Sunday, 14 June 2026


Hadapi MEA, Petani Masih Perlu Perlindungan

18 Dec 2014, 11:43 WIBEditor : Tiara Dianing Tyas

Tanpa terasa tak lebih dari setahun lagi, bangsa Indonesia memasuki era baru kerjasama negara-negara Asean dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (Asean Economic Community/AEC). Menghadapi pasar bebas tersebut, pemerintah masih harus tetap memberikan perlindungan kepada petani.

Seperti diketahui, pemimpin negara-negara Asia Tenggara telah meneken kontrak membentuk Asean Community. Dalam kerjasama Asean ada tiga pilar yakni Asean Political-Security Community (APSC), Asean Economic Community (AEC) dan Asean Social and Cultural Community (ASCC).

Pembentukan AEC menganut prinsip ekonomi yang terbuka, berorientasi ke luar, didorong oleh pasar, konsisten dengan aturan multilateral, serta berlandaskan aturan. Karena itu terbentuknya AEC, perdagangan antar negara-negara di Asia Tenggara akan lebih bebas ke luar masuk tanpa hambatan.

Dengan sisa waktu yang ada, AEC bisa menjadi peluang produk pertanian Indonesia mengisi pasar luar negeri. Tapi sebaliknya, jika produk pertanian dalam negeri tidak siap, bisa menjadi ancaman. Jadi, di satu sisi ada kesempatan terbuka memperluas perdagangan, investasi dan kesempatan kerja. Di sisi lain, pelaku ekonomi akan menghadapi persaingan yang lebih ketat dari luar negeri.

Sejauhmana kemampuan daya saing Indonesia? “Untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, para petani jangan dilepas begitu saja oleh pemerintah pusat. Petani harus tetap dibina dan dibantu baik manajemen maupun pemasarannya,” kata Bupati Tulungagung, Syahri Mulyo.

Menurut Syahri, kesiapan daerah dalam menghadapi MEA tidak lepas dari kebijakan dan regulasi yang pemerintah pusat buat. Sebagai antisipasi menghadapi persaingan dengan produk impor, kini sebagian petani di Kabupaten Tulungagung telah mengikuti tren menanam padi dan sayur organik.

Berbagai bantuan dari pemerintah kabupaten telah dilakukan untuk menghadapi MEA tersebut. Misalnya, bantuan sarana dan prasarana kepada petani, bahkan untuk ekspor. “Beberapa produk pertanian kita sudah ekspor, seperti bunga krisantium. Sayangnya masih melalui perantara atau pedagang. Kami sudah menganjurkan agar produsen yang tidak gagap teknologi supaya bisa memasarkan produk mereka melalui internet,” katanya.

Meski bakal menghadapi persaingan dengan produk impor, namun Syahri menegaskan, adanya MEA bisa membuka peluang besar bagi pembeli untuk turun langsung ke petani. Sebab, membeli langsung dari petani akan lebih murah dibandingkan dari pedagang. Petani juga berpotensi mendapatkan harga jual yang lebih tinggi.

Potensi unggulan lain dari Kabupaten Tulungagung lainnya adalah sapi perah. Dalam sehari, sapi perah bisa memproduksi sebanyak 100 liter susu. Hasil ternak tersebut didistribusikan ke beberapa wilayah di Jawa Timur seperti Pasuruan dan Malang, bahkan ke Sukabumi Jawa Barat.

Syahri menyatakan, di Kabupaten yang dipimpinnya sudah layak didirikan pabrik susu. Karena itu dia berharap, ada pihak, baik swasta maupun pemerintah mendirikan pabrik susu di wilayahnya tersebut.

“Harapan saya ke pemerintah pusat, selain tetap membina dan membantu pemasaran para petani, juga memastikan harga standar pembelian. Selama ini petani terombang-ambing oleh harga dari para tengkulak,” ungkapnya.   Tia/Yul

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018