Tuesday, 18 February 2020


Kementan Targetkan Produksi Padi Naik 7 Persen

13 Jan 2020, 19:05 WIBEditor : Yulianto

Mentan SYL disela-sela rapat kerja Ditjen Tanaman Pangan di Depok | Sumber Foto:Julian

Dengan pentingnya pertanian tersebut, Syahrul meminta kepada pemerintah daerah, terutama Dinas Pertanian untuk bersama-sama mengurus pertanian.

TABLOIDSINARTANI.COM, Depok-- Kementerian Pertanian menargetkan peningkatan produksi padi sebesar 7 persen pertahun. Di sisi lain, kehilangan hasil panen diturunkan dari 12 persen menjadi 5 persen.

"Peningkatan produksi minimal 7 persen pertahun menjadi bagian penting yang harus kita capai," kata Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo di sela-sela  RAPAT KERJA NASIONAL DITJEN TANAMAN PANGAN di Depok, Senin (13/1).

Untuk bisa mencapai target tersebut, Syahrul meminta, pimpinan daerah, terutama Dinas Pertanian untuk menemukan cara agar produksi bisa naik 7 persen dari sekarang. "Cari caranya. Kalian lebih tahu dan pintar dari saya," pinta Syahrul kepada dinas pertanian yang hadir.

Hal lain agar produksi padi bisa mencapai target, Syahrul juga mengingatkan agar kehilangan hasil (losses) usai panen diturunkan dari 12 persen menjadi 5 persen. Salah satu caranya adalah pemerintah mencanangkan Komando Startegi Pembangunan Penggilingan Padi (Konstraling). "Untuk menurunkan losses, ujung-ujungnya di RMU (rice milling unit) yang baik," ujarnya.

Karena itu menghadapi musim panen yang pada Januari ini sudah ada beberapa daerah yang mulai panen, Syahrul menghimbau agar perusahaan penggilingan padi membantu mengamankan harga gabah petani. Apalagi panen akan terus berlanjut, pada Februari sekitar 30-40 persen, Maret bertambah menjadi 50-60 persen dan April diperkirakan menjadi puncak panen.

"Kalau kita bisa mengamankan produksi dan menurunkan losses, diharapkan bukan hanya stok nasional akan aman, tapi juga kita bisa ekspor. Kita ingin ekspor tahun ini sebanyak 100 ribu ton," tuturnya.

2 Alasan Pertanian Penting

Pada kesempatan tersebut, Syahrul menyebut setidaknya ada dua alasan mengapa pertanian sangat penting. Pertama, pertanian merupakan sumber lapangan kerja jutaan penduduk Indonesia. Kedua, pertanian sudah menjadi bagian hidup bangsa Indonesia. "Kita tidak boleh main-main dalam kelola pertanian, karena menyangkut 264 juta penduduk Indonesia. Jadi sangat penting kita kelola pertanian," pesan Syahrul kepada Dinas Pertanian.

Karena itu, Syahrul menegaskan, jika ada Gubernur atau Bupati yang tidak memperhatikan pertanian, maka mereka telah mengabaikan lapangan kerja. Padahal lapangan kerja yang pasti ada di pertanian. "Semua itu ada di tanganmu. Kalau kamu mau angkat gengsi rakyat dan perbaikan ekonomi daerah, kontribusi terbesar ada di pertanian. Begitu juga kalau kamu mau menyelesaikan kemiskinan, solusinya itu memperbaiki pertanian," tegasnya.

Alasan kedua mengapa pertanian penting adalah penduduk dan rakyat Indonesia sudah terbiasa dengan pertanian. Saat ini tinggal bagaimana kita menyisati dan perkuat pertanian. "Negara kita tropis, matahari terbit 2 jam,air mengalir banyak. Jadi potensi daerah besar, ada gunung, bukit dan dataran rendah yang semuanya bisa ditanami," ujarnya.

Dengan pentingnya pertanian tersebut, Syahrul meminta kepada pemerintah daerah, terutama Dinas Pertanian untuk bersama-sama mengurus pertanian. Bahkan mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu juga meminta untuk menyampaikan langsung segala persoalan yang ada di daerah kepada dirinya. "Tapi ingat, saya tidak suka orang bohong, dan korupsi. Jadi sampaikan yang benar," tegasnya.

Namun demikian, Syahrul juga meminta Dinas Pertanian untuk lebih mendorong dan mengajarkan petani cara memecahkan masalah sendiri. Jadi jangan setiap saat pemerintah yang membantu memecahkan persoalan di daerah. "Kalau semua tergantung pemerintah, pembangunan pertanian tidak akan bisa akselerasi dengan cepat," ujarnya.

Untuk itu, Syahrul mengatakan, paradigma pembangunan pertanian harus berubah. Jika selama ini peran pemerintah pusat yang besar, sedangkan peran pelaku usaha (petani dan pengusaha) relatif kecil, maka ke depan justru tugas pemerintah lebih kecil, tapi peran petani dan pengusaha lebih besar.

Misalnya soal bantuan alsintan, Syahrul menegaskan, berapa banyak yang harus pemerintah bagikan ke petani dan sampai kapan dibagikan terus. Padahal jika alsintan yang pemerintah berikan itu sedikit saja rusak, sudah langsung tidak terpakai, karena petani tidak bisa memperbaiki.

"Pemerintah nanti membantu dalam intervensi. Ujung-ujungnya, rakyat harus lebih maju, mandiri dan modern. Kita harus menemukan harapan rakyat, cari solusi permasalahan petani," tegasnya.

Salah satu bentuk intervensi pemerintah adalan dengan memberikan kemudahan modal untuk petani dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pemerintah kini sudah menurunkan suku bunga KUR dari 12 persen menjadi 6 persen. "Kalau nanti sudah ada tanda tangan gubernur atau bupati, bank wajib menyalurkan. Kalau petani terus kita bantu sampai kapan. Dengan KUR, petani bisa mendapatkan modal usaha tani, bahkan membeli alsintan," ujarnya.

Bentuk intervensi pemerintah lainnya menurut Syahrul adalah adanya asuransi pertanian. Dengan asuransi petani bisa mendapatkan pengganti jika tanamannya terkena bencana alam seperti banjir atau kekeringan. Dalam program itu, pemerintah memberikan subsidi premi.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018