Sunday, 11 April 2021


PERAN TENAGA PENDAMPING DALAM PENCAPAIAN SWASEMBADA GULA 2014

03 Mar 2014, 11:06 WIBEditor : Kontributor

Oleh: Ir. Sri Puji Rahayu,MM - Penyuluhan Pertanian

 

Kementerian Pertanian telah merekrut Tenaga Kontrak Pendamping (TKP) dan Petugas Lapangan Tenaga Kontrak Pendamping (PL-TKP) untuk mendampingi petani agar bisa menerapkan teknis budidaya dan pasca panen tebu secara baik dan benar.

 

Keadaan industri gula berbahan baku tebu, sangat tergantung dari pasokan bahan baku tebu yang sebagian besar masih mengandalkan tebu rakyat yang masih banyak  keterbatasan, sehingga produksi dan produktivitasnya rendah.

Rendahnya produksi tebu di antaranya juga disebabkan masalah teknik budidaya, mutu bibit, kesehatan tanaman dan masih terbatasnya pemahaman petani tentang   varietas tebu yang ditanam. Di samping itu, rendahnya produktivitas juga disebabkan oleh tingginya proporsi tanaman keprasan, pengembangan tanaman tebu di lahan-lahan marginal yang tidak cukup tersedia pengairan, lokasi pertanaman jauh dari pabrik gula (PG) sehingga mekanisme tebang muat angkut sulit. Rendahnya produksi menyebabkan rendahnya pendapatan riil dan nilai tukar petani.

Penyebab lain adalah karena sebagian besar lahan pertanaman tebu adalah  perkebunan rakyat yang mempunyai keterbatasan modal, sehingga menyebabkan petani tebu tidak mampu melakukan perbaikan teknik budidaya dan perluasan areal. Hal ini berakibat pada makin meluasnya proporsi luasan tanaman keprasan yang makin meluas setiap tahunnya di lain pihak pengembangan areal baru semakin sulit diperoleh. 

Beberapa tahun terakhir ini, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan dengan memberikan modal kerja pada petani berupa kredit dengan subsidi bunga, namun petani belum memanfaatkan secara optimal karena prosedurnya masih dirasakan sulit. Kondisi ini masih ditambah dengan adanya perubahan iklim global yang mempengaruhi produksi tebu. Untuk itu petani perlu diberikan dukungan kebijakan yang tepat agar mereka mau melakukan, mempertahankan bahkan meningkatkan perluasan garapannya.

 

Upaya

Tahun 2014 Ditjen Perkebunan, memproyeksikan produksi tebu meningkat sebesar 10,15%  atau meningkat dari 2.817 ton pada tahun 2013 menjadi 3.103 ribu ton pada tahun 2014.

Untuk mencapai swasembada gula nasional tahun 2014, Ditjen Perkebunan telah menetapkan kegiatan-kegiatan seperti  kegiatan bongkar ratoon, penataan varietas, pemberdayaan dan penguatan kelembagaan petani tebu, bantuan alat (alat tebang), sensus database tebu sistem on line, pengendalian OPT tebu (penggerek batang/pucuk tebu, tikus dan uret) SL-PHT,  tebu pengawalan di 10 provinsi,.

Bongkar ratoon, bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tebu dan rendemen melalui penggantian tanaman lama menjadi tanaman baru sesuai kebutuhan, dengan menggunakan sumber benih/bibit yang berasal dari kultur jaringan yang telah disertifikasi oleh BBP2TP/UPTD setempat. Namun bila ketersediaan benih asal kultur jaringan di penyedia benih tidak mencukupi, petani dapat menggunakan benih/bibit asal konvensional yang sumbernya sudah dilakukan sertifikasi sesuai peraturan yang berlaku.

Penataan varietas dimaksudkan agar varietas yang digunakan oleh petani merupakan varietas bina yang sesuai dengan tipologi lahan yang ada, memiliki komposisi kemasakan berbeda dalam jumlah yang seimbang untuk optimalisasi kebutuhan sesuai dengan masa giling.

Sedangkan pemberdayaan dan penguatan kelembagaan petani tebu bertujuan untuk memberdayakan petani dan lembaga petani agar mampu mandiri dan tangguh dalam berusahatani. Pemberdayaan dan penguatan kelembagaan petani tebu dapat dicapai melalui berbagai pelatihan dan penyuluhan/pendampingan sehingga dapat meningkatkan kemampuan teknis, administratif, manajerial dan organisasi serta memberi respon yang tepat terhadap berbagai perubahan.

Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan pada petani berupa alat tebang untuk efisiensi tenaga kerja tebang muat yang cukup tinggi. Guna memperoleh data dasar dan informasi yang terkait dengan agribisnis tebu yang akan dipergunakan sebagai bahan pengambilan kebijakan pembangunan perkebunan, Ditjenbun juga telah menganggarkan kegiatan sensus database tebu sistem on line.

