Thursday, 06 August 2020


Dengan Serasi, Kalsel Siap Jadi Penyangga Pangan Ibukota Baru

16 Oct 2019, 14:10 WIBEditor : Yulianto

alsintan untuk mendukung program SERASI di Kalsel | Sumber Foto:Ayi K

Untuk mempercepat pengolahan lahan agar bisa selesai pada tahap awal, Dinas TPH Kalsel telah mengerahkan mengerahkan alat dan mesin pertanian

TABLOIDSINARTANI.COM, Banjarbaru--- Kalimantan Selatan mulai tahun 2019 mengatur manajemen pertanian menyambut ibukota negara baru  di Kalimantan Timur. Dengan program Serasi (Selamatkan Rawa, Rakyat Sejahtera), Kalimantan Selatan siap menjadi penyangga pangan Ibukota negara yang baru.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman  optimistis dengan bergulirnya program Serasi yang dimulai pada Masa Tanam Musim Hujan (Oktober 2019-Maret 2020) pada areal 250 ribu ha bisa meningkatkan produksi padi dari 2,15 juta ton menjadi 4 juta ton  pada tahun 2020 .

“Sasaran tersebut akan bisa dicapai karena sarana dan prasarana pendukung tahun 2019 bisa selesai, khususnya pembuatan saluran buatan persediaan air di musim kemarau,” katanya saat syukuran panen Budidaya Tanaman Sehat (BTS) di Desa Hamayung kecamatan Daha Utara kabupaten Hulu Sungai Selatan, beberapa waktu lalu.

Selain itu ungkap Syamsir, lahan tidur yang sebelumnya kuang maksimal dimanfaatkan sudah mulai dibuka dengan program Luas Tambah Tanam (LTT). Program tersebut menjadi pendongkrak percepatan tanam di lahan yang tidak memungkinkan, sehingga bisa diberdayakan dalam waktu singkat.

Sebagai daerah penyangga pangan ibukota baru, Kalsel juga memproduksi pangan organik seluas 30 ribu ha  samai tahun 2020 dan akan terus ditambah luasannya,” tuturnya.

Untuk mempercepat pengolahan lahan agar bisa selesai pada tahap awal, Syamsir mengatakan, pihaknya telah mengerahkan mengerahkan alat dan mesin pertanian. Bahkan juga mengusulkan lagi tambahan 50 unit excavator dan 284 unit traktor roda empat ke Kementerian Pertanian. “Alat berat yang masih kurang perlu ditambah agar tanam Ok-mar  dapat terealisasi,” katanya.

Untuk kelancaran operasional di lapangan, Dinas TPH juga melatih calon operator  seperti operator combine harvester (mesin pemanen) secara bertahap. Tahap pertama untuk pemula telah melatih 80 calon operator dari Kabupaten Tapin dan Hulu Sungai Tengah selama 3 hari.

Syamsir mengakui, meskipun di beberapa daerah program Serasi ada keterlambatan karena kekurangan alat berat seperti exavator. Namun petani bersama penyuluh dan perangkat lain yang terlibat seperti TNI terus bergerak berpacu dengan waktu, mengingat pengolahan lahan harus tuntas Oktober 2019.

Dalam Program Serasi di Kalimantan Selatan, kawasan rawa yang potensial  dapat ditanami dua kali setahun dengan dua jenis varietas yakni unggul dan lokal. Diharapkan Indek Pertanaman (IP) naik dari 100 ke 200, bahkan IP 300 termasuk untuk budidaya hortikultura. Beberapa kawasan lahan rawa yang potensial yakni Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu  Sungai Utara (HSU), Balangan dan Tabalong.

Lahan rawa lebak paling luas berada di kabupaten Tapin, HSS dan HSU yang mencapai ratusan ribu hektar, sehingga  akan terus diberdayakan dengan dua pola yakni modernisasi teknologi mekanik dan pola kearifan lokal,” tutur Syamsir.

Reporter : Ayi K/TABLOID SINAR TANI
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018