Sabtu, 24 Februari 2024


Swasta Terpikat Padi dan Jagung Litbang Pertanian

21 Jul 2014, 11:02 WIBEditor : Nuraini Ekasari sinaga

Tiga varietas unggul padi dan jagung hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian memikat perusahaan swasta untuk mengembangkan lebih lanjut. Tiga varietas tersebut yakni padi hibrida Hipa 18, jagung hibrida HJ 21 dan HJ 22 Agritan.

Pada acara Promosi Teknologi Padi dan Jagung Hibrida di Kediri, Jawa Timur, Kepala Balai Besar Padi, Made Jana Mejaya menyerahkan lisensi ketiga benih indukan tersebut kepada tiga calon lisensor yaitu PT. Petrokimia, PT. GIS (Golden Indonesia Seed) dan PT. Sriwijaya Internasional.

Hingga akhir 2013, lebih dari separuh teknologi yang dilisensi telah dikembangkan secara luas di masyarakat oleh perusahaan dan menghasilkan royalti sekitar Rp 1,4 miliar. Beberapa dari teknologi memang ada yang belum dikembangkan swasta yang melisensi karena masih tahap pengurusan ijin edar serta uji kelayakan lainnya. “Kami tidak pernah berhenti untuk terus menunjang kebutuhan varietas lokal unggul. Swasta tetap dilibatkan dalam upaya penangkaran benihnya,” ujar Made.

Ada beberapa keunggulan varietas yang lisensinya diberikan ke swasta. Padi hibrida Hipa 18 yang memiliki nomor galur H190 dan telah lulus sidang Pelepasan Varietas pada Juni 2013 mempunyai produktivitas 7,8 ton/ha dengan potensi hasil 10,3 ton/ha gabah kering giling.

Keunggulan lainnya, mampu beradaptasi pada lingkungan yang luas, jumlah gabah 144 butir/malai. Padi unggul tersebut juga tahan penyakit blas ras 073 dan 173, agak tahan WBC (Wereng Batang Coklat) biotipe 1, HDB (Hawar Daun Bakteri) patotipe IV dan VIII dan penyakit blas ras 133. Kelebihannya lagi tekstur nasinya pulen dan aromatik.

Sementara varietas jagung hibrida HJ 21 Agritan memiliki umur genjah masak fisiologi 82 hari sesudah tanam (HST) dengan potensi hasil 12,2 ton/ha dengan rerata hasil 11,4 ton/ha. Jagung tersebut mengandung karbohidrat sekitar 58,0%, protein 12,7% dan lemak 12,3%.

Untuk jagung hibrida HJ 22 Agritan memiliki umur genjah masak fisiologi 80 HST dengan potensi hasil 12,1 ton/ha dan rerata hasil 10,9 ton/ha. Kandungan karbohidratnya 52,3%, protein 13,9 dan lemak 10,4%. “Jagung berumur genjah tersebut berpeluang terhindar dari kekeringan, sehingga dapat mengurangi resiko kegagalan panen,” kata Made.

Made menjelaskan, selama ini tanaman jagung pada lahan tegalan sering mengalami kekeringan pada fase pengisian biji. Padahal dalam keadaan kekeringan, akan menurunkan hasil biji dan berat tongkol. Bahkan memperlambat waktu berbunga dan memperbesar interval berbunga (perbedaan antara antesis dan keluarnya rambut tongkol), memperpendek tanaman dan memperbesar tanaman yang mandul.

Sementara itu Wakil Komisaris GIS Kediri, Himawat Aryaditya mengatakan, hasil penelitian Balitbangtan mampu bersaing dengan produksi dari multi national company (MNC) yang selama ini mendominasi pasar benih jagung hibrida di Indonesia. Dengan keberhasilan mendapatkan varietas unggul tersebut mendorong PT. GIS bersama PT. Srijaya Internasional memperluas kerjasama dengan Balitbangtan, melalui pengembangan jagung hibrida HJ 21 Agritan dan jagung hibrida HJ 22 Agritan.

Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan PT. GIS memasarkan jagung hibrida Bima 3 Bantimurung di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Aceh, Sumatera Barat, NTB, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara. “Keberhasilan jagung hibrida Bima 3 Bantimurung, merupakan salah satu contoh dari sekitar 91 teknologi Balitbangtan yang telah dilisensi berbagai perusahaan dan koperasi di Indonesia selama tujuh tahun terakhir,” jelas Himawat. Echa

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018