Minggu, 20 Oktober 2019


Gregetnya Pemupukan Berimbang di Kepanjen Malang

08 Okt 2019, 12:09 WIBEditor : Gesha

Hasil pertanaman di lahan petani mendapatkan hasil yang menggembirakan dengan menggunakan pemupukan berimbang | Sumber Foto:FERLY

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --- Secara umum, panca usaha tani sudah dipahami dengan baik oleh petani di Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang yang menjadi wilayah binaan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kepanjen. Namun, sama seperti di wilayah lainnya, penggunaan pupuk berimbang oleh petani masih belum dipahami dengan baik.

Karena itu, BPP Kepanjen membuat demplot di lahan salah satu penyuluh swadaya setempat yaitu M. Rifai dan didampingi oleh Rini Ilham M. Dalam demplot tersebut diperkenalkan teknis pemupukan berimbang dan dampak yang bisa dirasakan oleh petani.

"Pemupukan seimbang adalah cara pemupukan yang di dasari atas kebutuhan tanaman padi akan unsur makro dan mikro sesuai dengan kebutuhan tanaman. Yang dimaksud unsur makro adalah unsur yang di butuhkan oleh tanaman dengan jumlah yang relatif besar seperti N, P, K, dan unsur mikro adalah unsur yang dibutuhkan tanaman yang relatif sedikit contohnya Fn, Br dan lain sebagainya," tutur Rini.

Lebih lanjut Rini menuturkan dampak dari pemupukan berimbang adalah dapat memperoleh hasil yang maksimal dengan biaya produsi yang minim dan dengan pemupukan berimbang petani dapat memperbaiki struktur tanah yang ada. Dosis yang di tetapkan adalah (5 : 3 : 2 ) dimana 500 kg pupuk organik : 300 kg Phonska : 200 kg urea tiap satuan hektar (ha).

Adapun cara mengaplikasinya adalah dengan dosis 500 kg organik : 300 kg phonska : 200 kg urea per satuan hektar (ha). Dimana dapat mengaplikasikan 3 kali. aplikasi pertama adalah pupuk dasar. pupuk dasar adalah pupuk yang dibenamkan disaat setelah proses pengolahan lahan (sebelum tanam dengan cara ketika lahan sedang di balik (singkal) ditaburkan merata 500kg  organik ke lahan seluas 1 hektar.

"Kemudian garu / pengancuran tanah. Pemupukan yang kedua ketika tanaman berumur 14 hst  (hari setelah tanam) dengan dosis 300  kg phoska : 150 kg urea, dan aplikasi yang ke 3  50 kg urea ketika tanaman mendekati fase bunting (generatif)," tambahnya.

 

 

 

Reporter : Ferly Tambunan/Lely
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018