Monday, 16 March 2026


Dari Limbah Jadi Uang

25 Jan 2016, 12:32 WIBEditor : Kontributor

Siapa bilang mainan anak harus dibeli dengan harga yang mahal? Dengan kreativitas dan imajinasi tinggi, mainan bisa diolah dari limbah pertanian. Tak hanya sekedar bermain, anak pun bisa diajak belajar mengenal pertanian.

Di lingkungan peternakan domba, bulu domba biasanya menjadi produk buangan akhir alias limbah. Produk tersebut cukup berbahaya. Jika sampai terurai di tanah, maka dapat menyebabkan pencemaran tanah karena kandungan keratin.

Bulu domba sebenarnya bisa diolah menjadi beragam kerajinan yang bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar peternakan. Seperti yang dilakukan alumni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Institut Pertanian Bogor, Tatang Gunawan. Ia berinovasi menciptakan boneka pajangan dan edukasi yang dikenal dengan nama Ecodoe.

“Pengambilan nama Eco berarti lingkungan, dan Doe berarti domba. Pengambilan nama disesuaikan karena ini berkaitan dengan lingkungan. Karena handcraft pertama yang kami buat itu karakter domba," kata Tatang.

Mengolah bulu domba untuk mainan maupun pajangan memang bukan hal yang baru lagi di Indonesia. Sebelumnya ada Sri Wahyuni dari PT. Swen Inovasi yang merintis pembuatan mainan ini.

Namun Ecodoe ini memiliki keunikan lain yakni menggunakan rangka boneka dari akar wangi yang memang sudah sering dibuat oleh pengrajin dari Garut. “Dengan mainan ini kita juga mengangkat nilai tambah dari kerajinan akar wangi,” tutur Tatang.

Tatang bercerita, akar wangi biasanya hanya dimanfaatkan untuk diambil minyaknya saja. Lalu diproses menjadi kosmetik, pelumas senjata, obat-obatan, dan lainnya. “Akar wangi yang masih segar itu enak sekali wanginya, khas dan tahan lama. Saya awalnya jualan souvenir akar wangi,” ungkapnya.

Empat tahun berselang, ia bertemu rekan yang kuliah di peternakan IPB untuk mengkombinasikan akar wangi dengan bulu domba. Tak seperti negara penghasil wol, seperti Australia dan Selandia Baru, bulu domba di Indonesia dianggap sebagai limbah.      

“Kami kemudian mengumpulkan bulu domba itu dan mengolahnya menjadi Ecodoe. Misi kami ingin menjadi brand green souvenir andalan Indonesia yang dikenal dan dipasarkan ke seluruh dunia,” katanya.

Karyanya juga telah dijual bebas, sehingga dapat dinikmati pengkoleksi pajangan di Indonesia. Berkat Ecodoe, setiap bulan Tatang dapat mengantongi omset hingga Rp 5 juta. "Saya menjual Ecodoe tipe West Java dengan harga Rp 60 ribu, tipe Superhero saya jual Rp 100 ribu dan Rp 150 ribu untuk karakter wisuda," tuturnya.

Awalnya, Ecodoe membuka toko offline perdana di Bogor.  Kini, mereka juga punya mitra gerai di SMESCO Jakarta dan Kaliunda Gallery di Bali yang menyasar para wisatawan lokal maupun mancanegara yang tengah berlibur di Pulau Dewata. “Kami juga ikut bermacam-macam kompetisi bisnis untuk tambah modal, hingga yang kemarin di Singapura. Intinya, masalah modal karena ketidaktahuan jaringan,” kata Tatang.

Ecodoe juga memberdayakan peternak di Wonosobo untuk mendapatkan bulu dari domba, ibu-ibu pengrajin akar wangi di Garut dan para pengemas di sekitar toko offline di Bogor. Souvenir yang mereka buat beragam, mulai dari bros kupu-kupu yang harganya Rp 12 ribu hingga yang termahal replika dari akar wangi dengan harga hingga Rp 150 ribu.

Bentuknya yang cantik dan baunya yang harum membuat souvenir ini sangat digemari. Kini pesanan tak hanya datang dari kota-kota besar di Indonesia, tapi juga dari Malaysia, Singapura, Filipina, Jepang, dan Italia.