 

Peran TKP dan PL-TKP

Berdasarkan kondisi tersebut, maka petani perlu diberdayakan agar mandiri dan tangguh dalam berusaha tani tebu. Pemberdayaan petani membutuhkan dukungan tenaga penyuluh pertanian lapangan, namun pada kenyataannya jumlah penyuluh pertanian sangat terbatas, untuk itu pemerintah telah merekrut Tenaga Kontrak Pendamping (TKP) dan Petugas Lapangan Tenaga Kontrak Pendamping (PL-TKP).   

Adapun kegiatan pendampingan yang dilakukan TKP dan PL-TKP meliputi: 1) Memberdayakan petani tebu melalui bimbingan teknis budidaya, pengembangan organisasi, usaha kelompok atau koperasi; 2) Memberikan bimbingan pada petani dalam menggunakan alat mesin (alat tebang) secara efektif dan efisien; 3) Melaksanakan kegiatan sensus  pendataan pengembangan tanaman tebu guna mengumpulkan data berupa luas areal, potensi lahan, data kepemilikan lahan, penataan varietas; 4) Melakukan pengawalan dan bimbingan manajemen dimulai dari perencanaan, proses administrasi, pelaksanaan bongkar ratoon (pengolahan lahan, varietas yang digunakan, penanaman dan panen) dan penyusunan  laporan kegiatan pendampingan.

Dengan perubahan lingkungan strategis saat ini serta guna memperkuat sumberdaya manusia perkebunan, pemerintah melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian telah melaksanakan upaya peningkatan kapasitas aparatur dan petani tebu dengan melaksanakan Diklat Teknis Agribisnis Tebu bagi aparatur, pemberdayaan petani melalui pengawalan dan pendampingan penyuluh di sentra tebu, mobilisasi civitas akademika dalam pengawalan dan pendampingan peningkatan oleh civitas akademika STPP.

Dengan pendampingan ini diharapkan petani tebu dapat meningkatkan kemampuannya terutama di bidang teknis administratif, manajerial dan organisasi administratif, manajerial dan organisasi.

 

Pusat Koordinasi

Penyuluhan  dan pendampingan merupakan proses pembelajaran bagi petani tebu agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses teknologi, permodalan, sumberdaya dan harga pasar sebagai upaya meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya serta meningkatkan kesadarannya dalam pelestarian fungsi lingkungan.

TKP dan PL-TKP selaku penyuluh pendamping mempunyai peran cukup penting yaitu: sebagai pembimbing petani, organisator dan dinamisator petani dan sebagai penghubung antara stakeholder/pemangku kepentingan dengan petani. Dalam menjalankan tugas, TKP dan PL-TKP  juga menjalankan fungsinya sebagai komunikator, pendidik dan motivator bagi para petani tebu. Kegiatan pendampingan dapat dilakukan dengan cara kunjungan ke tempat petani berada.

Ke depan dengan adanya kebijakan Pemberdayaan Peran Fungsi BPP sebagai Pusat Koordinasi Program & Kegiatan di Wilayah, diharapkan para petugas/TKP/PL-TKP menjadi bagian dari tim penyuluh yang ada di lapangan/kecamatan. Dengan mengaktifkan kembali sistem kerja LAKU (latihan dan kunjungan) di mana para penyuluh melakukan kunjungan kepada petani (1 minggu sekali) dan diaktifkannya kembali kegiatan supervisi dan kursus tani diharapkan tercipta mekanisme tata hubungan kerja antara kelembagaan teknis, penelitian dan pengembangan serta penyuluhan pertanian dalam mendukung pencapaian swasembada gula nasional dengan baik.

Dalam rangka tercapainya swasembada gula nasional 2014, perlu segera dibangun sinergitas antara kelembagaan teknis yang membidangi tanaman perkebunan, kelembagaan penelitian dan pengembangan serta penyuluhan di seluruh tingkatan mulai dari kecamatan, kabupaten/kota, provinsi sampai pusat dan secara bersama-sama melakukan sinergi, koordinasi dan supervisi secara terpadu (Balitbang, BPPSDMP, PSP, PPHP, BKP dan Ditjen Perkebunan) dalam pencapaian target empat sukses pembangunan pertanian di antaranya swasembada gula tahun 2014.

Guna mendukung keberhasilan swasembada gula 2014,  BPPSDMP mengambil langkah strategi yaitu: 1) Penguatan Balai Penyuluhan; 2) Pemberdayaan Penyuluh PNS, THL-TBPP dan Swadaya/Swasta; 3) Pemberdayaan Poktan, Gapoktan dan BUMP; 4) Pengembangan dan Penyebaran Informasi/Materi Penyuluhan Pertanian; 5) Penguatan Program dan Kerjasama; 6) Peningkatan Dukungan Sarana dan Prasarana. Semoga berhasil/Dari berbagai sumber.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018