Sabtu, 24 Februari 2024


Lahan Pertanian Kritis Bahan Organik

06 Agu 2014, 09:53 WIBEditor : Julianto

Ada yang sangat memprihatinkan melihat kondisi lahan kering, khususnya di Pulau Jawa. Dari hasil penelitian Badan Litbang, Kementerian Pertanian, ternyata hampir 60% lahan kering di Pulau Jawa memiliki kandungan bahan organik di bawah 1% alias dalam kondisi kritis.

“Padahal tanaman, khususnya tanaman berakar dangkal, seperti sayuran memerlukan kandungan bahan organik lebih dari 2%,” kata Kepala Badan Litbang Pertanian, Haryono di sela-sela Seminar Pertanian Organik di Bogor, beberapa waktu lalu.

Dengan kondisi yang ada pada lahan kritis tersebut menurut Haryono, mutlak diperlukan asupan bahan organik pada lahan-lahan kritis di Pulau Jawa. Karena itu dia menilai, hal tersebut tidak bisa dibiarkan dan harus segera diambil tindakan untuk mengembalikan bahan-bahan organik ke dalam tanah. “Salah satunya diaplikasikan dalam kegiatan pertanian organik,” ujarnya.

Karena itu lanjut Haryono, pihaknya berniat melakukan pemetaan kembali lahan yang tercemar. Diharapkan, dalam waktu dua tahun akan ada peta baru lahan pertanian, terutama yang rusak akibat penggunaan bahan kimia.

Dia menilai, kritisnya lahan-lahan yang berada di Pulau Jawa, tidak lepas dari Green Revolution pada era sebelumnya. Saat itu lahan-lahan pertanian dieksploitasi besar-besaran untuk mengejar produktivitas tanaman pangan, khususnya padi. Dampaknya, petani banyak menggunakan bahan kimia yang mencemari lingkungan.

“Banyak lahan-lahan yang rusak dan kritis karena kandungan pestisida yang tinggi. Bukan hanya terjadi di Indonesia, beberapa negara juga mengalami hal yang sama,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Abdul Madjid mengatakan, saat ini hampir 65%  lahan pertanian memiliki kandungan organik tanah rendah  atau di bawah 2%. Sedangkan 29%  lahan memiliki kandungan organik tanah sedang (2-3%) dan hanya 6%   lahan memiliki kandungan  organik tanah tinggi di atas 3%.

Penyebab menurut Madjid, karena  tingkat pelapukan dan pencucian intensif akibat curah hujan dan suhu  tinggi.  Dinamika penggunaan lahan dan kesalahan pengelolaan lahan, tidak mengembalikan bahan organik juga ikut membuat lahan menjadi kritis.

Pestisida Tak Terkendali

Penggunaan pestisida yang hampir tidak terkendali memang menjadi satu penyebab lahan pertanian kian kritis. Petani menurut Haryono, banyak yang tidak mengikuti dosis sesuai anjuran dalam takaran, penggunaan alat aplikasi yang tak sesuai standar.  

Selain itu, frekuensi aplikasi yang meningkat dan cara aplikasi yang membahayakan kesehatan dan keselamatan pengguna. Lebih parahnya lagi, petani kadang mencampurkan beberapa jenis pestisida untuk membunuh hama penyakit. “Semua itu akhirnya berdampak terhadap pencemaran lingkungan dan kesehatan,” katanya.

Bahkan ungkap dia, hasil penelitian Balai Penelitian Lingkungan Pertanian di beberapa sentra pertanian yang menggunakan pestisida berlebihan menemukan residu pestisida dalam darah petani, sayuran, padi, perairan, termasuk air minum. Meski sudah ada regulasi, upaya pemerintah agar petani tidak berlebihan menggunakan pestisida ternyata belum optimal. “Hasil survey, banyak masyarakat atau petani yang tidak disiplin. Ada pestisida yang sudah dilarang, tapi masih banyak petani gunakan,” katanya mengkhawatirkan.

Madjid mengungkapkan, untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia, pemerintah akan memberikan kemudahan proses pendaftaran pestisida biologi. Misalnya, tidak mempersyaratkan uji toksisitas oral dermal. Sampai April 2014 sudah terdaftar 77 merk pestisida alami.

Untuk pestisida kimia, menurut dia, pemerintah akan menambah persyaratan pendaftaran untuk pestisida kimia. Di antaranya, mempersyaratkan pengujian efikasi dilaksanakan dua lokasi, baik untuk insektisida dan herbisida. Adapun untuk fungisida, dilakukan pengujian selama dua musim yang berbeda untuk masing-masing organisme sasaran.

Untuk pendaftaran formulasi pestisida berbahan aktif majemuk bidang penggunaan pengelolaan tanaman, harus ada hasil pengujian antagonis. Pestisida berbahan aktif sama didaftarkan dan diberi izin paling banyak tiga formulasi atas nama satu pemohon pendaftaran. Yul

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018