Thursday, 01 October 2020


KTNA: Perubahan Iklim masih Jadi Ancaman di Tahun 2020

09 Jan 2020, 12:02 WIBEditor : Yulianto

Babinsa membantu petani tanam padi | Sumber Foto:Dok. Sinta

Pembenahan paling fundamental adalah dalam mengatasi perubahan iklim. Misalnya, di tingkat hulu pemerintah harus menyiapkan benih unggul yang tahan terhadap kekeringan maupun banjir

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Setelah didera kemarau panjang, hujan mulai turun mengguyur sentra pertanian di Indonesia sejak awal tahun 2020. Petani pun beranjak turun ke sawah. Namun demikian, di tahun perubahan iklim masih menjadi ancaman dalam upaya meningkatkan produksi pangan.

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan andalan (KTNA), Winarno Tohir, kepada Sinar Tani, di Jakarta, belum lama ini.  mengatakan, meski usaha pertanian (khususnya padi, red) cukup prospektif, namun ada beberapa hal yang harus dilakukan pembenahan.

Pembenahan paling fundamental adalah dalam mengatasi perubahan iklim. Misalnya, di tingkat hulu pemerintah harus menyiapkan benih unggul yang tahan terhadap kekeringan maupun banjir. Langkah selanjutnya adalah pemanfaatan teknologi pertanian dengan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk efisiensi dalam olah lahan hingga panen. “Yang tak kalah penting adalah pemanfaatan bioteknologi dalam pengembangan sektor pertanian,” ujarnya.

Winarno mencontohkan, Etiopia yang sebelumnya adalah negara miskin dan rawan pangan, saat ini sudah menjadi negara adidaya pangan dunia urutan ke-12. Karena negara tersebut telah memanfaatkan teknologi pertanian. Selain memanfaatkan mesin pertanian untuk olah tanah hingga panen,  Etiopia juga memanfaatkan bioteknologi dan benih unggul dalam mengembangkan pertanian.

Menurut Winarno, bioteknologi dan benih unggul (tahan kekeringan) sangat diperlukan ke depannya. Sebab,  disadari atau tidak, fenomena climata change yang diakibatkan El Nino  perlu dukungan pertanian modern dan benih unggul yang tahan kekeringan.

Melalui Kostrani, Winarno berharap, penyuluh mampu mendorong petani (kelompok tani) untuk memanfaatkan benih tahan kekeringan. Namun demikian ia mengingatkan   Kementan melalui Kostratani yang ada di kecamatan perlu melakukan rekayasa sosial ke petani.

“Caranya,  pola pikir petani harus diubah dari yang sebelumnya tanam padi dengan penggenangan menjadi sistem “macek-macek”, sehingga tak perlu air yang melimpah. Nah, dengan irigasi yang terbatas tersebut, petani masih mampu dan memungkinkan untuk tanam padi,“ tutur Winarno.

 

 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018