Friday, 18 June 2021


Integrasi Sapi dengan Tebu

20 Jun 2014, 10:51 WIBEditor : Kontributor

Model integrasi usahatani sapi dengan tebu tidak kalah menguntungkan.

Model integrasi merupakan salah satu alternatif yang tepat dalam pengembangan kawasan agribisnis berbasis peternakan. Model ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para petani-peternak secara luas karena di samping mudah diterapkan juga melimpahnya ketersediaan sumberdaya lokal. Salah satu di antara banyak pilihan tersebut adalah model integrasi sapi dengan tebu.

Model integrasi sapi dengan tebu saling mendukung satu sama lain. Tanaman Tebu, di samping memiliki produk utama berupa bahan baku gula, juga memiliki produk ikutan yang dihasilkannya. Produk ikutan ini dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan baku pakan alternatif bagi ternak sapi potong. Sementara di sisi lain, ternak sapi potong di samping menghasilkan daging dan kulit sebagai produk utama, juga memproduksi limbah sebagai produk sampingan. Limbahnya berupa feses, urin dan sisa-sisa makanan dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku pupuk organik, yang  sangat berguna bagi kesuburan tanaman tebu.

Berbagai produk ikutan dapat dihasilkan dari industri gula tebu atau pengolahan tanaman tebu. Di antaranya adalah berupa : 1) pucuk tebu; 2) daun keletakan dan sogolan; 3) ampas tebu; 4) empulur ampas tebu (pith); 5) tetes; 6) blotong. Kesemua produk ikutan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan alternatif bagi ternak ruminansia termasuk sapi potong. Penggunaannya pun bisa secara langsung maupun setelah melalui proses tertentu.

Beragam Produk

Pucuk tebu merupakan ujung atas batang tebu berikut 5-7 helai daun yang dipotong dari tebu yang dipanen. Pucuk tebu diperoleh dari batang tebu yang telah ditebang dan bagian pupusnya saja yang diambil peternak dengan kisaran 13-15 % dari berat tebu.

Jumlah pucuk tebu yang dapat dihasilkan untuk setiap satuan luas tanam (ha) adalah sekitar 3,8 ton bahan kering. Dari jumlah produk ikutan yang dihasilkan ini, maka setiap ha industri gula tebu dapat menyediakan pakan ternak sejumlah 1,4 ST sapi per tahun.

Pucuk tebu segar dapat menggantikan sebagian atau seluruh rumput gajah sebagai hijauan pakan ternak, yang diberikan untuk pakan tanpa memberikan pengaruh negatif terhadap kondisi tubuh maupun produksi ternak.

Pucuk tebu kering mengandung nutrisi lainnya seperti protein kasar yang lebih baik dari jerami padi maupun jagung dan rumput gajah. Karena kandungan serat kasarnya yang cukup tinggi, maka penggunaannya sebagai sumber pakan hijauan/sumber serat (dalam bentuk segar) disarankan tidak melebihi dari 8% bobot hidup ternak. Pemberiannya dilakukan bersama-sama dengan bahan pakan lainnya yang mengandung protein kasar cukup tinggi serta ditambahkan molase secukupnya sebagai perangsang.

Pucuk tebu dapat diperoleh sewaktu panen dalam jumlah yang banyak dan relatif singkat. Untuk dapat bertahan dalam waktu yang lama perlu proses pengawetan. Untuk menghindari kerusakan, karena mengandung air yang cukup banyak, serta dapat dipergunakan dalam waktu yang lama, sebaiknya bahan diawetkan dalam bentuk silase, wafer ataupun pelet.

Wafer pucuk tebu adalah pucuk tebu yang diawetkan dengan proses pengeringan secara cepat sehingga kadar airnya tinggal 9-12%, kemudian ditekan dengan tekanan tinggi sehingga berbentuk balok empat persegi panjang.

Wafer  pucuk  tebu dapat diberikan kepada sapi potong dan sapi perah  sebanyak 2% dari berat badan dan pada ternak domba dan kambing masing-masing 2,4 dan 2,9% dari berat badan, tetapi pemberiannya harus disertai pakan tambahan.

Pelet Pucuk Tebu. Pelet pucuk tebu dibuat dengan cara memotong-motong pucuk tebu kemudian dikeringkan. Potongan kering tersebut kemudian digiling menggunakan alat penggiling (hammer mill) lalu dicetak menggunakan mesin pelet. Untuk menghasilkan 1 ton pelet dengan kadar air sekitar 9–11% diperlukan 4 ton pucuk tebu segar.

Pada penggemukan sapi, pemberian pelet dapat mempercepat kenaikan berat badan, sedang pada sapi perah laktasi, pemberian pelet dapat menurunkan kadar lemak susu.

Berdasarkan hasil penelitian pada penggemukan sapi pemberian pucuk tebu segar 20 kg/hari dan konsentrat 2,80 kg dengan bahan kering 4,59 kg, dari 1,35% berat badan diperoleh pertambahan berat badan 0,77 kg/ekor/hari. Sedang dengan pemberian pelet pucuk tebu 5 kg/hari dan konsentrat 2,94 kg, dengan bahan kering 4,25 kg dari 1,39% berat badan diperoleh pertambahan berat badan 0,83 kg/ekor/hari.

