para petani dapat menikmati dari sebagian hasil penjualannya untuk :

1). Keperluan keluarganya, 2). Menanggung beban biaya produksi berikutnya, 3). Tabungan keluarga serta, 4). Untuk pemupukan modal sendiri.

Tujuan utama pengaturan produksi dan distribusinya tersebut adalah agar panen bawang merah dapat diatur sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi kelebihan maupun kekurangan penawaran bawang merah. Dengan demikian harga bawang merah di pasar eceran relatif lebih stabil dan tidak sampai jatuh sangat rendah. Salah satu upaya untuk menghindarkan fluktuasi harga bawang merah yang sangat besar tersebut dengan cara pengaturan masa produksi dan masa panen, melalui penerapan pola tanam bawang merah yang tepat.

Sebenarnya bagi Indonesia pasokan bawang merah bukan merupakan masalah, yang menjadi masalah adalah bagaimana mengatur produksi bawang merah sehingga dalam setiap musim panen tidak sampai terjadi kelebihan pasokan yang dapat menjatuhkan harga di tingkat petani. Jatuhnya harga pada waktu-waktu panen raya dapat mengakibatkan para petani tidak memenuhi kewajiban finansialnya baik untuk kepentingan keluarganya sendiri maupun untuk kepentingan usahataninya. Salah satu cara untuk menanganinya adalah dengan melakukan pola kemitraan.

Apabila peningkatan produksi terjadi pada saat panen raya maka kehadiran pengusaha besar sebagai INTI dapat berperan sebagai pembeli tunggal dan sebagai pengusaha yang mampu menahan dan menyimpan kelebihan produksi dalam waktu yang relatif lama. Dengan demikian pasokan bawang merah ke pasar-pasar eceran dapat diatur sehingga harga bawang merah akan relatif stabil dan pada tingkat harga yang relatif dapat dijangkau oleh daya beli masyarakat luas di satu pihak, namun di lain pihak tetap dapat memberikan imbalan pendapatan bagi petani produsen bawang merah yang wajar, sehingga semangat berproduksi para petani juga tetap terpelihara.

Keuntungan lain dari pelaksanaan pola pengembangan bawang merah dengan pola kemitraan adalah para petani plasma akan mendapat jaminan pasar dari usaha besar. Karena dalam pola kemitraan tersebut usaha besar akan diposisikan sebagai pembeli tunggal produk plasma. Di samping itu usaha kecil/plasma juga akan mendapatkan bimbingan teknis budidaya bawang merah dan bimbingan teknis aspek manajemen keuangan dari usaha besarnya.

 

Kebijakan/Strategi

Strategi yang ditempuh adalah meningkatkan produktivitas lahan pertanian melalui antara lain : pemilihan jenis komoditas pertanian yang bernilai ekonomis tinggi dan sesuai dengan agroklimats setempat, penggunaan bibit unggul, penggunaan pupuk (anorganik dan organik) dan penggunaan pestisida (anorganik dan organik).

Oleh karena itu, pemerintah harus meningkatkan produksi bawang merah agar tidak tergantung dengan bawang impor karena Negara Indonesia adalah Negara Agraris, maka untuk meningkatkan produksi bawang merah, yaitu pertama dengan merubah pola pikir masyarakat yang berpikir bahwa bertani untuk orang miskin, salah satu cara merubah pola pikir tersebut dengan cara  pemerintah lebih aktif mendukung  orang yang bertani, dukungan itu dapat berupa: motivasi, jaminan dan lain-lain.

Penyusun : Iman Priyadi

Sumber Bacaan : berbagai sumber bacaan Thoifur Sholahudin IKIP Malang, Litbang Pertanian

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018