Saturday, 04 July 2020


Inilah 7 Komoditas Unggulan Pertanian Padang Pariaman

11 Feb 2020, 16:53 WIBEditor : Indarto

Komoditas unggulan pertanian di Padang Pariaman terus dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat | Sumber Foto:Dok. Indarto

Kelapa dalam apabila dijual harganya Rp 2.000-Rp 3.000/butir. Umumnya, butiran kelapa ini dijual ke Pekanbaru dan Jambi, rata-rata 10 ribu butir/hari.

TABLOIDSINARTANI.COM, Padang----Kabupaten Padang Pariaman sangat terkenal dengan pantainya yang indah. Kabupaten Padang Pariaman yang pada 20-25 Juni 2020 menjadi lokasi Pekan Nasional (Penas) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVI ternyata memiliki sejumlah komoditas pertanian dan perkebunan yang patut dibanggakan. Paling tidak ada tujuh komoditas unggulan pertanian di Padang Pariaman.

Ketujuh komoditas unggulan pertanian tersebut menurut Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Padang Pariaman, Yurisman Yakub, sampai saat ini sudah didaftarkan ke Kementerian Pertanian (Kementan). “Ketujuh komoditas itu banyak dikembangkan masyarakat dan menjadi sumber pendapatan mereka,” ujar Yurisman, di Padang, Selasa (11/2).

Tujuh komoditas unggulan itu antara lain: Pertama, padi putiah Padang Pariaman Anai (Papanai). Padi Papanai ini produktivitasnya mencapai 6-8 ton/ha. “ Padi yang banyak dikembangkan masyarakat Padang Pariaman tersebut kurun 110-115 hari siap panen,” kata Yurisman.

Kedua, kelapa dalam. Komoditas ini tersebar di 40 ribu ha lahan. Rata-rata tiap ha ada sekitar 700 batang. Kelapa dalam umumnya dipanen petani 2-3 kali/bulan (15-30 butir per batang), atau sekitar 820 butir/batang/tahun.

Menurut Yurisman, kelapa dalam apabila dijual harganya Rp 2.000-Rp 3.000/butir. Umumnya, butiran kelapa ini dijual ke Pekanbaru dan Jambi, rata-rata 10 ribu butir/hari. Selain dijual secara gelondongan, kelapa dalam tersebut juga dijadikan kopra, diolah menjadi virgin coconut oil (VCO), kelapa asap cair, sabun kecantikan dan sejumlah olahan lainnya yang punya nilai ekonomi tinggi.

Komoditas ketiga adalah pinang wangi. Keistimewaan pinang wangi Padang Pariaman, buahnya lebih besar dibanding pinang biasanya. Pinang wangi ini kalau dijual di pasar harganya Rp 13 ribu-Rp 15 ribu/kg. Umumnyam pinang wangi tersebut banyak dimanfaatkan industri untuk bahan cat, pewarna dan kosmetik.

Komoditas keempat adalah jambu biji merah, yang areal tanamnya  di lahan seluas  40-50 ha. Selain dijual gelondongan Rp 10 ribu/kg, jambu biji merah ini juga diolah menjadi jus, kripik, dan aneka olahan khas lainnya bernilai ekonomi tinggi.

“ Kami juga membuat lahan pembibitan dan penangkarannya,” ujarnya.

Kelima adalah  durian khas Padang Pariaman (Durian Talantam), di Kecamatan Kayu Tanam. Durian ini rasanya khas. Durian ini banyak ditanam masyarakat di sekitar halaman dan kebunnya.  “Juni nanti durian tersebut mulai panen. Jadi, silakan mencoba mencicipinya,” ujarnya.

Keenam adalah,  durian kunyit, yang juga khas Padang Pariaman. Durian ini juga banyak ditanam dan  dikembangkan masyarakat Padang Pariaman.

Sedangkan ketujuh adalah, kakao. Kecamatan V Koto Kampung Dalam merupakan kawasan sentra kakao  di Padang Pariaman.  Kakao ini juga tersebar di sejumlah kecamatan di Padang Pariaman dengan luas kawasan produksi 12.000 ha. Dan yang produktif 5.642 ha.  Harganya Rp 11.500 /kg.

Yurisman juga mengatakan , pihaknya saat ini juga mengembangkan budidaya cabai merah keriting. Cabai keriting tersebut dikembangkan di Lubuk Alung seluas  75 ha. Sedangkan yangada di  Sei Geringging seluas 46  ha.

Menurut Yurisman, ketujuh komoditas unggulan tersebut merupakan inovasi untuk meningkatkan perekonomian petani di Padang Pariaman. “ Diantara keunggulan tersebut dapat dilihat dari biji atau buah yang dihasilkan lebih banyak dan tahan hama. Seperti durian dagingnya lebih tebal dan rasanya lebih enak,” pungkasnya.

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018