Tuesday, 22 September 2020


Kementan Kembangkan Diversifikasi Pangan dengan Sorgum

24 Jan 2020, 16:01 WIBEditor : Gesha

Aneka olahan dari Sorgum | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Untuk menekan laju permintaan pasar terhadap beras, Kementerian Pertanian terus menggalakkan program diversifikasi pangan. Program tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras yang menjadi bahan pangan pokok utama. Salah satunya dengan mengembangkan sorgum di kawasan Indonesia Timur.

Seperti yang diungkapkan Kepala Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal), Muhammad Azrai orgum berpotensi untuk mendukung program diversifikasi pangan karena sorgum dapat diolah secara sederhana sama seperti umbi-umbian, jagung dan sagu.

“Biji sorgum dapat diolah menjadi bahan setengah jadi (intermediate product) dalam bentuk sosoh dan tepung, selanjutnya sorgum sosoh diolah menjadi nasi sorgum, bubur sorgum dan sejenisnya, dan bahan tepung dapat mensubstitusi terigu untuk berbagai olahan (cookies, cake, mie, roti) tergantung formula substitusi dan fisikokimianya,” ujar Azrai.

Senada, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Haris Syahbuddin di tempat terpisah menyampaikan bahwa sorgum sangat layak dikembangkan menjadi bahan pangan pengganti beras karena sorgum memiliki nilai tambah sebagai bahan pangan.  “Sorgum mengandung mineral khususnya unsur Fe yang cukup memadai yaitu 4-5,5 mg/100g, mineral yang terkandung dapat mengatasi stunting (terhambat pertumbuhan & perkembangannya) pada anak usia tumbuh," bebernya.

Selain kandungan Fe di dalam sorgum, Balitsereal fokus mengeksplorasi kandungan fungsional sorgum lainnya seperti polyphenol, asam fitat, aktivitas antioksidan beberapa varietas sorgum (VUB) khusus untuk pangan. Ekplorasi tersebut mulai dari bahan setengah jadi dalam bentuk butiran sosoh, tepung sampai aneka produk akhir siap konsumsi.

Dengan kandungan fungsional yang dimiliki sorgum serta potensi pengembangan sorgum di Indonesia yang masih sangat besar, khususnya pada daerah tadah hujan atau lahan kering dengan tingkat curah hujan yang terbatas, maka komoditas ini sangat menjanjikan dalam upaya akselerasi diversifikasi pangan bagi masyarakat Indonesia.

Reporter : Uje/RTPH/Balitsereal
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018