Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) merajut kembali tali kerjasama dengan PT. Sang Hyang Seri (SHS) dalam penyediaan benih padi nasional. Kerjasama ini ibarat merajut kembali tali yang hampir putus.
Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan di gedung Balitbang Pertanian, Jakarta, Selasa (9/12). Dengan kerjasama ini diharapkan penyediaan benih ke petani bisa dipercepat. Apalagi kini telah memasuki musim tanam padi 2014/2015.
Sekretaris Balitbang Pertanian, Agung Hendriadi mengatakan, kerjasama ini dipercepat dari rencana semula menyusul permintaan Wakil Presiden RI, M. Jusuf Kalla agar hasil penelitian Balitbangtan, khusus Balai Besar Padi (BB Padi) dapat cepat digunakan petani.
“Jadi tujuan kerjasama ini agar proses penyediaan benih unggul untuk kebutuhan nasional lebih cepat dan bisa langsung sampai ke petani sesuai dengan kaidah enam tepat,” ujarnya.
Selama ini Balitbangtan melalui BB Padi telah banyak menghasilkan varietas unggul padi dalam bentuk benih sumber. Sedangkan PT. SHS sebagai pihak yang memperbanyak benih sebar. Adapun Ditjen Tanaman Pangan yang menggunakan benih produk PT. SHS.
Meski banyak varietas padi yang telah dihasilkan Balitbang Pertanian, menurut Agung, kerjasama pengembangan benih dengan PT. SHS tetap melihat prospek pasar sarana produksi pertanian tersebut. Sebab untuk mengganti atau mengubah kebiasaan petani dalam menggunakan benih tidak mudah.
Misalnya di wilayah Yogyakarta, petani lebih senang menanam padi varietas IR 64. Sementara untuk wilayah Kalimantan dan Sumatera lebih menyukai vaietas padi yang menghasilkan beras pera. “Kebiasaan ini yang tak mudah diubah. Jadi faktor sosial ini yang kita perhatikan juga dalam menghasilkan benih sumber hingga benih FS,” ujarnya.
Data Balitbang Pertanian, hingga kini mayoritas petani di Indonesia atau sekitar 40 persen menanam padi varietas Ciherang, 20 persen Mekongga dan 10 persen Situbagendit. Sedangkan sisanya varietas lokal.
Tidak Nyambung
Direktur Utama PT. SHS, Istochri Utomo mengakui, selama ini belum terjadi sinergi antara penelitian padi yang dihasilkan Balitbang Pertanian dengan perbanyakan benih oleh PT. SHS. Selama ini pihaknya hanya memproduksi benih yang banyak diminati masyarakat. Padahal hasil penelitian Balitbang Pertanian cukup banyak. “Akibat jalan sendiri-sendiri menjadi tidak nyambung,” ujarnya.
Ke depan Istochri berharap, PT. SHS bisa memproduksi varietas benih terbaru hasil penelitian BB Padi. Dengan demikian varietas padi unggul baru dengan cepat mudah dikenal masyarakat. "Kerjasama ini nantinya akan kita tindaklanjuti di tiap provinsi dengan BPTP. Benih mana yang akan diproduksi menjadi benih sebar," katanya.
PT. SHS saat ini memiliki 22 pabrik di seluruh Indonesia berada di Jawa Barat, Lampung, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Total kapasitas sebanyak 120 ribu ton/tahun atau sepertiga dari kebutuhan benih nasional sebesar 350 ribu ton/tahun. Khusus di Sukamandi, Jawa Barat, kapasitas produksi benih padi sebanyak 30-35 ribu ton/tahun.
Istochri menjelaskan, dalam memproduksi benih pihaknya menggunakan dua model. Pertama, benih yang diproses sejak awal di lahan PT. SHS sebanyak 80-85 ribu ton/tahun. Kedua, benih yang dibeli dari kemitraan dengan penangkar benih sekitar 40 ribu ton/tahun. “Ke depan kami akan meningkatkan kerjasama dengan penangkar benih,” ujarnya.
Sementara itu Direktur Perbenihan, Ditjen Tanaman Pangan, Bambang Budhianto mengatakan, sebenarnya kerjasama antara Badan Litbang Pertanian dengan PT. SHS bukan hal yang baru. Bahkan sudah sejak 34 tahun lalu saat awal pemerintah membangun perbenihan nasional dengan berdirinya BB Padi dan PT. SHS.
Dengan adanya nota kesepahaman ini Bambang berharap dari aspek diseminasi teknologi dari Badan Litbang Pertanian ke petani bisa berjalan. Begitu juga dari aspek bisnis bagi PT. SHS juga menguntungkan. “Jadi bukan sekadar memproduksi benih lalu menyalurkan ke petani. Aspek petani sebagai pengguna harus diperhatikan juga,” katanya.
Apalagi lanjut dia, adopsi benih baru ke petani memerlukan waktu. Saat ini hampir 93% varietas padi yang ditanam petani adalah hasil penelitian Badan Litbang Pertanian. Namun yang ada di lapangan tidak semua benih bersertifikat.
Dari total kebutuhan benih padi nasional sebanyak 360 ribu ton, kemampuan produksi benih bersertifikat hanya 60% atau sekitar 200 ribu ton. Sebab, banyak benih yang diproduksi penangkar dan langsung petani gunakan. “Tiap tahun terjadi fluktuasi, karena petani kadang membeli langsung benih komersial,” ujarnya. Yul
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066