Tuesday, 22 September 2020


Efektif Memangsa Tikus, Kenalan Yuk dengan Tyto Alba

22 Jan 2020, 16:42 WIBEditor : Gesha

Tyto Alba, sang predator unggul untuk hama tikus | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Tikus merupakan salah satu hama sering menyerang area pertanaman padi. Berbagai cara dilakukan sebagai bentuk antisipasi penyebaran hama tikus yang semakin meluas dan dapat menurunkan tingkat produksi padi. Salah satunya memeranginya dengan burung predator pemangsa tikus yaitu Tyto Alba atau lebih dikenal dengan Burung Hantu Putih.

Tyto Alba atau yang disebut Serak Jawa merupakan burung berkemampuan Iuar biasa dalam berburu tikus. Dalam semalam saja, satu ekor burung Tyto Alba bisa memangsa 3-5 ekor tikus, dan setiap harinya jika dirata-rata mencapai 10 ekor tikus yang dapat dibunuh.

Kemampuan jelajahnya tergolong cukup jauh, dengan kawasan berburu mencapai 12 km. Memiliki jarak pendengaran 500 m untuk menangkap mangsanya. Sepasang burung hantu putih ini mampu melindungi sekitar 25 hektar tanaman padi.

Burung Tyto alba termasuk spesies yang mudah berkembang biak, asalkan disediakan tempat nyaman dan dipenuhi kebutuhan pakan alaminya. Pada umumnya burung hantu bertempat tinggal pada gedung atau pohon besar yang tinggi, yang memiliki lubang atau ruangan yang tertutup.

Minimnya pohon besar di tengah sawah mencetuskan upaya untuk membuat rumah burung hantu di tengah sawah. Penempatan rumah burung hantu idealnya adalah satu dalam setiap hektar sawah.

Salah satu kelompok tani (poktan) yang telah memanfaatkan burung hantu sebagai predator alami bagi hama tikus di hamparan sawah adalah Poktan Karya Usaha I di Kelurahan Mulyosari, Kecamatan Metro Barat. Beberapa anggota kelompok tani telah membuat rumah burung hantu di areal sawahnya.

Seringkali Petani di poktan mengalami kerugian akibat serangan hama tikus yang menyebabkan menurunnya produktivitas tanaman padi. Kerugian yang disebabkan oleh serangan hama tikus bisa mencapai 40-60%. Berbagai cara telah dilakukan oleh para petani baik secara mekanis yaitu dengan cara gropyokan ataupun dengan cara kimiawi dengan menggunakan racun tikus (Rodentisida).

Tetapi belum menghasilkan hasil yang memuaskan karena tikus merupakan binatang yang sangat aktif dan cerdik. Habitat hidup tikus yang tidak menetap karena selalu bermigrasi juga menyebabkan kesulitan bagi petani dalam melakukan pengendaliannya.

Tidak serempaknya petani dalam melakukan penanaman dan panen menyebabkan ketersediaan pangan bagi tikus yang tidak terputus. Karena itu Poktan Karya Usaha I di Kelurahan Mulyosari, Kecamatan Metro Barat mencoba melakukan pengendalian hama tikus secara Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan memanfaatkan musuh alami tikus yaitu Tyto Alba atau burung hantu putih.

Petani tidak melepaskan burung hantu di sawah, mereka hanya menempatkan beberapa rumah burung hantu di tengah sawah. Di Kelurahan Mulyosari masih cukup banyak burung hantu yang hidup bebas di alam sehingga petani cukup menyediakan rumah burung hantu agar bisa menetap di sekitar areal sawah. Beberapa rumah yang dibuat ternyata sudah didiami burung hantu. Hal ini terlihat dari banyaknya kotoran burung di sekitar sarang dan sisa-sisa makanan berupa tikus.

Ukuran rumah burung hantu biasanya dibuat dengan panjang 60 cm lebar 40 cm dan tinggi 50 cm. Pada sisi luar diberikan teras atau tempat untuk bertengger selebar 20 cm. Pintu dibuat dengan ukuran 12cm untuk panjang dan 10 cm untuk lebarnya. Rumah burung hantu diletakkan di atas tiang yang terbuat dari kayu atau beton dengan tinggi 3,5 sampai dengan 4 meter dari permukaan tanah.

Pengendalian tikus secara PHT dengan menempatkan rumah burung hantu di areal sawah ternyata dirasakan lebih efektif oleh beberapa petani di Poktan Karya Usaha I Kelurahan Mulyosari, Kecamatan Metro Barat. Bila sebelumnya petani hanya mampu mendapatkan panen padi dengan produktivitas 2, 6 ton /ha karena serangan tikus, tetapi dengan memanfaatkan burung hantu dalam pengendaliannya produktivitas padi yang didapat rata-rata mencapai 6,5 ton/ha.

Petani mulai sadar bahwa pengendalian ham tikus secara PHT dengan memanfaatkan predator alami dalam hal ini burung hantu memberikan beberapa keuntungan. Pemanfaatan burung hantu dalam pengendalian hama tikus mampu menekan biaya produksi untuk pembelian racun dan juga dapat menjaga keseimbangan ekosistem.    

Reporter : Aluwisius Samidi/Tia
Sumber : Penyuluh Pertanian Kota Metro
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018