Jumat, 06 Desember 2019


Desa Jejangkit Muara, Bersolek dari Rawa menjadi Hamparan Padi

18 Nov 2019, 16:09 WIBEditor : Yulianto

Panen hasil pertanaman di lahan rawa Jejangkit mulai dilakukan | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

Kini dengan teknologi yang dikembangkan mulai netralisir air dengan membuat kanal sistem pompanisasi, Desa Jejangkit Muara menjelma menjadi lahan pertanian

TABLOIDSINARTANI.COM, Barito Kuala---Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan  yang semula adalah semak belukar dan lahan rawa  kini berubah menjadi areal persawahan dengan hamparan cukup luas dan berpotensi menjadi lumbung pangan.

Awal pengembangan lahan rawa di Desa Jejangkit Muara dimulia tahun 2017. Kemudian saat perhelatan Hari Pangan Seunia (HPS) ke-38 tahun 2018 menjadi lokasi gelar teknologi. Kini setelah hampir dua tahun berjalan, perubahan besar telah terjadi.

Padahal sebelumnya lahan dengan keasaman tanah di bawah pH 4 sulit dijadikan lahan pertanian, khususnya tanaman padi. Kini dengan teknologi yang dikembangkan  mulai netralisir air dengan membuat kanal sistem pompanisasi, Desa Jejangkit Muara menjelma menjadi lahan pertanian.

Dari luas lahan rawa yang ditargetkan dibuka di desa tersebut sekitar 700-an hektar (ha), selama 2 tahun terealisasi sekitar 250 ha dan yang sudah ditanami padi seluas 100 ha. Pola pengembangan lahan rawa dengan model koorporasi petani dengan pendampingn semua komponen praktisi pertanian.

Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian, Husnain mengatakan, dari hasil panen padi di lahan rawa dengan menggunakan varietas inhibrida padi rawa (Inpara) mencapai rata-rata 6,4-7,9  ton Gabah Kering Panen (GKP)/ha. Varietas tersebut tahan genangan air saat masa generatif  sampai  dua pekan.

“Sebelum diterapkan pola modern, hasil pertanian padi sawah dengan varietas yang sudah beradaptasi puluhan tahun silam dan pola kearifan lokal hanya mencapai antara 2-3 ton/ha, tergantung pada alam,” kata Husnain.

Dem Area atau demontrasi kawasan pertanian di Jejangkit Muara menjadi daya tarik bagi petani. Sebab di kawasan tersebut dikembangkan, bukan hanya kegiatan petanian padi saja, tapi juga pertanian hortikultura, peternakan dan perikanan.

Tarik Minat Petani

Sementara itu Dirjen Prasarana dan Sarana  Pertanian (PSP), Kementerian Pertanian,  Sarwo Edhy mengatakan, kawasan Jejangkit akan terus dikembangkan dan dilengkapi dengan parasarana mekanik teknologi. Diharapkan ketertarikan petani membangun lahan rawa semakin besar.

Bahkan Kementerian Pertanian juga akan melengkapi  alsintan yang cocok untuk daerah persawahan Serasi. Diantaranya, penyalurah benih unggul, pupuk, obat-obatan dan mesin pengolah lahan jenis motor yang efektif di lahan rawa. Bahkan alat tersebut digerakan dengan remot control dan drond raksasa untuk tanam sistem tabur benih dan pemupukan dari udara. “Ini mengingat kawasan Serasi di Kalimantan Selatan sangat luas dan harus tanam serentak,” katanya.

Data Kementerian Pertanian, program Serasi di Kalimantan Selatan  yang diproyeksikan seluas 250 ribu ha, pada tahun 2019 baru terealisasi berdasarkan Rencana Depinitif Kebutuhan Kelompok (RDKK)  sekitar 120 ribu ha.

Program ini akan terus dilanjutkan mengingat Kalimantan Selatan akan menjadi penyangga pangan ibukota baru Indonesia yang berdekatan dengan Penajam dan Kutau Kartanegara Kalimantan Timur. Karena itu Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dis-TPH) Kalimantan Selatan,  Syamsir Rahman  menegaskan, pihaknya berkomitmen menjadi Kalimantan Selatan menjadi salah satu daerah penyangga pangan nasional bersaing dengan daerah lain dalam kelompok 10 besar.

Menurutnya, dari 120 ribu ha program Serasi yang terluas di Kabupaten Barito Kuala (60 ribu ha), menyusul Kabupaten Banjar (25 ribu ha) dan Tanah Laut (17 ribu ha). Daerah lainnya adalah Kabupaten Tapin Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Balangan, Tabalong dan Hulu Sungai Utara. Diharapkan akan terus berlanjut sesuai target yang direncanakan 250 ribu ha.

Dengan terwujudnya optimalisasi lahan rawa di Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman  meminta dukungan penuh dan pembinaan  dari Kementan, terutama masalah teknologi tepat guna di lahan rawa,  sehingga dapat menggugah minat petani agar menjadi petani profesional.

Syamsir mengatakan, program Serasi menjadi harapan baru dibidang ekonomi pertanian. Apalagi tanaman padi sudah ada yang bisa ditanami 2 kali, bahkan 3 kali tanam. “Paling tidak dengan pola IP 100 ke IP 200 atau IP 300, seperti padi jagung dan palawija, khususnya di Barito Kuala, kesejahteraan petani akan makin meningkat,” tuturnya. 

Reporter : Ayi Kuswana
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018