Wednesday, 26 February 2020


Pastikan Ketersediaan Pangan, BKP Ikat Integritas Bersama Daerah

28 Jan 2020, 13:03 WIBEditor : Gesha

Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi saat menandatangi pakta integritas bersama Dinas Ketahanan Pangan seluruh Indonesia | Sumber Foto:NATTASYA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Demi keberlanjutan dan ketersediaan pangan dari tingkat daerah hingga cadangan nasional, Badan Ketahanan Pangan (BKP) mengikat diri dengan Dinas Ketahanan Pangan seluruh Indonesia dalam bentuk pakta integritas.

"Kita akan mengentaskan daerah rawan pangan, memperkuat cadangan pangan baik cadangan pangan pemerintah, cadangan pangan daerah bahkan cadangan pangan masyarakat. Kita juga akan fokus mengembangkan industri pangan lokal kita. Itu yang kita tandatangan tadi bersama Dinas Ketahanan Pangan seluruh Indonesia tadi," beber Kepala BKP, Agung Hendriadi dalam Rapat Kerja Nasional  Pembangunan Ketahanan Pangan Nasional Tahun 2020, di Bogor, Selasa (28/1).

Mengapa harus diikat dalam bentuk pakta integritas?Agung menjelaskan bahwa yang mengetahui kondisi pangan di daerah ada Dinas Ketahanan Pangan setempat. "Saya menaruh perhatian besar pada kepala dinas pangan provinsi dan kabupaten. Karena yang tahu kondisi pangan di daerah ya mereka, tahu persis bawang merah dan aneka pangan lainnya. Ada berapa dimana saja, ya mereka," tegasnya.

Lebih lanjut Agung menjelaskan bahwa saat ini Indonesua memang tengah mengejar ekspor komoditas pertanian. Namun disaat bersamaan, pemenuhan kebutuhan pangan bagi masyarakat tetap harus dipenuhi. 

"Berkali-kali Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan 267 juta masyarakat Indonesia tidak boleh kelaparan. Tolong kabupaten masing-masing dilihat, kondisi pangan dan masyarakat disana seperti apa di lapangan. Apa saja program-program yang harus dipersiapkan, tidak boleh ada satupun yang kelaparan," tukasnya.

Tak hanya ketersediaan, keterjangkauan harga juga menjadi faktor masyarakat mampu memperoleh pangan. "Kendalikan pasokan kendalikan harga. Papua tolong perhatikan ini, harga disana sangat sensitif," pintanya.

Ketersediaan Stabil 

Agung sendiri menyebutkan sepanjang tahun 2019, kondisi pasokan dan harga pangan terpantau aman dan stabil. "Kondisi hingga Imlek kemarin juga stabil. Namun jangan lengah karena bulan Ramadhan dan Idul Fitri semakin dekat. Ini harus kita hitung betul oleh daerah sebagai daerah sentra," tuturnya.

Stabilnya pasokan dan harga pangan menurut Agung, tidak terlepas dari pengendalian yang dilakukan dengan berbagai cara dan bekerjasama degan Kementerian Perdagangan, Bulog, Satgas Pangan dan lainnya.

Ketersediaan pangan pokok strategis seperti beras, jagung, bawang daging, telur, gula, dan minyak goreng mengalami surplus. Stok beras akhir November 2019 sebesar 4,7 juta ton sangat mencukupi bahkan hingga Maret 2020 mendatang.

"Hingga akhir Januari cadangan beras di pemerintah pusat ada 2 juta ton. Belum lagi cadangan yang masih ada di pusat penggilingan, belum lagi yang ada di pedagang, pemerintah daerah dan masyarakat. Jika ditotal bisa lebih dari 2 juta ton," tuturnya.

Agung justru menyoroti ketersediaan jagung yang kian menipis. Apalagi jika hingga pertengahan Februari, belum ada sentra jagung yang panen maka dikhawatirkan akan terjadi kekurangan (shortage) jagung. 

"Cadangan jagung pemerintah minim. Umumnya ada di swasta yaitu Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT). Seharusnya di mereka ada 1,2 juta ton, kondisi sekarang kurang dari 1 juta ton. Karenanya, panen jagung ini diharapkan di Minggu pertama dan Minggu kedua di Februari," bebernya. 

Lebih lanjut Agung menuturkan hingga akhir Januari ini ada gambaran panen 100 ribu hektar di Minggu pertama Februari dan 100 ribu hektar di Minggu kedua Februari. "(Panen) Di seluruh Indonesia. Khususnya di Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kalau gambaran tersebut sesuai dengan panen yang sebenarnya, kekhawatiran shortage akan jagung tidak perlu lagi," tutupnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018