Sabtu, 24 Februari 2024


Percepatan Tanam Kedelai

07 Agu 2014, 14:46 WIBEditor : Tiara Dianing Tyas

Kedelai menjadi komoditi yang sering bergejolak. Karena itu berbagai upaya dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mendongkrak produksi bahan baku tahu dan tempe ini. Salah satunya bekerjasama juga dengan TNI melakukan percepatan tanam saat musim kemarau.

“Kementan bersama TNI berkerjasama untuk melakukan percepatan tanam kedelai. Kita lakukan percepatan, begitu selesai memanen padi kemudian ditanam kedelai,” kata Menteri Pertanian Suswono saat tanam kedelai dan panen raya padi, TNI bersama rakyat di Nganjuk, Jawa Timur (Jatim). Kegiatan itu juga dihadiri Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Budiman, Pangdam V Brawijaya, Mayjend TNI, Eko Wiratmoko, serta Bupati Nganjuk, Taufiqurrahman.

Suswono mengatakan, pihaknya akan memanfaatkan musim kemarau yang mengarah ke El-Nino dengan menanam palawija, terutama kedelai. Sebab jika petani menanam padi, maka akan terkendala air. “Untuk daerah irigasi yang sumber airnya masih banyak tentu tidak akan masalah, tapi daerah yang tadah hujan akan mengkhawatirkan. Termasuk daerah irigasi yang airnya terbatas,” ujarnya.

Karena itu, Suswono menyarankan untuk menanam palawija, termasuk kedelai. Apalagi impor kedelai Indonesia masih terhitung tinggi. Dengan percepatan tanam yang dilakukan Kementan dengan TNI paling tidak akan mengurangi volume impor.

Menurut Suswono, saat musim kemarau, tanaman kedelai menjadi salah satu pilihan. Apalagi kini harga kedelai relatif lebih baik dibandingkan sebelumnya. Dengan harga kedelai yang naik di pasar diharapkan mampu merubah pandangan petani. Kini banyak petani yang bergairah menanam kedelai. Terutama daerah-daerah yang cocok dengan kedelai varietas-varietas tertentu.

“Masa panen sekitar tiga bulanan ke depan. Tentu saja akan kita manfaatkan secara optimal daerah-daerah yang sekarang sudah panen padi untuk segera ditanam. Jangan sampai ada waktu jeda untuk tidak memanfaatkan lahan itu. Ini kesempatan yang baik, mengantisipasi kalau benar-benar terjadi El-Nino  yang katanya mengarah ke moderat,” tuturnya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian sekaligus Plt. Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Haryono menambahkan, varietas kedelai yang toleran terhadap kekeringan adalah Dering, Gema, Wilis, Argomolyo dan yang tahan masam yaitu Tanggamus dan Demas. Sedangkan varietas kedelai yang tahan kering umur genjah adalah Detam 3 dan Detam 4. Untuk yang tahan masam yakni Seulawah dan Ratai.

“Selain percepatan tanaman kedelai, Kementan juga menargetkan perluasan areal tanam kedelai nasional mencapai 340 ribu hektar dengan cakupan 115 kabupaten dan 15 provinsi,” katanya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, produksi kedelai pada 2009 masih sebanyak 975 ribu ton, tapi dalam tiga tahun selanjutnya (2010-2012) terus menurun masing-masing menjadi 907 ribu ton, 851 ribu ton dan 783 ribu ton. Kondisi tersebut membuat pasokan kedelai sangat tergantung pada impor. Dari total kebutuhan kedelai sekitar 2,5 juta ton, ternyata yang dipasok dari impor mencapai 1,7 juta ton. Padahal kebutuhan untuk industri tahu dan tempe sebanyak 1,83 juta ton.

Sementara produksi kedelai tahun 2013 sebesar 779.990 ton biji kering atau mengalami penurunan sebesar 63.160 ton (7,49%) dibandingkan tahun 2012. Namun produksi kedelai tahun 2014 (ARAM I) diperkirakan sebesar 892,60 ribu ton biji kering atau naik sebanyak 112.610 ton (14,44%) dibandingkan tahun 2013. Peningkatan produksi kedelai diperkirakan terjadi karena kenaikan luas panen seluas 50.440 ha (9,16%) dan produktivitas sebesar 0,69 ku/ha (4,87%).  Tia/Yul

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018