Senin, 18 November 2019


Di Lahan Tadah Hujan, Supandi Bisa Panen Padi Empat Kali Setahun

18 Okt 2019, 17:26 WIBEditor : Ahmad Soim

Supandi (Berkaos hitam dan topi hitam) | Sumber Foto:Kontributor

TABLOIDSINARTANI.COM, Sragen - Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi meninjau lahan sawah di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Jumat (18/10). Hasilnya, ditemukan petani lahan tadah hujan yang bisa tanam padi empat kali setahun, yakni Supandi di Dusun Mlale, Desa Mlale, kecamatan Jenar.

Suwandi menyebutkan di lahan tadah hujan seluas sekitar 1 hektar, petani di sana bisa tanam dan panen empat kali dalam setahun berkat fasilitasi sumur submersible dan pompa air. Ia memperhitungkan bahwa di lahan milik Supandi tersebut dengan panen empat kali setahun penerimaan bersih bisa mencapai Rp 120 juta.

"Jadi jika dikalkulasi sebulannya petani bisa dapat penghasilan Rp 10 juta perhektar. Ini perlu dicontoh dan menjadi model petani di Indonesia, dengan memanfaatkan tanam setelah dipanen, hasilnya menggembirakan bukan?," demikian ujar Suwandi, Jumat (18/10/2019).

Untuk kedepannya, Suwandi menekankan perlunya menerapkan pertanian terpadu, di samping padi juga ada komoditas lain seperti sayuran, ikan lele, ternak dengan memanfaatkan air tersebut. Kembangkan juga zerowaste, efisiensi input dengan membuat pupuk organik dan pestisida hayati sendiri.

"Manfaatkan air sehemat mungkin. Jangan sampai air dari sumur hanya sekali langsung untuk padi, tapi agar diputar dulu untuk beberapa usahatani lainnya," terangnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sragen Eka R. Mumpuni mengatakan ada 28.000 titik pompa air. Jumlah ini sangat mencukupi untuk menjamin produksi padi.

"Jadi bisa selalu dipakai optimalkan luas tambah tanam padi, terutama di musim kemarau seperti saat ini," beber Eka.

Sementara itu, Supandi menyebutkan komponen biaya usahatani padinya tersebut yakni investasi awalnya mulai pembuatan sumur dan pembelian pompa air dua inchi.
Biaya untuk pembuatan sumur dan beli pompa ini Rp 4,5 juta, kemudian ada juga komponen biaya lainnya.

"Ada biaya listrik pompa, saprodi, olah lahan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, pemupukan dan panen. Kalau ditotal ya kira-kira perlu biaya Rp. 15 juta per hektar per musim tanam," ujar Supandi kepada Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi.

"Dengan harga gabah Rp 5 ribu per kg dan produktivitas 9 ton per hektar, hitungannya penerimaan bisa mencapai Rp 45 juta," tambahnya.

Dalam kunjungan kerja tersebut dilakukan pertemuan dan memberikan arahan kepada Ketua Gapoktan/Poktan dan penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pembangunan pertanian di Kecamatan Jenar.

Selanjutnya kunjungan lapangannya ke petani di daerah sentra jagung tumpangsari di areal Perhutani yang saat ini sudah olah tanah dan persiapan tanam, lahan dan benih sudah siap, sembari menunggu turun hujan.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018