Monday, 21 September 2020


Biaya Usaha Tani di Indonesia Masih Tinggi, Ini Saran Prof. Bustanul Arifin

02 Mar 2020, 12:45 WIBEditor : Yulianto

Prof. Bustanul Arifin (tengah) | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk di Asia Tenggara, ternyata biaya produksi usaha tani padi Indonesia termasuk tinggi. Bahkan dengan Vietnam lebih tinggi 2,5 kalinya.

Dengan kondisi itu, daya saing pertanian Indonesia menjadi lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga tersebut. Bagaimana mengatasinya? Ini saran Guru Besar Universitas Lampung yang juga Dewan Komisaris INDEF, Prof. Bustanul Arifin.

“Dengan komponen biaya usaha tani yang tinggi, tidak mungkin kita tidak presisi dan mekanisasi. Apalagi, petani makin berkurang. Jika kita mengandalkan petani tradisional tidak mungkin,” tutur Bustanul saat Diskusi PPSN (Pusat Pengkajian Strategis Nasional) di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Jika melihat rincian ongkos produksi usaha tani padi di Indonesia, ungkap Bustanul, upah tenaga kerja (buruh lepas) cukup mahal mencapai Rp 1.115 per kg padi. Nilai ini jauh dibandingkan negara lain seperti Thailand yang hanya Rp 172, Vietnam Rp 120/kg padi. Hanya Filipina yang cukup besar, tapi tetap masih jauh di bawah Indonesia yakni sebesar Rp 978/padi.

Begitu juga untuk sewa lahan di Indonesia cukup mahal mencapai Rp 1.719/kg padi. Thailand dan Vietnam masing-masing hanya Rp 481 dan Rp 387/kg padi. Dengan biaya produksi tersebut, total ongkos produksi kita paling mahal mencapai 4.079/kg, sedangkan Thailand hanya Rp 2.291/kg dan Vietanam sebara Rp 1.679/kg.

Tingginya biaya produksi tersebut juga tercermin dengan kondisi harga gabah. Untuk gabah kering panen (GKP) data per Januari 2020 rata-rata sebesar Rp 5.273/kg dan gabah kering giling (GKG) Rp 5.798/kg. Sementara harga beras, untuk jenis premium Rp 10.033/kg, medium Rp 9.905/kg dan luar kualitas Rp 9.519/kg.

“Kalau kita ingin ekspor beras, kita harus bersaing dengan mereka (negara lain,red) yang biaya produksinya jauh lebih murah,” kata Bustanul yang kini juga diamanahkan menjadi Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi).

 

Teknologi canggih

Bagaimana agar bisa bersaing dengan negara lain? Bustanul mengatakan, pertanian Indonesia harus mulai masuk menggunakan teknologi baru dan canggih, terintegrasi dalam suatu sistem. Selain itu, meningkatkan kemampuan petani dan stakeholders lain dalam rantai nilai pertanian dari lahan ke konsumen (hulu ke hilir), sehingga meningkatkan produksi-distribusi pangan dan produk agroindustri lainnya.

Mengapa harus masuk ke pertanian 4.0?” tegas Bustanul. Dengan pertanian 4.0 menurutnya, pertanian Indonesia akan lebih produktif, konsisten, efisien waktu dan sumberdaya.

Selain itu, Bustanul menganggap, pertanian 4.0 juga menguntungkan bagi petani dan stakeholders lain. Bahkan memudahkan berbagai institusi saling bertukar informasi menggapai peluang dan kesempatan mewujudkan sistem produksi pangan dan pertanian yang lebih berkelanjutan.  “kalau dengan teknologi modern anak anak muda akan tertarik terjun ke sawah,” ujarnya.

Ruang lingkup pertanian 4.0 ungkap Bustanul dalam bentuk pertanian presisi yakni aplikasi drone, robotic, artificial intelligent secara masih di bidang pertanian. Selain itu, dalam bentuk pertanian cerdas Smart Agroindustry. Misalnya, pengujian mutu produk, tanpa harus merusak produk. Juga dalam bentuk sistem Agro-Logistik Digital dan sistem E-Commerce Cerdas.

Bagaimana startegi pertanian 4.0? Baca halaman selanjutnya

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018