Sunday, 14 June 2026


Dukungan Kedaulatan Pangan, Rehabilitasi Irigasi Wajib

03 Dec 2014, 16:37 WIBEditor : Nuraini Ekasari sinaga

Rehabilitasi jaringan irigasi adalah langkah yang mutlak untuk dilakukan segera oleh pemerintah saat ini, khususnya untuk mendukung ketahanan pangan. Langkah ini semakin penting karena air yang ada di sungai kini tidak bisa diandalkan lagi untuk pengairan.

“Fluktuasi air sungai sangat drastis. Saat musim hujan airnya meluap, saat kemarau airnya kering. Jadi memang nggak bisa diandalkan,” kata mantan Menteri Pekerjaan Umum (PU), Djoko Kirmanto dalam diskusi Indonesia Water Learning Week di Hotel Sultan di Jakarta.

Selain rehabilitasi irigasi rusak, pembangunan irigasi baru dan bendungan juga penting. Dengan demikian, kita bisa merealisasikan debit air andalan. Ketika kemarau tidak kekeringan, ketika hujan deras debit di sungai juga bisa diatur agar tidak meluap. “Kalau itu bisa, lahan pertanian kita bisa ditanami sepanjang tahun. Kedaulatan pangan kita semakin kuat untuk direalisasikan,” ujarnya.

Djoko mengatakan, pemerintah sebelumnya telah membangun jaringan irigasi untuk 7,4 juta hektar (ha) lahan sawah. Sayangnya, baru 10% saja yang bisa dijamin ketersediaan airnya karena dipasok dari waduk atau bendungan. “Sawah memberikan hasil yang sangat besar untuk ketahanan pangan. Tapi kita punya jaringan irigasi yang 7,4 juta hektar, sayangnya hanya 10% yang dijamin airnya dari waduk,” katanya.

Menurut Djoko, minimnya tingkat pengairan di jaringan irigasi karena mayoritas jaringan irigasi rusak. Dari sekitar 7,4 juta ha, ada sekitar 52%-nya mengalami kerusakan parah. “Jadinya, air dari waduk yang sudah kita bikin nggak bisa mengalir ke semua jaringan irigasi yang ada,” ujar dia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Sumberdaya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU Pera), Mudjiadi mengungkapkan, pemerintah akan membangun Waduk Ciawi dan Sukamahi, Bogor, Jawa Barat dengan anggaran pengalihan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Proyek waduk untuk penanganan banjir wilayah Jakarta dan sekitarnya mulai ditender tahun depan, dengan nilai kurang lebih Rp 1,9 triliun.

Mudjiadi mengungkapkan, proyek kedua waduk ditargetkan dimulai dilelang pada awal tahun depan sesuai instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Saat ini, proyek bendungan ini sadang dalam proses analisis dampak lingkungan alias AMDAL dan uji kelayakan atau feasibility study (FS).

Sambil menunggu proses tersebut, pihak PU Pera sedang mempersiapkan desain bendungan yang akan memiliki kapasitas penampungan air 11,8 juta meter kubik untuk Waduk Ciawi dan 2,4 juta meter kubik untuk Waduk Sukamahi.

"Untuk menentukan dam (waduk) harus lihat ada cekungan atau tidak. Geologinya bagus atau tidak, kita lihat juga apakah sudah banyak penduduk atau tidak. Kalau di situ sudah berkembang kan masalah sosialnya juga tinggi,” katanya. Echa

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018