Sunday, 24 January 2021


Ada Skenario Jadikan Indonesia Importir Pangan Terbesar

03 Oct 2013, 16:30 WIBEditor : Julianto

Ada skenario menjadikan Indonesia sebagai importir pangan terbesar di dunia. Ironisnya, pemerintah sepertinya tak kuasa melawan kekuatan yang ada di belakang skenario tersebut. Akibatnya, bahan pangan luar negeri sangat mudah masuk ke dalam negeri.

Pengamat pertanian Iskandar Andi Nuhung mengatakan, ada upaya menjadikan Indonesia sebagai negara importir bahan pangan terbesar di dunia. Apalagi mengingat Indonesia merupakan pasar yang menggiurkan bagi importir pangan.

Kondisi ini, sangat berbahaya, karena Indonesia tidak bisa berdaulat secara pangan. Jika Indonesia sudah tidak berdaulat, maka ketahanan pangan akan mudah terancam.

“Kedaulatan pangan harus tetap dijaga. Jika terancam akan membahayakan kedaulatan negara. Sejarah telah mengajarkan kita bahwa apabila pangan kita terancam berkorelasi erat dengan kedaulatan negara,” tegas mantan Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian itu.

Ironisnya Andi Nuhung menilai, selama ini pendekatan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan pangan secara parsial. Salah satunya melalui kebijakan impor. Padahal solusi yang paling tepat mengatasi persoalan pangan dengan memperkuat pembangunan sektor pertanian.

“Salah satunya adalah dengan menambah alokasi anggaran untuk sektor pertanian,” ujarnya saat diskusi Masa Depan Kualitas SDM Indonesia Disandera Kartel Pangan di The Habibie Centre Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selain itu, semua urusan yang terkait persoalan pangan harus ditarik kembali ke pemerintah pusat. Sebab, sejak berlakunya otonomi daerah tahun 1999, urusan pangan juga ditangani pemerintah daerah. “Lebih disesalkan banyak kepala daerah yang tidak konsen terhadap pangan,” kata Andi Nuhung.

Direktur Center for Information and Development Studies (CIDES) Muh Rudi Wahyono juga menilai, banyak kepala daerah tidak berpihak kepada pertanian. Mereka lebih tertarik mengurusi non pertanian yang dinilai cepat mengembalikan dana politik yang dikeluarkan selama masa kampanye.

“Yang lebih parah lagi, Kementan kalah lobi dengan para importer. Akibatnya pemerintah tidak bisa mengembangkan pertanian yang menjadi tanggung jawabnya. Kementan malah dipermainkan importir sehingga menjadi negara importir, bukan negara produsen," katanya.

Informasi lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (info berlangganan SMS ke : 081317575066).

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018