Tuesday, 14 April 2026


RI-Australia Perkuat Kerjasama Peternakan

11 Mar 2016, 16:40 WIBEditor : Clara Agustin

Indonesia-Australia memperkuat kerjasama bidang peternakan dan kesehatan. Salah satu kegiatan kerjasama tersebut adalah pengiriman pakar peternakan Indonesia ke negeri Kangguru tersebut.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Muladno saat acara Indonesia-Australia Partnership on Food Security in The Red Meat and Cattle Sector di Jakarta, beberapa waktu lalu mengatakan, forum antara Indonesia-Australia ini bertujuan untuk mensinergikan kekuatan dan potensi kedua negara tersebut dalam membangun sektor ternak sapi, khususnya di Indonesia.

Selain itu, meningkatkan daya saing kedua negara dan mengembangkan prospek investasi serta perdagangan jangka panjang antar kedua negara.  “Ini merupakan bagian dari rantai suplai daging dan ternak sapi yang berdaya saing global,” kata Muladno.

Menurut Muladno, nantinya Australia berperan sebagai negara produsen sapi bibit, lalu Indonesia di bagian penggemukan.  Ke depan akan dibangun Rumah Potong Hewan (RPH) skala internasional di Indonesia, sehingga produknya dapat dipasarkan ke negara lain.

Indonesia-Australia sepakat bahwa ‘program awal’ yang akan didanai melalui paket bantuan, yaitu program pengembangan keterampilan yang diusulkan Kementerian Pertanian. Dalam program ini akan membantu meningkatkan keterampilan peserta dalam hal teknis, manajerial dan bisnis dalam berbagai bidang. “Begitu juga dalam produksi, pengolahan serta tata kelola yang terkait dengan produksi daging dan ternak sapi,” katanya.

Kursus Singkat

Program tersebut dinamai Short Course Under Indonesia-Australia Partnership on Food Security in The Red Meat and Cattle Sector. Kursus singkat ini sudah dilaksanakan dua kali selama tahun 2016. Ada sebanyak 65 profesional dan pakar ternak asal Indonesia yang dikirim ke Australia untuk belajar selama 6 minggu di Australia.

Peserta yang mengikuti kursus bidang produksi ternak sebanyak 30 orang. Produksi daging, pengolahan dan manajemen rantai pasokan 10 orang. Penyusunan kebijakan produksi peternakan dan rantai pasokan 15 orang. Pertukaran pengetahuan industri peternakan di Australia dan Indonesia sebanyak 10 orang.

Muladno berharap, dengan program kursus singkat ini, peserta bisa membantu pengembangan Sentra Peternakan Rakyat (SPR). Karena selama ini peternakan rakyat yang ada di Indonesia kurang berkembang. “Dengan berbagi ilmu dari Australia, saya harapkan mampu mengembangkan SPR di Indonesia. Jadi ke depannya, peserta yang dikirim ke Australia ini dapat menerapkannya di peternakan rakyat,” ujarnya.

Sementara itu Minister Consellor Agriculture Australian Embassy, Dean Merriles mengatakan, nilai program ini kurang lebih 60 juta dolar AS. Dalam program ini bukan sebatas saling tukar pengetahuan, tapi diharapkan dapat mendorong peluang investasi di bidang peternakan.

“Indonesia-Australia ini sudah menjalin kerjasama dalam bidang apapun selama 40 tahun karena kami memang bertetangga. Jadi dengan adanya program ini, diharapkan kerjasama kami akan terjalin semakin erat,” katanya.

Adapun Deputi Promosi Penanaman Modal dari Badan Koordinasi Penanaman Modal, Himawan H. Djojohadikusumo mengatakan, ke depan Indonesia-Australia Partnership on Food Security in The Red Meat and Cattle Sector akan mengembangkan investasi peternakan sapi di Indonesia dengan memanfaatkan lahan perkebunan sawit.  Selama ini yang menjadi kendala di Indonesia untuk pengembangan peternakan sapi bukan hanya lahan, tapi juga pakan.

Dengan memanfaatkan lahan perkebunan sawit yang hampir 10 juta ha, tentu saja menjadi peluang bagi peternakan sapi. Dari penerapan integrasi sapi-sawit ini akan menghasilkan sesuatu hal yang zero waste. “Inilah peluang yang sangat besar bagi para investor,” katanya. Cla/Yul

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018