Horta, Si Boneka Rumput

Sebelumnya IPB juga pernah menyajikan inovasi boneka edukasi pertanian yang dikenal dengan nama boneka Horta. Keberadaan boneka ini masih eksis dan sering digunakan sebagai media belajar pertanian hingga sekarang.

Alumni Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB, Gigin Mardiansyah yang terinspirasi ide dosennya menciptakan mainan edukasi untuk mengenalkan pertanian sejak dini. Bersama enam kawannya, ide itu lalu diaplikasikan menjadi sebuah boneka tanaman atau boneka rumput yang diberi nama Horta.

Boneka ini terbuat dari serbuk kayu (limbah industri penggergajian kayu), benih rumput, pupuk, lem dan bahan-bahan boneka yang lain seperti pita, mata, stocking dan lain-lain. Cara pembuatannya mudah, yaitu dengan memasukkan semua bahan utama ke dalam stocking. Lalu dibentuk sesuai yang diinginkan (seperti bentuk sapi, katak, macan dan lain sebagainya). Kemudian baru tahap penyelesaian dengan menempelkan aksesoris boneka dan dikemas menggunakan kain tile.

Perbedaan boneka horta dengan boneka lain ada pada rumput/tanaman yang biasa tumbuh di kepala/punggung jika boneka disiram dengan air. Tumbuhnya tanaman ini akhirnya menjadi media belajar anak mencintai tanaman, mengenalkan disiplin dan tanggungjawab. “Anak-anak akan diajak untuk menumbuhkan dan merawat rumput yang sudah tumbuh,” tutur Gigin.

Tak hanya menumbuhkan, rumput inipun bisa dikreasikan untuk dipotong menjadi bentuk rambut yang disukai. Boneka horta yang masih dalam kemasan baik, rumputnya masih bisa tumbuh dengan baik sebelum tiga bulan sejak pembuatan.

Dalam boneka tersebut ada petunjuk tanggal kadaluarsa boneka. Sedangkan rumput yang telah tumbuh pada boneka bisa bertahan antara 2-3 bulan. Hal ini karena media tumbuhnya terbatas hanya sebatas boneka. Pupuk/nutrisi yang terdapat pada boneka juga terbatas.

Pada tahun 2009, boneka tersebut juga sudah dipatenkan atas nama IPB dan secara hukum sudah dilegalkan dalam bentuk usaha CV. D’Create. Sampai kini Horta mempunyai diferensiasi produk, yaitu Boneka Horta Panda, Horta Kura-kura, Horta Platipus, Horta Sapi, dan sebagainya. Ke depan Horta sudah menyiapkan boneka dengan variasi bentuk buah-buahan.

Gigin bercerita, awal mula pemasaran mainan edukasi ini melalui pameran, bazaar hingga beberapa perlombaan kewirausahaan. Melalui perlombaan-perlombaan inilah produk boneka horta semakin dikenal luas. Produk ini memberikan daya tarik bagi masyarakat dan menjadi salah satu produk unggulan. 

Saat ini, usaha patungan Gigin ini telah memiliki distributor lebih dari 30 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun dia mengakui, masih memerlukan agen karena masih banyak masyarakat yang penasaran atau belum mengetahui boneka horta, kecuali hanya melihat di liputan media cetak ataupun elektronik.

“Kami juga menjalin kerjasama dengan vendor atau suplier dengan terus melakukan kontak, termasuk ketepatan waktu pembayaran barang-barang yang mereka beli dari suplier tersebut,” tuturnya.

Dalam memproduksi, Gigin mengatakan, pihaknya memperkerjakan sekitar 35 orang yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, remaja, dan bapak-bapak di Kampung Selahuni, Ciomas Rahayu, Kecamatan Ciomas. Namun 90% boneka masih diproduksi dan dipasarkan sesuai dengan pemesanan. Sisanya dijual dan didistribusikan ke toko, ritel, dan pusat-pusat perbelanjaan.

“Proses produksi memakan waktu sekitar satu minggu. Jika konsumen memesan hari ini, minggu depan Boneka Horta baru bisa diambil,” katanya. Boneka horta sering mendapatkan pesanan dari perusahaan-perusahaan besar yang ingin menggunakan produknya sebagai souvenir.  Beberapa perusahaan tersebut antara lain adalah Toyota, Frisian Flag, dan Bank Ekonomi. Gsh/Yul

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018