Daun Kletekan dan Sogolan. Daun kletekan adalah daun tebu yang diperoleh dengan cara melepaskan 3-4 daun tebu sebelum dipanen, pada saat tebu berumur 4, 6 dan 8 bulan yang masing-masing disebut kletekan 1, 2 dan 3. Sedang sogolan adalah tunas-tunas tebu yang diafkir. Daun kletekan dan sogolan merupakan sumber pakan ternak yang potensial untuk didayagunakan, baik secara langsung maupun diolah dahulu.

Ampas Tebu. Ampas tebu adalah salah satu sisa produksi pembuatan gula, yang merupakan hasil limbah kasar setelah tebu digiling. Serat kasar cukup tinggi yang terdiri dari sellulosa, pentosan dan lignin sehingga dapat digunakan sebagai sumber serat kasar untuk ternak ruminansia. Mengingat serat kasar ampas tebu yang tinggi, maka pemakaiannya untuk ternak ruminansia hanya bisa 25% dari total ransum.

Empulur Ampas Tebu. Empulur ampas tebu (baggase pith) merupakan hasil samping dari pengolahan ampas tebu (bagasse) yang telah diambil seratnya untuk keperluan serat kertas. Empulur digunakan sebagai pakan ternak untuk mengimbangi jumlah tetes yang dipergunakan dalam pakan ternak dan sebagai pengganti onggok.

Jumlah pith sekitar 9,9% dari berat tebu atau sekitar 30% dari berat ampas tebu sehingga sebagai sumber serat bagi ternak. Pith tidak digunakan sebagai pakan ternak secara tunggal karena palatabilitasnya yang rendah, namum ditambahkan urea pada proses amoniasi dan pemberiannya kepada ternak harus dicampurkan ke dalam pakan penguat. Untuk sapi potong, pith amoniasi dapat menggantikan setengah bagian hijauan, sedang untuk sapi perah dapat menggantikan 15% dari hijauan.

Tetes. Tetes adalah cairan kental hasil ikutan pemurnian gula yang merupakan sisa nira yang telah mengalami proses kristalisasi. Di kalangan peternak, tetes dikenal sebagai bahan pakan tambahan. Hal ini terutama karena tetes merupakan zat gizi yang mengandung gula. Karena rasanya yang manis, tetes dapat meningkatkan palatabilitas pakan (disukai ternak), mengandung vitamin B komplek terutama untuk ternak ruminansia muda serta sejumlah kecil mineral yang memiliki fungsi utama bagi kesehatan ternak.

Tetes diketahui memiliki potensi besar untuk digunakan sebagai komponen bahan baku industri fermentasi maupun sebagai komponen pakan ternak.

Sebagai bahan pakan ternak dapat dilakukan berbagai cara, antara lain :

(1). Secara bebas terpisah dari bahan pakan lainnya. (2). Disemprotkan pada pakan hijauan atau biji-bijian. (3). Dicampur dalam pakan campuran yang siap digunakan (4). Sebagai pengawet dalam pembuatan silase sebanyak 1-4% dari berat hijauan. Sebagai bahan pengawet dalam  proses ensilasi, tetes merupakan sumber utama pertumbuhan dan perkembangbiakan bagi banyak jenis mikroba, terutama untuk memacu pertumbuhan bakteri asam laktat. Penambahan tetes selama proses silase dapat meningkatkan kualitas silase dan disukai oleh ternak (palatabilitas).

Selain itu, tetes juga memiliki hasil samping. Hasil samping dari tetes, antara lain :

(1). Urea Molasses Block, yaitu hasil tetes (60%) dengan campuran  urea, mineral, dedak padi, CaCo3 serta ditambahkan serbuk gergaji. Zat yang terkandung di dalamnya dapat meningkatkan konsumsi pakan dan  pertambahan berat badan ternak. Pada umumnya UMB digunakan sebagai bahan pakan imbuhan sumber energi, nitrogen dan mineral serta biasanya dibuat dalam bentuk balok berukuran 40 x 20 x 15 cm. (2). L-Lysine, merupakan fermentasi dari tetes dan digunakan sebagai nutrisi pelengkap dalam formulasi pakan ternak. (3). Ragi pakan ternak, diperoleh melalui pembiakan dari tetes atau sebagai hasil samping dari proses fermentasi etanol dari tetes. Ragi pakan ternak merupakan sumber protein (50-51%) biasanya diberikan sebagai substitusi sumber protein dalam formulasi pakan  ternak (mensubstitusi bungkil kedelai sampai 60% atau sekitar 9% dari berat pakan ternak tanpa pengaruh negatif).

Blotong. Blotong adalah kotoran yang dapat dipisahkan dengan proses penapisan dalam proses klarifikasi nira dan mengandung bahan organik, mineral, protein kasar dan gula yang masih terserap di dalam kotoran tersebut. Blotong dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak atau pupuk organik.

Agar memberikan hasil optimal dalam model integrasi ini, pemeliharaan ternak disarankan dilakukan secara intensif dengan pola mengandangkannya. Kandang dapat dibuat dalam bentuk individu maupun kelompok. Model dan ukuran kandang disesuaikan dengan kebutuhan. Hal ini diperlukan untuk memudahkan dalam pengumpulan limbah ternak sapi maupun dalam pemberian pakannya. (Penulis Inang Sariati)

Sumber: Pedoman Teknis Pengembangan Usaha Integrasi Ternak Sapi dan Tanaman Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan, Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia, 2010 dan berbagai sumber

 Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018