Thursday, 13 August 2020


Padi Lebih Bernilai dari Emas

08 Dec 2019, 06:11 WIBEditor : Ahmad Soim

Sawah padi emas di Vietnam | Sumber Foto:pixabay.com

Pangan lebih dari sekedar komoditas yang diperjualbelikan di pasar. Kita harus melihatnya dari sudut pandang yang lebih mendasar lagi.

  

Agus Pakpahan - Profesor Riset Bidang Ekonomi Pertanian; Ketua Umum PERHEPI 2000-2003; Dirjen Perkebunan,  Kementerian Pertanian 1998-2003; Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan dan Penerbitan, Kementerian BUMN 2005-2010; Ketua Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik 2010-2018

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Padi lebih bernilai dari emas. Ungkapan ini tidak berlebihan karena memang kalau kita tidak punya emas, tetapi masih ada cukup makanan, kita masih hidup dan masih bisa mengembangkan diri sebagai manusia yang berguna.

 

Tetapi kalau kita silau dengan emas, tidaklah heran juga karena kita sebagai manusia biasa memiliki nilai estetika yang menyatu dalam emas itu. Selain itu, budaya manusia juga sudah mewariskan bahwa emas sebagai logam mulia yang harganya menarik, merupakan tempat menyimpan kekayaan dan sebagai alat tukar dalam niaga atau keuangan. Namun demikian, nilai estetika dan nilai menyimpan kekayaan dari emas itu lebih bersifat instrumental dibandingkan dengan nilai pangan, yang sifatnya intrinsik, dalam pengertian menentukan hidup-matinya kita sebagai makhluk hidup. 

 

Harga suatu komoditas tidak sama dengan nilai yang dikandung dalam komoditas tersebut. Harga hanyalah cerminan nilai tukar, sebagai resultante dari bekerjanya mekanisme penawaran-permintaan, baik melalui mekanisme pasar maupun mekanisme lainnya. Berbagai macam faktor melatarbelakangi mekanisme permintaan-penawaran tersebut. Oleh karena itu, nilai tukar tidak selalu mencerminkan nilai kehidupan yang sifatnya lebih hakiki, misalnya hidup dan sehatnya manusia itu sendiri.

 

Dengan alasan itulah kita harus melihat pangan lebih dari sekedar komoditas yang diperjualbelikan di pasar. Kita harus melihatnya dari sudut pandang yang lebih mendasar lagi.

 

Nilai kehidupan adalah tidak terhingga. Adapun manusia diberikan akal-budi untuk bisa membuat pilihan keputusan dalam rangka mendapatkan manfaat dari kehidupannya itu. Tidak mampunya manusia memenuhi kebutuhan pokok hidupnya seperti pangan, merupakan manifestasi kesalahan dalam menempatkan prioritas pilihan dan keputusannya untuk mengejar prioritasnya itu. Kalau hal ini diterapkan pada bangsa dan negara, maka hal tersebut di atas menunjukkan bahwa akal-budi kita belum menempatkan persoalan pangan dalam keputusan riil yang menempati urutan prioritas.

 

Mari kita ambil padi sebagai ilustrasi. Kesadaran kita belum berkembang untuk melihat potensi padi ini secara lebih komprehensif dan mendalam. Leluhur kita telah mewariskan padi sebagai sumber pangan utama, yang bukan hanya merupakan bagian integral budaya pangan kita, melainkan pula memiliki dampak yang menyeluruh terhadap berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sayangnya, kita belum berhasil melanjutkan warisan budaya ini ke tahapan selanjutnya, yaitu memanfaatkan segala jenis potensi yang dapat dibangkitkan dari ekosistem sawah dengan kultur budaya industri yang berbasis pada pertanian padi.

 

Untuk kebutuhan energi, misalnya, kita lebih suka menambang batubara. Padahal, dalam padi terdapat sekam padi yang ketersediaannya sudah sangat memadai. Dengan volume panen 55 juta ton per tahun, ini setara dengan 12.1 juta ton sekam. Dari jumlah sekam ini, potensi listrik yang dapat dibangkitkan lebih dari 8 GWh. Jumlah ini akan terus meningkat mengingat produksi padi akan terus meningkat sejalan dengan perkembangan kebutuhan pangan dan kemajuan teknologi. 

 

Selanjutnya, dari 12.1 juta ton sekam, akan tersedia 2.4 juta ton abu sekam. Leluhur kita telah mewariskan manfaat abu ini untuk berbagai macam kebutuhan. Tetapi, proses selanjutnya tidak berkembang pesat. Abu ini masih tersimpan sebagai abu atau hanya dimanfaatkan secara terbatas. Dalam pustaka kita dapat memperoleh pengetahuan bahwa potensi abu sekam ini sangat besar. Abu sekam dapat dimanfaatkan untuk pabrik baja, bahan semen, bahan bangunan, industri semikonduktor, dan berbagai jenis pemanfaatan lainnya. 

 

Setiap satu persen peningkatan Energy Development Index (EDI), dalam jangka panjang akan memberikan kontribusi peningkatan yang hampir sama dalam Human Development Index (HDI).  Padi dapat memberikan sumber energi tersebut. Selanjutnya, padi juga meninggalkan ”barang tambang” berupa abu sekam yang dapat dimanfaatkan untuk menghidupkan industri-industri di perdesaan. Belum lagi hasil derivasi padi lainnya yang nilai pasarnya sangat berharga, misalnya, bekatul (rice bran). Kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan akan meningkat nyata, dan demikian pula dengan kapasitas untuk menjaga dan memelihara lingkungan hidup kita. 

 

Ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berkembang sangat jauh, demikian juga dengan perkembangan dunia industrinya. Dalam bidang budidaya padi, kita sudah melihat bagaimana perkembangan kemajuan yang luar biasa. Produktivitas padi hibrida misalnya, sudah menjanjikan hasil yang sangat tinggi dibandingkan dengan hasil pemuliaan pada tahun 1980-an. Di sisi industri hilirnya kita masih jauh tertinggal. Hal ini merupakan potensi yang sangat besar untuk meningkatkan kapasitas transformasi ekonomi perdesaan yang harus mampu menjawab tantangan-tantangan besar Indonesia pada era 50 tahun mendatang. 

 

Untuk bisa dan kuat memanfaatkan itu semua, kita harus bisa dan kuat menciptakan institusi ekonomi baru, yang mampu mensinergikan seluruh pihak, termasuk dunia perbankan dan lembaga keuangan lainnya, sebagai basis sumber investasi di bidang ini. Institusi ekonomi yang baru ini harus mampu mensinergikan dinamika dan kekuatan petani padi bersama dunia usaha, baik badan usaha milik swasta maupun badan usaha milik negara. 

 

Padi lebih bernilai dari emas apabila kita bisa menciptakan institusi ekonomi yang mampu meningkatkan daya inovasi untuk bisa dan kuat memanfaatkan semua sumber yang menyatu dalam tubuh padi yang dihasilkan di areal-areal sawah warisan leluhur kita. Kita harus fokus dan bersatu menggalang semangat dan praktek gotong royong untuk mengejar ketertinggalan kita ini.

 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018