Peta agro digital berbasis data satelit sedang dibangun Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian untuk menerapkan pengelolaan pertanian yang terinci (precision farming).
Hal itu dikatakan Sekretaris Badan Litbang Pertanian, Dr. Agung Hendriadi saat membuka workshop tentang Penginderaan Jarak Jauh sebagai Dasar Informasi Monitoring Tanaman Padi dan Prediksi Hasil Produksi Padi untuk Penguatan Ketahanan Pangan di Bogor (6/11).
Saat ini Kementerian Pertanian sudah memiliki peta satelit sawah padi dengan basis data Modis (optic) untuk seluruh Pulau Jawa meliputi empat provinsi yakni Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dengan data itu sudah bisa diketahui perkembangan luas tanam padi, umur tanaman padi dan prediksi produksi padi di seluruh Jawa setiap delapan hari sekali.
Pada tahun ini lanjut Agus Hendriadi sedang disiapkan peta serupa untuk Sulawesi Selatan dan seluruh Sumatera. “Tahun depan aplikasi peta data modisnya sudah bisa digunakan untuk monitoring pertanaman padi dan prediksi hasil produksinya untuk semua propinsi tersebut,” jelasnya kepada Sinar Tani.
Data dari peta satelit tersebut jelas Agus Hendriadi juga bisa digunakan untuk menerapkan precision farming (pertanian yang terinci), yakni menentukan, menyediakan dan mendistribusikan sarana produksi yang dibutuhkan berdasarkan kondisi riil pertanaman padi di lapangan pada setiap wilayah dan waktu tertentu. “Dengan data satelit yang diperbaharui setiap delapan hari sekali ini kita bisa hitung kebutuhan pupuk pada wilayah tertentu dan pada waktu tertentu, sehingga bisa meminimalkan kelangkaan pupuk,” katanya.
Kelemahan data satelit Modis tersebut adalah petanya tidak bisa menembus awan, sehingga keakuratan data dipengaruhi juga oleh keberadaan awan di wilayah yang diphoto oleh satelit. Untuk mengatasi teknologi ini, jelas Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BB SDLP), Dr. Dedi Nursyamsi tengah dikembangkan kerjasama dengan The International Rice Research Institute (IRRI) dengan memanfaatkan data SAR (Synthetic Aperture Radar) yang tidak lagi terkendala oleh adanya awan.
Data SAR tersebut memiliki ukuran yang lebih besar sehingga bukan hanya mampu untuk monitoring kondisi pertanaman padi dan prediksi produksi padi, melainkan juga bisa untuk mengetahui adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Hanya saja satelit berbasis data SAR ini periode kerja (up-date) datanya lebih lama dari satelit data modis, yakni setiap dua mingguan.
Ujicoba penggunaan seri data satelit penginderaan jauh Synthetic Aperture Radar (SAR) Cosmo Skymed untuk pemantauan tanaman padi, luas tanam dan pendugaan produksi padi baru dilakukan di lahan sawah Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Hasil monitoring menunjukkan bahwa luas area tanam, luas area yang siap dipanen dan tingkat produktivitas tanaman padi dalam satu musim tanam, dapat digambarkan dari data satelit penginderaan jauh. Melalui dukungan data hasil ubinan tanaman padi dengan pengukuran tingkat kehijauan dan kerapatan tanaman, produktivitas padi yang akan dipanen dapat dihitung, sehingga produksi padi di daerah tersebut dapat diestimasi secara lebih akurat dalam waktu yang relatif singkat (nearly real time).
“Selain itu tanaman padi yang terindikasi terserang hama/penyakit, kebanjiran/kekeringan juga dapat segera diketahui dari hasil rekaman citra satelit tersebut, sehingga pengambilan keputusan yang cepat dapat segera dilakukan untuk mengatasi permasalahan di lapangan,” kata Wahyunto peneliti di BB SDLP. Som
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066