Wednesday, 26 February 2020


Cuaca Ekstrim, Produksi Padi 2019 Turun 7,76 Persen

04 Feb 2020, 17:03 WIBEditor : Clara

Petani sedang menggiling padi | Sumber Foto:Agustin

Cuaca ekstrim menyebabkan berbagai bencana alam yang menghambat panen

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Di tahun 2018, luas panen padi mencapai 11,38 juta hektar dan di tahun 2019 mengalami penurunan 700, 05 ribu hektar. Menurut Kepala Badan Pusat Statistik, Suhariyanto penurunan ini akibat di tahun 2019 terjadi anomali iklim, di mana musim kemarau pada tahun tersebut sangat panjang. “Jadi di tahun 2019 luas panen padi mengalami penurunan 6,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ungkapnya saat Rilis Luas Lahan Baku Sawah Nasional 2019 dan Produksi Padi 2019 serta Soft Launching Agriculture War Room di Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (4/2).

Menurut Suhariyanto, kondisi di tahun 2019 memang kurang menguntungkan bagi pertanian. Cuaca ekstrim menyebabkan berbagai bencana alam yang menghambat panen. “Awal Januari sampai dengan Februari terdapat curah hujan yang kuat dan bahkan di beberapa daerah terjadi banjir. Kemudian di pertengahan tahun 2019 (Juli-Desember) terjadi kemarau panjang, sehingga terjadi kekeringan yang luar biasa,” ujarnya.

Dengan turunnya luas panen padi, tentu berimbas ke produksinya. Berdasarkan data yang diambil dengam menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA), total produksi padi di tahun 2019 sekitar 54,60 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Ini mengalami penurunan 4,60 juta ton (7,76 persen) dibandingkan tahun 2018.

Suhariyanto menjelaskan produksi padi tertinggi di tahun 2019, terjadi pada bulan Maret, yakni sebesar 9,17 juta ton. Terendah terjadi pada bulan Desember, yakni sebesar 1,70 juta ton. “Kenaikan ini terjadi di Kalimantan Barat, Yogyakarta, dan Kalimantan Selatan. Sedangkan penurunan terjadi di Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan,” tambah Suhariyanto.

Apabila dikonversikan ke beras, produksi padi di tahun 2019 sebesar 31,31 juta ton beras. Terjadi penurunan sebesar 2,63 juta ton dibandingkan tahun 2018 (33,94 juta ton beras). Suhariyanto mengatakan dengan penurunan ini tidak terlalu berimbas ke harga. Kenaikan harga beras di tahun 2019 hanya 0,85 persen saja. “Dapat dikatakan harga masih terkendali, sehingga tidak berpengaruh terhadap inflasi karena persentasenya sangatlah kecil,” ungkapnya.

Metode KSA

Data yang didapat ini dilakukan dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA). Dari metode ini menggunakan 24.196 sampel segmen lahan berbentuk bujur sangkar berukuran 300x300 meter (9 hektar) dengan lokasi yang tetap.

Dalam setiap periode tertentu, diamati secara visual di 9 titik dengan menggunakan smartphone berbasis android. Dari situ dapat dilihat persiapan lahan, fase vegetative, fase generative, fase panen, lahan pusi, lahan sawah bukan padi atau lahan bukan sawah. Ini difoto kemudian dikirmkan ke server pusat untuk diolah. “Dengan pengamatan sebulan sekali ini dapat diperkirakan potensi produksi beras untuk 3 bulan ke depan, sehingga dapat dijadikan basis perencanaan tata kelola beras yang lebih baik,” jelas Suhariyanto.

Walaupun penggunaan KSA ini cukup tepat dan cepat, tetap saja masalah data pertanian terutama areal lahan baku sawah harus selalu diperbaharui secara berkala. Sehingga kedepannya kita (pemerintah) dapat langsung membuat kebijakan yang sesuai, sehingga produksi naik dan distibusinya berjalan lancar. “Saya menyarankan pembaharuan data luas lahan baku sawah ini sebaiknya dilakukan setiap 3 tahun sekali. Itu yang paling idealnya,” pungkas Suhariyanto.

Reporter : Agustin
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018