
Benih kacang hijau Vima 1
Doni Wibisono, dari Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) juga mengakui, peluang pengembangan kacang hijau terbuka. Dalam tiga tahun terakhir inovasi dari industri makanan dan minuman (pangan olahan) berbahan baku kacang hijau cukup banyak.
Jika sebelumnya, produk pangan olahan kemasan berbahan baku kacang hijau sebatas minuman sari kacang hijau, maka kini sudah ada minuman susu kacang hijau dan sereal kacang hijau. Belum lagi produk makanan bayi dan ibu hamil yang menggunakan kacang hijau. Ada juga makanan untuk orang yang berkebutuhan khusus. “Tahun depan bakal ada merek brand baru kacang hijau instan yang hanya dengan memanaskan di microwave bisa langsung dikonsumsi,” katanya.
Menurut Doni, kacang hijau ke depan menjadi pangan fungsional. Banyak manfaat untuk kesehatan, berkhasiat obat tradisional seperti mencegah penyakit beri-beri, memperlancar buang air kecil dan menghaluskan kulit wajah. “Dengan berbagai khasiat memegang pernanan penting dalam pencegahan penyakit, maka kacang hijau termasuk komoditas fungsional,” ujarnya.
Doni melihat dengan perkembangan industri berbahan baku kacang hijau cukup besar, tapi produksi di dalam negeri belum bisa mencukupi, sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut masih harus dipasok dari impor. Data BPS menyebutkan dengan produksi kacang hijau tahun 2019 sebesar 234.718 ton, Indonesia mengekspor sekitar 32.269 ton dang mengimpor sebanyak 90.317 ton. Sedangkan konsumsi dalam negeri mencapai 233.497 ton.
Sedangkan dilihat dari nilai impor kacang hijau Indonesia mencapai 89,77 juta dollar AS pada tahun 2018 dan tahun 2019 hingga September mencapai 34,1 juta dollar AS. Myanmar menjadi negara penyumbang paling tinggi yang mengekspor kacang hijau ke Indonesia dengan nilainya mencapai 20,29 juta dollar AS.
Meski Indonesia masih mengimpor kacang hijau, namun menurut Doni, Indonesia juga mampu mengekspor dengan 30 juta dollar AS pada tahun 2018. Negara tujuan paling tinggi adalh Filipina dan Vietnam. Tahun ini hingga September nilai ekspornya sebesar 26 juta dollar AS dengan negara tujuan Cina Filipina dan Taiwan. “Kalau kita lihat neraca perdagangan, kacang hijau masih defisit dalam dua tahun terakhir,” katanya.
Dengan potensi perdagangan seperti itu Doni menilai, peluang pengembangan kacang hijau di dalam negeri cukup besar. Apalagi ke depan kebutuhan industri bukan hanya dalam bentuk kacang hijau mentah, tapi juga tepung kacang hijau.
“Bagi kalangan industri makanan dan minuman olahan belum tentu mereka memiliki sendiri mesin pengolahan untuk membuat tepun. Jadi kemungkinan akan ada peluang usaha untuk membuat tepung kacang hijau. Jadi yang belum ada sekarang adalah produk antaranya,” tuturnya.